Dengarkan Artikel
Oleh Mustiar Ar
Di tepi renung dan samudra aksara
Zab Bransah berdiri—laksana menara puisi Yang teguh dalam terpaan zaman. Langkahnya melintasi batas dari Langsa ke Melaka
Mengusung sunyi, luka, dan cinta Sebagai persembahan bagi sejarah.
Dari bumi Rencong yang lirih dan bersahaja
Ia tenun aksara menjadi pelita Melayang ke negeri jiran Mekar di taman nusantara
Zab bukan sekadar penyair, Ia adalah jembatan rasa dan jiwa
Dua bangsa yang dipisahkan samudra. Bahasanya lembut namun tajam, Menorehkan makna di tanah gersang Dengan keteduhan yang menyapa nurani.
Ia tak mengejar gemerlap panggung, Namun membuka ruang hening
Bagi suara-suara yang kerap terpinggir. Puisinya adalah gema doa dari kampung Yang pelan-pelan dilupakan waktu
📚 Artikel Terkait
Adalah suara peluh dari lorong-lorong kota
Yang tak memiliki nama dalam peta.
Dalam bait-baitnya, Aceh dan Melayu
Malaysia bersatu dalam syair
Mendekap mesra dalam gurindam dan pantun
Zab, pemuisi dua tanah—satu nurani.
Dan bila waktu menutup lembar hidupnya
Namanya tetap hidup dalam getar puisi Menjadi nisan kata bagi jiwa yang merdeka lahir dalam sepi
Ia dalam pena yang bersinar
Aceh, 28 Juli 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






