• Latest
Puisi-Puisi Boy Mihaballo

Puisi-Puisi Boy Mihaballo

Juli 25, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Puisi-Puisi Boy Mihaballo

Redaksiby Redaksi
Juli 25, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tags: #Puisi
Puisi-Puisi Boy Mihaballo
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

BIKIN PUISI LAGI

Hari ini aku harus menulis
sebarisan kata yang keluar dengan sendirinya
Apakah ia akan mengumpat atau mencela
Aku pun tak tahu apa yang akan hadir nantinya

Kata adalah kota kita
Ia terstruktur dari pondasi huruf-huruf kapital
Meniangpancangi arsitektur kalimat pokok
Dan didindingi rambu-rambu bahasa yang bisa bahaya

Kita adalah kata-kata kita
Yang hidup dan menghidupi berjejer bangunan bahasa
Tidak perlu otoritas untuk membangun solidaritas
Tak usah perang bila ingin memperluas dagang

Tetapi kota hanyalah satu dari seribu
Apa yang terjadi dengan kita serta kata-kata kita hanya meruang di satu kota
Aku berhenti sejenak di kedai kopi
Kupikir pasti akan kutemui jawabannya
Tetapi yang tersaji adalah kopi Itali
Lengkap dengan aroma mafia
Serta mencium cincin di jari tangan Don
Mendadak terdengar perintah
“Habisi tikus dan kucingnya saja, bawa anjingnya kesini,” semua bergerak dalam senyap
Operasi sunyi bekerja tanpa henti
Ia mengamputasi kata demi tegaknya kota
Ribuan anak buah Don bergerak
Mereka bergerak sebagai mesin pendobrak
Dan kini kota pun sunyi sepi dan tersendiri
Semua kata dan kita telah tertata
Ia serupa lemari dari batu bata
Kadang bila embun turun
Ia menjadi satu lemari batubara
Inilah aset kota
Yang tersusun dari kita dan kata-kata
Yang serupa dengan lemari dari batu bata
Namun kadang menjadi satu lemari batubara
Semua itu harta
Apakah itu ada harga atau tak berguna
Bukan keputusan seorang Don
Sebab kota tanpa kita dan kata-kata
Menjadi barak militer dengan pendingin udara
Keteraturan adalah peraturan
Tak ada yang berani bersuara dalam barisan
Bahkan bernapas pun ada ritmenya
Itu bukan kota kita
Itu bukan kita
Juga bukan kata-kata kita

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Aku hanya menulis puisi
Bukan provokasi

Cipondoh Makmur, 18 Juni 2025 jam 11:39

PUISIMU BUKAN PUISI

Aku lelah membaca puisimu
Rentetan kata-kata yang melesat menjauh
Kabur dari realita hidupku
Takkan mampu ku rengkuh kata-kata itu
Sepertinya mereka menghindar dariku
Mengapa terus kau sodorkan itu
Puisi yang berlari meninggalkan mataku
Tiada jejak makna yang tersisa disini
Di tempat aku berdiri menatapnya pergi
Ingin ku kejar kata-kata mu
Tetapi semakin ku lari kian jauh rentang kami
Kakiku penat tak terkira
Dan luka menguar di telapaknya
Tanah yang ku pijak memesamkannya
Ku dengar aliran darah memekau
Kakiku tersulut berahi
Yang membongkahi tanah tempat ku berdiri
Lalu sunyi tak lagi sepi
Sebab kini ku temani
Kami merintih bersama
Dalam nada-nada blues yang menjerit
Derita ini harus ku tunda
Walaupun itu hanya sejenak
Sebab sedetik tangis nirleka
Membuat seribu hari luka tersapu awan
Dan ingatlah selalu
Ini bukan puisimu yang terus melaju
Dan tak mampu kubaca selalu
Karena puisimu adalah tentang mimpimu
Ia tak pernah menoleh tanah kami yang kelu
Ia tak mau mendengar tangis kami yang sedu
Ia tak sudi menjadi mulut bagi luka kami yang beku
Kami berseru, “Puisimu Bukan Puisi”

Cipondoh, 25 Juli 2025 13:18

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 367x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 333x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 277x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 275x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Puisi-Puis Kang Thohir

Dunia Literasi dan Aksi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com