POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kampus: Pabrik Gelar atau Pencetak Kader Bangsa? Saatnya Berhenti Menjual Mimpi

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
July 30, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Di Indonesia, kuliah masih dipuja sebagai jalan emas menuju masa depan. Universitas dan akademi berdiri di hampir setiap kota, menjanjikan “pencetak kader bangsa” atau “agen perubahan.” Setiap brosur penerimaan mahasiswa baru menggaungkan jargon mulia: mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan daya saing global, dan membentuk generasi inovatif. Namun di balik semua slogan, satu pertanyaan harus diajukan dengan jujur: benarkah kampus kita sedang mendidik, atau hanya memproduksi gelar demi bertahan hidup sebagai institusi bisnis?

Fakta di lapangan tidak bisa dipoles. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024 menunjukkan, hanya 53% lulusan universitas bekerja sesuai bidang studi, sementara lebih dari 60% lulusan mengalami over-education, alias bekerja di posisi yang bahkan tidak membutuhkan gelar. Tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan sarjana mencapai 5,3%, jauh lebih tinggi dibanding lulusan SMA (4,4%). Angka ini menunjukkan ketimpangan: gelar tidak menjamin keterampilan, dan keterampilan tidak selalu lahir dari gelar.

Padahal, biaya kuliah terus melambung. Orang tua menguras tabungan, berutang, bahkan menjual aset demi membiayai anaknya kuliah. Harapannya jelas: anak mereka naik kelas sosial, mendapatkan pekerjaan layak, dan hidup mapan. Namun realitasnya pahit—ribuan sarjana hanya menjadi bagian dari statistik pengangguran terdidik, atau bekerja di pekerjaan yang tak relevan dengan ijazahnya. Apakah ini kegagalan individu? Tidak. Ini kegagalan sistem.

Kampus yang Kehilangan Arah

Banyak universitas, terutama swasta di daerah, lebih sibuk mencari mahasiswa daripada membina kualitas lulusan. Kurikulum tidak terkini, dosen tak semua mengikuti perkembangan industri, dan kerja sama dengan dunia usaha hanya formalitas. Magang yang seharusnya menjadi jembatan ke dunia kerja sering kali hanya menjadi “pengalaman stempel,” bukan pembelajaran nyata. Hasilnya: lulusan minim pengalaman praktis dan kemampuan adaptasi, padahal dunia kerja hari ini menuntut kecepatan, kreativitas, dan soft skills.

Ironisnya, banyak perguruan tinggi justru berfungsi lebih mirip perusahaan—menjual gelar, bukan membentuk karakter dan kompetensi. Pemerintah pun tidak sepenuhnya lepas dari tanggung jawab. Pemangkasan anggaran pendidikan tinggi demi program populis serta lemahnya kebijakan untuk menjembatani kesenjangan keterampilan membuat kondisi ini semakin parah. Mahasiswa pun marah, terbukti dari berbagai demonstrasi menuntut kejelasan biaya dan mutu pendidikan di Jakarta, Bandung, hingga Makassar.

📚 Artikel Terkait

Dinamika dan Sejarah Acuan Penetapan Tahun Baru Islam

Korupsi Layak Masuk Olimpiade

Sastra Kearifan Lokal Aceh sebagai Materi Ajar Kurikulum Merdeka

BENGKEL OPINI RAKyat

Fenomena Global: Indonesia Bukan Satu-Satunya

Masalah ini bukan monopoli Indonesia. Di India, hanya sekitar 20% lulusan universitas yang siap kerja di sektor teknologi dan formal; sisanya terserap di sektor informal atau menganggur. OECD bahkan menandai education-occupation mismatch sebagai salah satu masalah terbesar di negara berkembang, akibat kurikulum yang kaku dan tidak sinkron dengan industri.

Di negara maju pun ada masalah serupa, tapi mereka bergerak cepat. Australia melalui Jobs and Skills Australia mendesak universitas mengintegrasikan blended learning—memadukan teori, praktik industri, dan sertifikasi profesional. Jerman sukses dengan dual vocational system, di mana mahasiswa menghabiskan setidaknya 50% waktu belajar di industri. Kanada bahkan menerapkan income share agreements, di mana biaya kuliah dibayar setelah lulusan mendapatkan pekerjaan, membuat universitas punya insentif langsung untuk memastikan serapan kerja tinggi.

Solusi Kreatif untuk Indonesia: Belajar dari Dunia, Sesuaikan dengan Negeri

Jika perguruan tinggi Indonesia ingin berhenti menjadi “pabrik gelar,” reformasi harus radikal dan menyentuh akar masalah. Tidak cukup hanya revisi kurikulum atau seminar motivasi. Berikut langkah-langkah yang bisa diadopsi:

  1. Dual Track System ala Jerman untuk Semua Jurusan
    Setiap mahasiswa wajib menghabiskan minimal 40–60% masa studi dalam praktik industri, UMKM, atau lembaga sosial. Magang bukan sekadar syarat kelulusan, tapi bagian dari mata kuliah inti dengan standar evaluasi yang jelas. Universitas dan industri mendapat insentif pajak untuk kerja sama nyata.
  2. Skripsi Diganti Proyek Nyata atau Startup
    Alih-alih riset kertas yang hanya berdebu di perpustakaan, mahasiswa bisa memilih membangun usaha rintisan atau proyek sosial berbasis kebutuhan lokal. Proyek yang berkelanjutan dan memberi dampak nyata dihargai setara atau lebih dari skripsi konvensional.
  3. Income Share Agreement (ISA)
    Universitas tidak boleh lagi memindahkan seluruh beban biaya ke mahasiswa. Model ISA memungkinkan mahasiswa membayar biaya pendidikan setelah bekerja dengan persentase penghasilan tertentu. Dengan ini, kampus terdorong memastikan lulusan benar-benar diserap pasar kerja.
  4. Sertifikasi Mikro Wajib dan Terintegrasi
    Setiap lulusan, selain ijazah, wajib memiliki minimal dua sertifikat kompetensi global (misalnya Google Career Certificates atau Microsoft Azure Certification). Pemerintah bisa bermitra dengan penyedia sertifikasi internasional agar biayanya terjangkau.
  5. Akreditasi Berbasis Outcome, Bukan Dokumen
    BAN-PT harus mengubah penilaian dari sekadar tumpukan laporan menjadi indikator nyata: persentase serapan kerja, gaji median lulusan, tingkat wirausaha, dan kontribusi sosial. Kampus yang gagal memenuhi standar harus diberi sanksi tegas, termasuk pembekuan izin.
  6. Kampus-UMKM-Desa Bersinergi
    Universitas harus wajib menjalin program kemitraan dengan UMKM dan desa. Mahasiswa dapat membantu digitalisasi usaha, teknologi tepat guna, atau pemasaran, sambil belajar keterampilan praktis yang relevan dengan ekonomi lokal.
  7. Fokus ke Pendidikan Vokasi sebagai Jalur Bergengsi
    Pemerintah perlu menyetarakan citra politeknik dan pendidikan vokasi dengan universitas. Negara seperti Swiss dan Jerman membuktikan bahwa jalur vokasi justru melahirkan tenaga kerja bergaji tinggi karena relevan dengan pasar.

Menutup Jurang Antara Harapan dan Realita

Jika langkah-langkah ini dijalankan, perguruan tinggi Indonesia bisa kembali ke jati dirinya sebagai pencetak kader bangsa, bukan sekadar pabrik gelar. Mahasiswa tidak lagi sekadar membeli ijazah, tapi memperoleh keterampilan, jaringan, dan pengalaman yang relevan. Orang tua tidak merasa tertipu, masyarakat melihat kampus sebagai motor penggerak ekonomi lokal, dan pemerintah bisa memastikan investasi pendidikan menghasilkan SDM unggul, bukan pengangguran terdidik.

Kampus harus berhenti menjual mimpi dan mulai membuktikan fungsi sejatinya: mendidik manusia agar mampu hidup, bekerja, berinovasi, dan memimpin bangsanya. Tanpa reformasi mendalam, gelar hanyalah kertas; dan “kader bangsa” tinggal jargon. Dengan reformasi berani, kampus bisa menjadi lokomotif perubahan, bukan beban sosial.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Gunoto Saparie: Sang Flamboyan Berkarya Lima Dekade

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00