Dengarkan Artikel
Oleh: Afridal Darmi
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa orang yang tampaknya tidak terlalu sibuk justru lebih berhasil daripada yang kelihatan sibuk dari pagi sampai malam? Pernahkah Anda merasa satu langkah kecil menghasilkan lebih banyak perubahan dibanding bertahun-tahun kerja keras Anda sebelumnya? Kalau iya, jangan buru-buru menyalahkan hidup. Mungkin Anda baru saja tanpa sadar menyentuh sesuatu yang berharga: Prinsip Pareto.
Prinsip yang dikenal juga sebagai aturan 80/20 ini sederhana, tapi dampaknya besar. Intinya? “Dalam banyak hal di hidup ini, 80 persen hasil sering kali berasal hanya dari 20 persen sebab.”
Awalnya, konsep ini dicetuskan seorang ekonom Italia bernama Vilfredo Pareto. Ia bukan menemukannya di ruang kuliah atau seminar ekonomi, melainkan di kebunnya sendiri, saat memperhatikan tanaman kacang polong. Pareto menyadari bahwa sebagian kecil pohon kacangnya menghasilkan sebagian besar polong. Sebuah pengamatan sederhana yang kemudian memicu rasa ingin tahu lebih jauh. Dari kebun ia beranjak ke statistik kekayaan negara.
Ternyata, sekitar 80 persen kekayaan Italia saat itu dikuasai oleh hanya 20 persen populasi. Dan sejak itulah Pareto sadar: dunia ini memang timpang. Tapi ketimpangan itu bukan sekadar soal keadilan sosial, melainkan soal hukum alam yang bekerja diam-diam di banyak aspek kehidupan. Temuan ini bukan sekadar soal angka, tapi lebih tentang pola ketimpangan yang berulang di berbagai aspek.
Prinsip ini tidak berhenti di Italia atau di kebun kacang. Aturan 80/20 ini menjelma jadi semacam kacamata bagi orang-orang cerdas dalam membaca dunia. “Kacang Bung Pareto” ini ternyata merambat jauh ke mana-mana: bisnis, manajemen waktu, hubungan sosial, hingga politik.
Di dunia bisnis, Jeff Bezos membangun Amazon bukan dengan menyenangkan semua orang, tapi dengan fokus pada pelanggan-pelanggan prioritas yang loyal. Dari sanalah pertumbuhan sejati berasal. Tanpa harus menyebut angka Pareto, Bezos paham betul: 20 persen pelanggan yang puas akan menghasilkan 80 persen keuntungan.
Begitu pula Tim Ferriss, penulis buku The 4-Hour Workweek yang laris manis itu. Ia terang-terangan mengaku hidupnya diselamatkan oleh prinsip ini. “Delapan puluh persen hasil kita biasanya datang dari dua puluh persen aktivitas. Sisanya? Hanya membuat kita terlihat sibuk,” katanya. Tim Ferriss bukan cuma bicara teori, ia menjalani hidup dengan filosofi ini: fokus pada yang penting, buang yang cuma bikin capek.
Di panggung politik, Barack Obama memenangkan pemilu AS 2008. Ia tidak mengejar semua pemilih, tapi mengunci suara di negara-negara bagian tertentu, fokus pada pemilih dari kalangan muda, minoritas, dan pemilih pemula. Hasilnya? Efisiensi yang gemilang. Lagi-lagi, ini Pareto yang bekerja dalam strategi politik.
Tapi jangan bayangkan aturan ini hanya milik orang-orang besar atau orang-orang kaya. Coba lihat kehidupan Anda sendiri. Dari semua teman yang Anda punya, berapa banyak yang benar-benar memberi dukungan saat Anda susah? Mungkin tidak sampai 20 persen. Sisanya? Ada yang datang saat butuh, ada yang sekadar mampir lewat linimasa. Atau bahkan amati saja secara sekilas, dari seluruh anggota grup WA Anda, berapa orang yang rajin posting dan komen? Ya, benar—hanya 20 persen atau kurang. Sisanya baca-baca saja…
Dalam sehari Anda berselancar di dunia maya, berapa banyak waktu yang Anda benar-benar mengekspos diri pada konten yang benar-benar bermakna atau berkualitas? Dan berapa banyak Anda hanya mindless surfing?
📚 Artikel Terkait
Bahkan di dunia nyata, dalam kehidupan pribadi Anda. Dalam rumah tangga Anda, sering kali 80 persen masalah datang dari 20 persen sumber yang sama. Entah cucian yang tak kunjung selesai, atau tagihan listrik yang selalu telat bayar.
Apa pelajaran yang bisa kita tarik dari semua ini? Bahwa tidak semua usaha menghasilkan dampak seimbang. Alhasil, kita juga perlu sadar tidak semua hal layak diperjuangkan dengan porsi yang sama besar. Ada yang bermakna untuk dikerjakan dengan upaya, energi, dan waktu maksimal, ada yang “hanya perlu effort-nya saja.”
Kita hidup di zaman yang penuh distraksi. Informasi datang seperti hujan badai, pekerjaan menumpuk seolah tak pernah selesai. Kita mudah terjebak dalam perangkap kesibukan yang sebetulnya tak membawa kita ke mana-mana. Orang menyebutnya busy trap—sibuk tapi kosong.
Prinsip Pareto menolong kita untuk lebih cerdas memilah. Mana yang layak diberi 80 persen perhatian, mana yang cukup 20 persen saja. Jangan terlalu repot dengan segala hal. Fokuslah pada yang benar-benar berdampak besar. Sadarilah bahwa tidak semua orang harus kita buat senang. Tidak semua peluang harus kita kejar. Tidak semua to-do list harus selesai hari ini.
Namun, penting juga dipahami bahwa angka 80 dan 20 ini bukan angka baku, bukan rumus matematis yang harus dihitung dengan kalkulator. Kadang proporsinya bisa bergeser: 70/30, 90/10, bahkan 95/5. Intinya bukan pada angka, tapi pada pola. Bahwa dalam hampir semua hal, sebagian besar hasil berasal dari sebagian kecil usaha, sumber daya, atau keputusan. Maka, yang lebih penting adalah bagaimana kita mengenali mana 20 persen itu, dan berani memberikan prioritas lebih besar pada hal-hal tersebut.
Banyak orang sukses sebenarnya sudah lama sadar akan prinsip ini, meski mereka tak selalu menyebut nama Pareto. Bill Gates pernah berkata, “Dalam bisnis software, 80 persen pengguna hanya menggunakan 20 persen fitur.” Itulah kenapa Microsoft atau Google tak lagi berlomba menjejalkan semua fitur di satu produk. Lebih baik memoles fitur inti yang paling dibutuhkan. Bukankah ini Pareto dalam wujud teknologi?
Prinsip Pareto juga menjadi fondasi di balik banyak strategi pemasaran, penjualan, dan bahkan pengembangan produk. Startup yang cerdas tahu bahwa mereka tidak bisa memuaskan semua orang. Mereka memilih fokus. Begitu pula para kreator konten, penulis, atau seniman yang akhirnya menyadari bahwa sebagian besar dampak atau pendapatan mereka biasanya datang dari segelintir karya unggulan, bukan dari semua karya yang pernah dibuat.
Di Indonesia, Kwik Kian Gie sejak Orde Baru sudah lama mengingatkan soal ketimpangan kekayaan. Ia pernah menyebut bahwa 90 persen kekayaan Indonesia dikuasai oleh kurang dari 10 persen penduduk. Dulu ia bicara konteks konglomerat yang dekat dengan kekuasaan, sekarang kita menyaksikan warisan itu dalam bentuk baru: korporasi raksasa yang makin gemuk, sementara usaha kecil tetap merangkak. Fenomena ini bukan hanya soal keadilan, tapi soal bagaimana hukum Pareto menjelma dalam struktur ekonomi: segelintir pihak menikmati porsi terbesar dari kue yang ada.
Itu bukan hanya fenomena masa lalu—ketimpangan itu juga terjadi hari ini. Kini, para ekonom kontemporer juga sepakat. Gini Ratio mungkin menurun sedikit, tapi kekayaan tetap terkonsentrasi. Reformasi belum berhasil membuat kekayaan Indonesia lebih merata. Lagi-lagi, kita melihat bahwa ketimpangan 80/20 bukan hanya soal bisnis atau produktivitas, tapi soal realitas sosial.
Namun, prinsip ini bukanlah alasan untuk malas atau jadi pasrah. Bukan berarti kita hanya kerja 20 persen lalu berharap 80 persen hasil datang sendiri. Prinsip ini adalah tentang fokus, prioritas, dan kecerdasan memilih pertempuran yang bisa dimenangkan.
Jika Anda seorang pebisnis, temukan produk, pelanggan, atau strategi yang paling banyak memberi hasil. Jika Anda seorang pekerja profesional, fokuslah pada tugas inti yang paling berdampak, bukan yang sekadar memenuhi daftar harian. Jika Anda seseorang yang ingin hidup lebih seimbang, jangan habiskan waktu pada relasi atau aktivitas yang lebih banyak menguras energi daripada memberi manfaat.
Yang paling penting, jangan terjebak menghabiskan hidup pada hal-hal yang tak memberi perubahan besar. Hidup ini singkat. Energi dan waktu kita terbatas. Fokuslah pada apa yang betul-betul penting.
Di dunia pengembangan diri, tokoh seperti Brian Tracy, penulis buku Eat That Frog! yang fokus pada produktivitas, juga berulang kali menekankan pentingnya fokus pada segelintir aktivitas prioritas. Tracy bahkan menuliskan, “Satu tugas yang benar-benar penting bernilai lebih dari sepuluh tugas tidak penting.” Lagi-lagi, ini adalah bentuk lain dari prinsip Pareto yang diterjemahkan dalam gaya yang lebih praktis.
Dan akhirnya, setelah Anda membaca dari awal sampai akhir, cobalah pikirkan: dari seluruh isi tulisan ini, berapa banyak yang benar-benar akan Anda pahami atau Anda ingat? Besar kemungkinan hanya sekitar 20 persen. Mungkin Anda hanya akan ingat tentang kacang polong Pareto, atau tentang betapa hidup ini tidak pernah benar-benar seimbang, atau tentang pentingnya memfokuskan energi ke hal-hal yang benar-benar berdampak. Dan itu sudah cukup.
Karena seperti hidup itu sendiri, artikel ini pun tunduk pada prinsip yang sama. Hanya 20 persen yang penting, yang benar-benar memberi dampak, sisanya hanya pemanis, pengantar, bumbu dan argumen. Ambil dan coba terapkanyang benar-benar penting itu. Sisanya? Biarkan lewat, seiring banjir informasi yang Anda biarkan mengalir ke dalam got mental intelektual Anda. Hidup dan dunia ini memang selalu begitu. Persis seperti hukum Pareto.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






