Dengarkan Artikel
Oleh Ansariah S.Pd
Guru SDN 3 Bandar Baru, Pidie Jaya, Aceh
Langit itu tak seindah yang aku lihat, jingga jadi buram. Seolah olah mengerti apa yang sedang terjadi. Aku yang sedang duduk di bawah pohon dengan tatapan kosong. tangan memegang hp sambil melihat foto persahabatan ketika masih kuliah. Foto lama yang sudah terhapus di hati ,namun di foto tersebut ada aku yang tertawa, saat masih teras indah dan dunia tak sekejam ini.
📚 Artikel Terkait
Sudah puluhan tahun kami menjalin persahabatan yang kiranya tak kan putus oleh keadaan, namun pengkhianatan memutuskan persahabatan tanpa memikirkan keindahan. Hanya waktu berubah dan orang orang berubah begitu cepat. Dulunya persahabatan yang penuh rasa cinta ,penuh kasih sayang,saling berbagi dan kolaborasi, tapi sekarang nafsi nafsi, tak mau peduli, seperti kebut hilang tanpa arah.
Dudukku di bawah pohon, angin pun mengimbaskan jelbabku, lalu aku menarik nafas panjang dan berdiri. Mungkin semua yang baik tidak harus bersama dan tak semua luka harus disembuhkan, walaupun hati tergores, tetap kujalani untuk berjalan. Jalan kenangan yang pernah kami lewati bersama, sia saia begitu saja.
Namun masih bergetar di antara hembusan nafas, menyusup di dalam hati. Datang tanpa aba aba, pergi tanpa pamit meninggal jejak sakit di hati. Kutersenyum di depan mereka, tertawa seolah olah tak terjadi apa apa. Luka yang butuh perban, namun tak bisa dijahit, karena paling dalam. Menjalin persahabatan itu butuh pengorbanan, bukan butuh omongan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






