HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

“Anak Hebat, Guru Terlupakan”: Ironi Hari Anak Nasional di Negeri Seremonial

Hanif Arsyad by Hanif Arsyad
Juli 23, 2025
in Anak Cerdas, Anak-anak, Guru Honorer
Reading Time: 4 mins read
0
597
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif Arsyad

Bulan Juli 2025, masih sama seperti bulan Juli di tahun tahun lalu. Spanduk warna-warni terbentang di aula desa dan kantor pemerintahan. Lagu-lagu anak mengalun di panggung-panggung mini, penuh semangat dan tepuk tangan. Di layar kaca, wajah-wajah pejabat tersenyum bangga menyematkan pin “Sahabat Anak” pada para ibu promotor PAUD. Semua terlihat begitu indah—tapi hanya di permukaan.

Baca Juga

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Maret 13, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Februari 26, 2026
Perlawanan Guru Honorer dan PDIP terhadap Program MBG

Perlawanan Guru Honorer dan PDIP terhadap Program MBG

Februari 26, 2026

Di balik gegap gempita Hari Anak Nasional, ada satu pertanyaan yang tak kunjung dijawab: Siapa yang sebenarnya menjaga anak-anak kita? Dan lebih penting lagi: sudahkah mereka dijaga dengan adil oleh negara?

Dari Panggung Promotor ke Ruang Kelas Tanpa Guru yang Layak.

Di banyak daerah, pelantikan promotor PAUD berjalan megah setiap kali pejabat baru naik jabatan. Mereka disematkan selempang, diberi ucapan selamat, dan berpose di depan kamera. Tapi di ujung dusun, guru PAUD yang setiap hari mengajar anak-anak dengan alat seadanya justru tak dilirik, apalagi dihargai.

Mayoritas guru PAUD di Indonesia hanya lulusan SMA, tanpa sertifikasi, tanpa gaji tetap, bahkan banyak yang tak pernah menerima upah berbulan-bulan. Mereka bukan tak mampu, tapi tak diberi kesempatan. Mereka bukan tak penting, tapi tak dianggap prioritas.

Lalu kita bertanya: apa arti “Anak Hebat” jika mereka dibimbing oleh guru yang diperlakukan seolah tak penting?

Mendidik Bukan Sukarela, Tapi Profesi

Negara seolah masih menganggap pendidikan usia dini sebagai urusan domestik: cukup kasih tempat, sedikit pelatihan, beres. Padahal, usia 0–6 tahun adalah fase krusial perkembangan otak. Guru PAUD bukan penjaga anak. Mereka adalah arsitek masa depan bangsa, yang bekerja tanpa jaminan sosial, tanpa pengakuan, tanpa penghasilan layak.

Pendidikan usia dini bukan kerja sukarela. Ini profesi yang butuh ilmu, pelatihan, dan penghargaan. Tapi hingga kini, seolah yang dihargai hanya seremoni promotor, bukan para pendidik di garis depan yang setiap hari bergulat dengan realita.

Seharusnya negara sadar: kalau anak-anak dianggap emas, maka guru PAUD adalah tukang lasernya—yang menyambung, menyusun, membentuk. Tapi coba tanya, sudahkah mereka digaji selayaknya dan seharusnya?

Kita kekurangan dana atau niat yang kurang untuk lebih peduli. Seringkali kita dengar alasan: “Anggaran daerah terbatas.” Tapi anggaran pelantikan promotor, studi banding, bahkan seremonial Hari Anak Nasional (HAN) tetap jalan mulus. Yang tak pernah mulus justru gaji guru guru PAUD terutama di daerah dan pelosok pelosok desa.

Ini bukan soal miskin anggaran, tapi miskin kepedulian. Negara seakan lebih tertarik membangun panggung daripada memperkuat pondasi.

Apa gunanya seribu promotor dilantik, jika satu guru PAUD harus pinjam uang untuk beli kapur tulis?

Ini realita yang masih terjadi di lapangan, bahkan beberapa PAUD harus tutup dengan bermacam problematika yang ada, dari tidak adanya guru, fasilitas yang kurang bahkan tidak adanya kesadaran masyarakat akan keberadaan dan kebermafaatan PAUD.

Kalau Serius dengan Anak, Seriuslah dengan Gurunya

Jika pemerintah benar-benar serius ingin mewujudkan Generasi Emas 2045, maka bukan lagi waktunya bicara visi. Waktunya membayar utang perlakuan terhadap guru PAUD. Beberapa langkah darurat yang tak bisa ditunda lagi:

1. Standarisasi Gaji dan Jaminan Sosial untuk Guru PAUD
Setiap guru PAUD berhak mendapat upah minimum daerah dan BPJS, tak peduli formal atau nonformal. Ini urusan keadilan, bukan belas kasihan.

2. Pendidikan Lanjutan Bagi Guru Lulusan SMA
Pemerintah wajib memfasilitasi guru PAUD untukmelanjutkan pendidikan ke jenjang D2/D3. Berikan beasiswa. Kalau anak-anak harus cerdas, gurunya harus dipintarkan juga.

3. Status Hukum dan Pengakuan Profesi
Banyak guru PAUD tidak terdaftar sebagai pendidik resmi. Ini harus diakhiri. Profesi guru PAUD perlu diatur dalam regulasi nasional agar dilindungi secara hukum.

4. Gerakan Nasional Mengangkat Martabat Guru PAUD
Tak cukup sekadar Hari Anak Nasional. Kita butuh gerakan kolektif lintas kementerian, masyarakat, dan sektor swasta untuk menempatkan guru PAUD sebagai ujung tombak pendidikan.

Sebagai refleksi akhir Anak anak Bukan dijadikan Slogan, akan tetapi Mereka Masa Depan bangsa ini.Sebagai disclaimer, penulis tidak anti seremoni. Tapi seremoni tanpa aksi adalah kemunafikan publik. Kita menyanyikan lagu anak-anak di podium, tapi membiarkan guru PAUD makan mie instan tiga kali sehari. Kita bicara “Anak Hebat”, tapi membiarkan para pendidik mereka bertahan hidup dalam kesunyian dan keletihan.

Perlu kita ingat Ingat, tak ada anak hebat tanpa guru yang diperjuangkan. Tak ada masa depan emas jika akar pendidikannya keropos.

Hari Anak Nasional seharusnya menjadi alarm nasional dan kita semua, bukan hanya festival. Bukan lagi soal tepuk tangan, tapi soal keberanian untuk mengubah dan memperbaiki sistem. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Seperti kata Buya Hamka: “Anak-anak itu bukan hanya pewaris negeri, tapi pemilik masa depan yang kita ukir hari ini.” Maka ukirlah dengan adil, mulai dari yang paling sering terlupakan: guru PAUD di ujung kampung, yang tak pernah menuntut apa-apa, selain dihargai sebagai manusia.

‘Selamat Hari Anak Nasional’ Selamat MenyongsongIndonesia Emas 2045

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 187x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 106x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare239
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post
Menggali yang Terkubur

Menggali yang Terkubur

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com