Rakyat Bertahan, Negara Beli Mainan: Robot Polisi 3 Miliar dan Luka Nalar Keadilan

Rakyat Bertahan, Negara Beli Mainan: Robot Polisi 3 Miliar dan Luka Nalar Keadilan - e3d17ca9 87b6 4251 91e9 4ed2c4ece080 | # Ironi | Potret Online
Ilustrasi: Rakyat Bertahan, Negara Beli Mainan: Robot Polisi 3 Miliar dan Luka Nalar Keadilan
WA FB X

Oleh Rivaldi

Di tengah gejolak ekonomi, harga kebutuhan pokok yang tak kunjung stabil, dan jeritan rakyat yang masih menggantung di udara, negara justru memilih berpesta dengan membeli “mainan” baru: robot polisi seharga Rp3 miliar. Di atas penderitaan rakyat yang mengencangkan ikat pinggang, negara malah menganggarkan dana miliaran rupiah untuk sebuah mesin yang belum tentu menjawab masalah keamanan, tapi sudah pasti menambah jurang ketimpangan logika. Ah sialan, efesiensi ternyata hanya untuk rakyat, tapi tidak untuk yang memiliki jabatan di negri ini.

Rakyat bertahan, Bertahan dari upah yang tak sepadan, dari harga sembako yang naik diam-diam, harga rokok yang melambung tinggi, dari lapangan kerja yang makin sempit, dan dari layanan publik yang makin sulit diakses. Sementara itu, negara tak sabar ingin unjuk gigi dalam parade teknologi. Seolah-olah keamanan bisa dibeli dengan logam dan algoritma, seolah-olah robot bisa menggantikan rasa adil, empati, dan kepekaan terhadap realitas sosial.

Baca Juga

Robot polisi bukan solusi jika rasa aman masyarakat dirusak oleh aparat sendiri. Tak perlu robot canggih jika hukum masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Tak perlu teknologi mutakhir jika data pengangguran, angka kemiskinan, dan layanan kesehatan masih jauh dari layak.

Ini bukan soal menolak kemajuan. Ini soal prioritas. Di saat sekolah ambruk belum diperbaiki, puskesmas kekurangan alat medis, dan jalan desa masih berlumpur, negara malah berbangga beli robot bak film fiksi ilmiah. Apakah negara sedang bermain? Atau memang rakyat hanya penonton dalam panggung besar kekuasaan?

Ketika rakyat dituntut sabar dan hemat, negara justru boros dan pamer. Ketika rakyat diminta patuh pada hukum, negara malah membanggakan robot penegak hukum—seolah hukum itu bisa didelegasikan pada mesin, bukan ditanamkan dalam jiwa dan nurani penegaknya.

Ini bukan sekadar pemborosan anggaran. Ini tamparan bagi logika keadilan. Robot itu bukan simbol kemajuan, tapi bukti betapa negara tak mengerti luka dan beban yang dipikul rakyat setiap hari.

Rakyat bertahan, negara beli mainan. Yang satu berjuang untuk hidup, yang lain sibuk bermain kekuasaan.

ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Rivaldi
Rivaldi Ketua umum HMI komisariat FKIP USK, Banda Aceh

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.