POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Gelar Meninggi, Moral Menyusut: Apa kabar Pendidikan Kita?

RedaksiOleh Redaksi
July 10, 2025
Gelar Meninggi, Moral Menyusut: Apa kabar Pendidikan Kita?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh :Nuriman Abdullah, S.Pd.I., M.Ed., Ph.D



Dosen Sosiologi Pendidikan pada UINSUNA Lhokseumawe
nuriman.abdul@gmail.com

Di zaman ini, gelar akademik tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Seminar ilmiah digelar di hotel bintang lima, skripsi ditulis dalam semalam (dengan sedikit bantuan jasa pengetikan daring), dan wisuda menjadi ajang kontes toga termewah. Ironisnya, di tengah kecanggihan ini, integritas justru terjun bebas ke jurang yang paling dalam.

Pertanyaannya pun sederhana, namun berduri:
Mengapa semakin tinggi gelar seseorang, justru semakin rendah moralnya?

Mungkin jawabannya juga sederhana: karena gelar itu mahal, tapi adab itu gratis. Dan kita semua tahu, dalam dunia kapitalisme akademik, yang mahal itulah yang dianggap penting.

Lihatlah realitas hari ini. Profesor bisa memalsukan data demi hibah penelitian. Doktor bisa membungkam kebenaran asal SK kenaikan pangkat aman. Dan pejabat bergelar panjang bisa dengan tenang membangun kepentingan pribadi dan CS yang rapi dan berkelanjutan—dengan wajah sumringah di depan kamera, sambil mengutip ayat suci di podium.

Tapi jangan khawatir, semua ini sudah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW lebih dari 1.400 tahun yang lalu. Beliau bersabda:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh dengan penipuan. Pendusta dianggap jujur dan orang jujur dianggap pendusta. Pengkhianat diberi amanah, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat. Dan yang berbicara adalah ruwaibidhah.”
(Sunan Ibnu Majah No. 4036, Bab Kitab al-Fitan)

Ruwaibidhah, kata Rasul. Siapa dia? Bukan sembarang orang bodoh, tapi orang bodoh yang nekat tampil di ruang publik, seolah-olah ia sang juru selamat. Jangan salah, di zaman ini, ruwaibidhah bisa punya gelar S3, jabatan strategis, bahkan akun media sosial dengan jutaan pengikut.

📚 Artikel Terkait

Doa Di antara Lumpur dan Longsor

Program Pemutihan “Bayar PKB 2 Tahun Saja” Dibuka Kembali. Simak Penjelasannya

RERASAN

Pria Paling Berani, Wapres Gibran Dihadapinya dengan Telanjang Dada

Mereka tidak perlu tahu isi kitab; asal bisa mengutip satu ayat dan tiga motivasi, mereka sudah dianggap tokoh panutan. Mereka bukan cuma bicara soal umat, tapi juga menentukan arah kebijakan bangsa—tentu saja, berdasarkan hasil survei dan bukan hasil perenungan.

Kita hidup di era industri pendidikan. Universitas berubah menjadi pabrik ijazah. Mahasiswa adalah konsumen, dosen adalah operator mesin. Gelar adalah produk utama, dan adab? Ah, itu hanya mata kuliah pilihan—kalau masih sempat.

Tak heran jika hari ini kita bisa menjumpai lulusan cumlaude tapi tak paham malu, doktor tapi mudah berbohong, profesor tapi tak punya keberanian menyuarakan kebenaran. Karena yang dicetak bukan manusia, tapi robot intelektual—cerdas, tapi tidak bijak; pintar, tapi tak takut Tuhan.

Allah SWT memberikan analogi yang tajam bagi kaum berilmu yang kehilangan nilai:

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar.”
(QS. Al-Jumu’ah: 5)

Sakit? Memang. Tapi akurat. Hari ini, banyak yang memikul gelar, tapi tidak memikul tanggung jawab. Banyak yang mengoleksi sertifikat, tapi gagal menjaga amanah. Dan dalam banyak kasus, keledai tampak lebih konsisten—setidaknya ia tidak mengkhianati beban yang ia bawa.

Solusinya?
Bukan memperpanjang daftar gelar di kartu nama. Yang kita butuhkan adalah reorientasi total—bukan hanya cuci otak, tapi juga ganti kepala: dari kepala penuh ambisi menjadi kepala yang tunduk pada Ilahi.

Pendidikan harus kembali menjadi taman adab, bukan ladang gengsi. Universitas harus menjadi tempat menyemai integritas, bukan menanam modal untuk kekuasaan. Dan yang paling penting, ilmu harus kembali disandingkan dengan takwa. Kalau tidak, pendidikan hanya akan melahirkan generasi ruwaibidhah baru—lebih canggih, lebih pintar, tapi lebih berbahaya.

Menjelang kiamat, kita tak bisa lagi berbangga dengan prestasi akademik semata. Di hadapan Allah, gelar profesor tidak otomatis lebih mulia dari penjual gorengan yang jujur. Yang akan diuji adalah hati, bukan ijazah. Yang ditimbang adalah amanah, bukan angka kredit.

“Tinggi gelar tak berarti tinggi budi, bila moral dikorbankan demi gengsi.”

Jadi, sebelum kita terlalu bangga memajang titel di depan nama, mari kita renungkan:
Apakah kita sedang mendidik manusia yang merdeka, atau hanya mencetak ruwaibidhah bergelar tinggi?
Karena jika jawabannya yang kedua, maka kiamat memang sudah sangat dekat.


🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Maimun Shaleh: Elang Muda Aceh yang Gugur di Medan Latihan

Maimun Shaleh: Elang Muda Aceh yang Gugur di Medan Latihan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00