Dengarkan Artikel
BIKIN PUISI LAGI
Hari ini aku harus menulis
sebarisan kata yang keluar dengan sendirinya
Apakah ia akan mengumpat atau mencela
Aku pun tak tahu apa yang akan hadir nantinya
Kata adalah kota kita
Ia terstruktur dari pondasi huruf-huruf kapital
Meniangpancangi arsitektur kalimat pokok
Dan didindingi rambu-rambu bahasa yang bisa bahaya
Kita adalah kata-kata kita
Yang hidup dan menghidupi berjejer bangunan bahasa
Tidak perlu otoritas untuk membangun solidaritas
Tak usah perang bila ingin memperluas dagang
Tetapi kota hanyalah satu dari seribu
Apa yang terjadi dengan kita serta kata-kata kita hanya meruang di satu kota
Aku berhenti sejenak di kedai kopi
Kupikir pasti akan kutemui jawabannya
Tetapi yang tersaji adalah kopi Itali
Lengkap dengan aroma mafia
Serta mencium cincin di jari tangan Don
Mendadak terdengar perintah
“Habisi tikus dan kucingnya saja, bawa anjingnya kesini,” semua bergerak dalam senyap
Operasi sunyi bekerja tanpa henti
Ia mengamputasi kata demi tegaknya kota
Ribuan anak buah Don bergerak
Mereka bergerak sebagai mesin pendobrak
Dan kini kota pun sunyi sepi dan tersendiri
Semua kata dan kita telah tertata
Ia serupa lemari dari batu bata
Kadang bila embun turun
Ia menjadi satu lemari batubara
Inilah aset kota
Yang tersusun dari kita dan kata-kata
Yang serupa dengan lemari dari batu bata
Namun kadang menjadi satu lemari batubara
Semua itu harta
Apakah itu ada harga atau tak berguna
Bukan keputusan seorang Don
Sebab kota tanpa kita dan kata-kata
Menjadi barak militer dengan pendingin udara
Keteraturan adalah peraturan
Tak ada yang berani bersuara dalam barisan
Bahkan bernapas pun ada ritmenya
Itu bukan kota kita
Itu bukan kita
Juga bukan kata-kata kita
📚 Artikel Terkait
Aku hanya menulis puisi
Bukan provokasi
Cipondoh Makmur, 18 Juni 2025 jam 11:39
PUISIMU BUKAN PUISI
Aku lelah membaca puisimu
Rentetan kata-kata yang melesat menjauh
Kabur dari realita hidupku
Takkan mampu ku rengkuh kata-kata itu
Sepertinya mereka menghindar dariku
Mengapa terus kau sodorkan itu
Puisi yang berlari meninggalkan mataku
Tiada jejak makna yang tersisa disini
Di tempat aku berdiri menatapnya pergi
Ingin ku kejar kata-kata mu
Tetapi semakin ku lari kian jauh rentang kami
Kakiku penat tak terkira
Dan luka menguar di telapaknya
Tanah yang ku pijak memesamkannya
Ku dengar aliran darah memekau
Kakiku tersulut berahi
Yang membongkahi tanah tempat ku berdiri
Lalu sunyi tak lagi sepi
Sebab kini ku temani
Kami merintih bersama
Dalam nada-nada blues yang menjerit
Derita ini harus ku tunda
Walaupun itu hanya sejenak
Sebab sedetik tangis nirleka
Membuat seribu hari luka tersapu awan
Dan ingatlah selalu
Ini bukan puisimu yang terus melaju
Dan tak mampu kubaca selalu
Karena puisimu adalah tentang mimpimu
Ia tak pernah menoleh tanah kami yang kelu
Ia tak mau mendengar tangis kami yang sedu
Ia tak sudi menjadi mulut bagi luka kami yang beku
Kami berseru, “Puisimu Bukan Puisi”
Cipondoh, 25 Juli 2025 13:18
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






