Dengarkan Artikel
Oleh: Dr Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Salaudin adalah seorang seniman lukis yang lahir di Lhokseumawe, Aceh pada 23 Desember 1958. Perjalanan seninya dimulai saat ia menempuh pendidikan di SSRI (kini SMSR) Yogyakarta pada tahun 1977, dengan fokus pada Seni Lukis. Setelah lulus, ia melanjutkan ke STSRI ASRI Yogyakarta (sekarang Institut Seni Indonesia/ISI) dan sempat pindah jurusan sebelum akhirnya kembali fokus pada bidang Seni Lukis.
Perjalanan Karier dan Penghargaan
Karya-karya Salaudin telah mendapatkan pengakuan sejak awal kariernya. Pada tahun 1980, ia menerima penghargaan “Prathita Adhi Karya” untuk karya lukisan batiknya yang dianggap terbaik. Setahun kemudian, pada 1981, ia kembali meraih penghargaan yang sama untuk karya sketsanya.
Sepanjang kariernya, Salaudin aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa pameran penting yang pernah ia ikuti antara lain:
📚 Artikel Terkait
- Pameran bersama Sanggar Minang di Yogyakarta (1983).
- Pameran “Estetika Bebeng” di lereng Gunung Merapi (1984).
- Pameran di Galeri Nasional Jakarta (2005).
- Pameran Sosialisasi Galeri Nasional di Banda Aceh (2014).
- Pameran di Kupang, NTT (2015).
- Pameran di Yogyakarta (2017, 2020, 2021, 2023).
Selain berpameran, Salaudin juga sering diundang sebagai dewan juri di berbagai acara seni, seperti di Universitas Samudra, Langsa, dan program Seniman Masuk Sekolah di Banda Aceh.
Konsep Karya
Konsep utama dalam karya-karya Salaudin adalah gerak. Ia memiliki ketertarikan pada momen-momen sederhana yang tercipta dari sebuah gerakan, lalu mengolahnya menjadi sebuah lukisan. Ia berusaha mengendapkan makna dari gerak tersebut dan menuangkannya ke dalam karya dua dimensional. Baginya, setiap gerak memiliki ceritanya sendiri, dan ia mencoba menceritakan kisah-kisah tersebut melalui lukisan-lukisannya.
Di masa depan, Salaudin berencana untuk mengadakan Pameran Tunggal Sketsa Batu Nisan Aceh di Banda Aceh pada Agustus 2025. Proyek ini menunjukkan ketertarikannya yang mendalam pada warisan budaya Aceh, dengan mengangkat objek sederhana seperti batu nisan menjadi subjek seni yang penuh makna.[]
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






