Dengarkan Artikel
Yang Terhormat Bapak Presiden,
Dengan penuh hormat dan harapan, kami menulis surat ini dari Aceh—tanah yang Bapak kenal sebagai Serambi Mekkah, tanah yang telah dua kali mempercayakan suara kepada Bapak, dan kini menanti keadilan dari pemimpin yang kami yakini masih memegang teguh janji dan nurani.
Bapak Presiden, kami ingin menyampaikan kegelisahan yang mendalam atas penangkapan dua anak Aceh: Mirza dan Zainal. Mereka adalah ASN Kementerian Agama, aktivis sosial, dan relawan fanatik Gerakan Akar Rumput Dukung Prabowo (Gardu) di Banda Aceh. Mereka bukan sekadar pendukung politik. Mereka adalah pejuang ideologis yang percaya bahwa Bapak adalah satu-satunya pemimpin yang bisa mengembalikan martabat Aceh dalam bingkai NKRI.
Namun kini, mereka disangka terlibat dalam jaringan Negara Islam Indonesia (NII) faksi MYT—sebuah tuduhan yang sangat berat dan menyakitkan, terutama bagi mereka yang selama ini justru menjadi jembatan antara nasionalisme Aceh dan kepercayaan terhadap kepemimpinan Bapak.
Kami ingin mengingatkan Bapak akan sejarah Gardu Prabowo di Aceh, yang berdiri sejak 2014 menjelang Pemilu Presiden. Di Banda Aceh, Gardu dipimpin oleh Roesly Moehammad Saman, seorang aktivis sosial dan tokoh lokal yang dikenal karena pendekatannya yang inklusif dan lintas etnis. Gerakan ini mendapat restu langsung dari Muzakir Manaf (Mualem), Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) saat itu, yang mewakili eks kombatan GAM. Dukungan Mualem menjadi simbol penting bahwa sebagian besar eks kombatan dan simpatisan GAM mulai membuka diri terhadap politik nasional, khususnya kepada figur Bapak yang dianggap tegas dan memahami dinamika Aceh.
Sekretariat Gardu Prabowo Aceh berpusat di kawasan Batoh, Banda Aceh, yang menjadi titik strategis untuk konsolidasi relawan dan simpatisan. Di sinilah berbagai kegiatan dilakukan: diskusi politik, pelatihan relawan, penggalangan massa, dan kampanye akar rumput yang menyentuh langsung masyarakat. Pada Pilpres 2019, Gardu kembali aktif dengan intensitas tinggi. Mirza dan Zainal menjadi motor penggerak utama, menyebarkan visi dan misi Bapak ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk komunitas pesantren dan kampus.
Bapak Presiden, kami juga ingin menyebut nama Ustadz Maimun Al Abrar, seorang ulama kharismatik yang selama ini menjadi penyejuk di tengah gejolak ideologi. Beliau bukan hanya pemimpin spiritual, tapi juga penjaga moderasi di Aceh. Bersama tokoh seperti Roesly Moehammad Saman, yang memimpin gerakan multi-etnik dan relawan lintas agama, mereka telah membuktikan bahwa Aceh bisa menjadi contoh keberagaman yang tetap setia pada Republik.
📚 Artikel Terkait
Beberapa bulan lalu, masyarakat Aceh dikejutkan oleh penangkapan Ustadz Maimun Al Abrar di Kota Langsa. Beliau dikenal sebagai tokoh agama yang aktif dalam kegiatan dakwah dan sosial, serta pernah bekerja di lembaga-lembaga strategis seperti Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) dan Badan Reintegrasi Aceh (BRA), yang berperan penting dalam pemulihan Aceh pasca-tsunami dan konflik.
Penangkapan beliau menimbulkan keprihatinan mendalam, terutama karena rekam jejaknya dalam membina masyarakat dan kontribusinya terhadap pembangunan spiritual dan sosial. Kami tidak bermaksud mencampuri proses hukum, namun kami berharap ada pendekatan yang lebih bijak dan berkeadilan terhadap tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang pengabdian seperti beliau.
Kami tahu Bapak bukan pemimpin yang mudah dipengaruhi oleh tekanan politik atau opini sesaat. Kami tahu Bapak memahami bahwa Aceh adalah wilayah yang punya sejarah panjang, luka yang belum sembuh, dan harapan yang belum padam. Maka kami mohon, jangan biarkan harapan itu berubah menjadi trauma baru.
Kami tidak meminta pengampunan. Kami meminta keadilan. Kami tidak menuntut pembebasan tanpa proses hukum. Kami menuntut agar proses itu dijalankan dengan hati nurani, dengan proporsionalitas, dan dengan pemahaman bahwa nasionalisme Aceh bukan ancaman, melainkan aset.
Bapak Presiden, kami percaya pada Bapak. Kami percaya bahwa Bapak akan melihat lebih dalam dari sekadar laporan intelijen. Kami percaya bahwa Bapak akan mendengar suara rakyat Aceh yang selama ini berdiri di belakang Bapak, bahkan ketika yang lain menjauh.
Demikian surat ini kami sampaikan dengan penuh harap dan cinta terhadap negeri ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan kekuatan kepada Bapak dalam memimpin bangsa.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Warga Aceh, dosen antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






