Dengarkan Artikel
Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Tuanku Abdul Hamid adalah figur sejarah yang memiliki peran penting dalam salah satu babak awal diplomasi antara Nusantara dan Eropa. Meskipun detail pribadinya tidak banyak tercatat dalam sejarah Eropa, ia dikenal sebagai utusan (duta besar) pertama Kesultanan Aceh Darussalam ke Belanda. Misinya bukan sekadar kunjungan kehormatan, melainkan upaya strategis untuk mengubah peta kekuatan di Asia Tenggara pada awal abad ke-17.
Pada awal abad ke-17, Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammal (berkuasa 1589-1604) adalah salah satu kekuatan maritim dan perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Aceh, yang merupakan pusat rempah-rempah yang kaya, menghadapi ancaman dominasi dari Portugis, yang telah mendirikan benteng di Malaka dan berusaha mengontrol jalur perdagangan vital.
Sultan Alauddin Riayat Syah sangat menyadari perlunya aliansi untuk menyeimbangkan kekuatan Portugis. Ketika kapal-kapal dagang Belanda mulai muncul di perairan Nusantara, Sultan melihat peluang strategis. Belanda, yang juga tengah berperang melawan Spanyol dan Portugal di Eropa (Perang Delapan Puluh Tahun), memiliki kepentingan yang sama untuk melemahkan pengaruh Portugis di Asia.
Pada tahun 1602, Sultan Alauddin Riayat Syah memutuskan untuk mengirim misi diplomatik penting ke Belanda. Pilihan jatuh kepada Tuanku Abdul Hamid, seorang figur yang pastinya memiliki kepercayaan penuh dari Sultan dan dianggap mumpuni untuk mengemban tugas diplomatik yang krusial ini. Misi utamanya adalah untuk menjajaki kemungkinan aliansi politik dan perdagangan dengan Belanda, dengan tujuan bersama untuk mengusir Portugis dari wilayah tersebut.
Perjalanan ke Negeri Kincir Angin
Tuanku Abdul Hamid dan rombongannya memulai perjalanan panjang melintasi samudra yang penuh risiko. Mereka berlayar dengan dua kapal milik Belanda dari Zeeland, yang sebelumnya telah berhasil merebut kapal perang Portugis—sebuah simbol awal keberhasilan kerja sama maritim.
Pada Agustus 1602, setelah berbulan-bulan di laut, rombongan tersebut akhirnya tiba di Middelburg, ibu kota provinsi Zeeland, Belanda. Kedatangan mereka adalah peristiwa penting yang menarik perhatian besar. Delegasi dari negeri jauh di timur ini pastinya menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat Belanda saat itu.
📚 Artikel Terkait
Meninggal dan Pemakaman Kenegaraan
Sayangnya, takdir berkata lain. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dan penuh tantangan, Tuanku Abdul Hamid jatuh sakit tak lama setelah tiba di Middelburg. Kondisi kesehatannya memburuk dengan cepat, dan ia akhirnya meninggal dunia pada 10 Agustus 1602, di usia 71 tahun.
Meskipun misinya belum sepenuhnya terlaksana, statusnya sebagai utusan Sultan Aceh yang penting sangat dihargai oleh pihak Belanda. Sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas pentingnya misi diplomatik ini, Tuanku Abdul Hamid diberikan pemakaman kenegaraan yang sangat besar. Pangeran Maurits dari Nassau, pemimpin militer dan politik Belanda saat itu, bahkan hadir dalam upacara pemakaman tersebut. Ini menunjukkan betapa seriusnya Belanda memandang hubungan dengan Kesultanan Aceh.
Tuanku Abdul Hamid dimakamkan di pekarangan gereja tua St. Pieters (Oude Kerk Middelburg), Middelburg, Zeeland. Di nisan makamnya, terukir tulisan dalam bahasa Latin yang mengabadikan kisahnya: “Disini dimakamkan Abdul Hamid, kepala delegasi dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Lillah Fil Alam. Utusan yang menemui Yang Mulia Prints Maurits dengan dua kapal Zeeuw, yang telah merampas kapal perang Portugis.”
Warisan Sejarah
Meskipun Tuanku Abdul Hamid tidak sempat melihat hasil penuh dari misi diplomatiknya, kehadirannya di Belanda dan pemakamannya yang istimewa menjadi bukti konkret dari hubungan diplomatik yang berani dan visioner antara Kesultanan Aceh dan negara Eropa pada abad ke-17. Ia adalah simbol dari kekuatan maritim dan kedaulatan Aceh yang tidak takut untuk menjalin kontak dengan kekuatan global. Kisahnya menyoroti bahwa Nusantara bukanlah wilayah yang pasif dalam sejarah dunia, melainkan pemain aktif dalam kancah geopolitik dan perdagangan internasional jauh sebelum era kolonialisme mencapai puncaknya.

Lukisan karya Charles Rochussen tahun 1854 ini menggambarkan momen bersejarah: pertemuan delegasi Kesultanan Aceh dengan Pangeran Maurits van Nassau di Belanda pada awal abad ke-17. Karya ini disimpan di Tropenmuseum, Amsterdam, dan menjadi simbol penting hubungan diplomatik antara dunia Timur dan Barat pada masa itu.
(Sumber: https://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/2020/06/lawatan-delegasi-aceh-ke-belanda-1602-2.html)

Dalam lukisan tersebut, delegasi Aceh digambarkan mengenakan pakaian tradisional yang mencolok, berdiri dengan anggun di hadapan Pangeran Maurits dan para pejabat Belanda. Komposisinya menekankan rasa hormat dan keagungan, memperlihatkan bagaimana Aceh dipandang sebagai kekuatan maritim dan politik yang disegani.
(sumber: https://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/2020/06/lawatan-delegasi-aceh-ke-belanda-1602-2.html)

Lukisan yang menggambarkan pertemuan delegasi Aceh dengan Pangeran Maurits, karya Charles Rochussen (1854), yang disimpan di Tropenmuseum.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






