POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Filosofi Rajawali Dididik, dan Burung Dara Dibentuk: Cetak Biru Kepemimpinan dari Rumah ke Sekolah

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
July 9, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif Arsyad

Pegiat Pendidikan Karakter & Dosen Universitas Malikussaleh

“Pemimpin bukan dilahirkan dari garis keturunan, melainkan dari langkah-langkah pola asuh dan arah didikan yang berkesadaran.”

Di tengah sorotan publik soal krisis keteladanan dan membanjirnya “generasi instan”, muncul pertanyaan mendasar: di mana sesungguhnya kepemimpinan dibentuk? 

Bukan di podium, bukan pula di pelatihan motivasi sesaat. Kepemimpinan sejati tumbuh di dua tempat yang paling menentukan: rumah dan sekolah.

Paradigma Baru: Pemimpin Tidak Dilahirkan, Tapi Dikembangkan

Sudah lama mitos “pemimpin adalah bawaan lahir” dihancurkan oleh sains. Penelitian dari American Psychological Association (APA) menyebutkan bahwa 70% kualitas kepemimpinan merupakan hasil pembelajaran dan lingkungan. Bukan gen. Bukan nasib. Tapi proses.

Anak-anak Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang sering hilang adalah sistem pembentuknya. Maka inilah saatnya menyusun ulang cetakan karakter kepemimpinan, mulai dari keluarga hingga ruang kelas.

Rumah: Tempat Rajawali Ditempa

Ibu bukan sekadar perawat; ia adalah arsitek karakter. Ayah bukan hanya pencari nafkah; ia pemantik keberanian. Di sinilah filosofi Rajawali menemukan relevansinya.

Rajawali tak membesarkan anak di sarang empuk. Ia menyusun ranting tajam, memaksa anak belajar terbang sejak usia dini. Controlled discomfort. Bukan kekerasan, tapi kemandirian terarah.

Data dari Harvard Child Development Center menunjukkan bahwa anak yang terbiasa mengambil keputusan kecil sejak usia dini cenderung memiliki kecerdasan kepemimpinan dua kali  lebih tinggidi usia remaja.

Maka, keluarga yang sehat bukan yang menghindarkan anak dari masalah, tapi yang menemani anak melewati badai, sebagaimana Rajawali memanfaatkan angin untuk terbang lebih tinggi.

Sekolah: Sarang Burung Dara yang Mencetak Kolaborator Tangguh

📚 Artikel Terkait

SELAMAT ULTAH POE MAA

Nyanyian Malam Ini

Warung Kopi di Aceh, Seperti Kampus?

LAILA DI TITIAN TAKDIR

Namun kepemimpinan tidak hanya soal daya jelajah dan keberanian. Ia juga tentang kebersamaan, empati, dan kerja tim. Di sinilah peran Dara, sang simbol kolaborasi, menjadi penting.

Sekolah modern harus berhenti menjadi tempat “uji hafalan”. Ia harus menjadi laboratorium nilai, tempat anak belajar empati, negosiasi, dan tanggung jawab sosial. Seperti kawanan dara yang terbang dengan hukum sederhana tapi saling menjaga arah, kecepatan, dan jarak.

Model ini bukan utopia belaka.konsep sekolah di Finlandia telah melakukannya yang didukung oleh kebijakan kurikulum pendidikan. Konsep yang pendidikan ini telah diterapkan di Indonesia, meskipun saat terbatas , salah satunya yang penulis sempat berkunjung ke Sekolah Alam dan Green School Bali membuktikannya. Ketika siswa diberi tantangan riil dan proyek lintas kelompok, muncul kolektivitas yang memicu leadership yang berakar dalam etika dan solidaritas. 

Ini bisa menjadi referensi acuan konsep bagaimana sekolah sekolah negeri dan swasta mencontohnya.

Strategi Implementasi: Dari rumah ke Ekosistem nyata sebagai model pembentukan karakter kepemimpinan.

Gabungan karakter Rajawali dan burung Dara melahirkan pemimpin tipe baru yang ideal,  berani bertindak namun tak lupa berbagi arah. Ini bukan konsep abstrak. Ia bisa dijabarkan dalam framework pendidikan karakter kepemimpinan:anak anak dilatih kemandirian yang bertanggungjawab dengan  memberikan ruang eksplorasi dan keputusan di rumah sedang di sekolah bisa memberikan proyek secara personal dengan evaluasi diri sendiri. 

Rasa empati dan kolaborasi dimulai di rumah dengan konsep berbagi dan membantu sesama anggota keluarga dilanjutkan di sekolah dengan membentuk tugas kelompok lintas budaya disesuaikan dengan arahan yang tepat. 

Refleksi kegagalan anak bisa dievaluasi bersama orang tua sebagai bagian evaluasi diri bukan dengan hukuman dan judgment setiap kesalahan,  akan tetapi bimbingan serta diskusi, sementara di sekolah merancang materi simulasi konflik dan resolusi dari rancangan kegiatan. 

Hal yang paling krusial adalah keteladanan orang tua, bisa dilakukan dengan diskusi nilai, debat dan studi kasus tentang fenomena di kehidupan sehari-hari di sekolah itu sendiri sebagai pembentukan nilai etika serta integritas.

1. Parenting sebagai Kurikulum Awal

Orang tua harus dilibatkan dalam program sekolah – bukan sekadar wali murid, tapi mitra pendidikan karakter. Setiap rumah adalah kelas pertama tentang disiplin, empati, dan nilai.

2. Sekolah sebagai Simulasi Kehidupan

Kurikulum Merdeka jangan hanya fleksibel secara waktu dan konten, tapi juga fleksibel secara psikososial. Tugas sekolah adalah menyediakan arena tempur aman, tempat siswa gagal dan bangkit dengan pembimbing yang empatik.

3. Gerakan Pembiasaan di sekolah.

Leadership camp tak cukup memadai dan terbatas untuk umur dan situasi tertentu Sekolah sekolah yang perlu menanamkan ritual kecil harian dimulai dari sekolah dasar yang berkelanjutan ke jenjang sekolah berikutnya dengan refleksi pagi, sharing circle, mentoring sebaya. Kepemimpinan tumbuh dari kebiasaan, bukan hanya momen.

4. Ekosistem Kolaboratif Digital

Dalam era post-digital, kepemimpinan juga harus lintas ruang. Kolaborasi antar sekolah, proyek virtual lintas kota, hingga forum ide siswa bisa menjadi “kawanan Dara digital” yang menguatkan jangkauan sekaligus jaringan anak.

Sebagai kesimpulan akhir penulis ingin mengaris bawahi bahwa kita  sedang mempersiapkan seorang Pemimpin Bukan Melatih menjadi boss, Kita tak butuh lebih banyak bos yang hanya pandai memberi instruksi. Kita butuh lebih banyak pemimpin yang punya akar dalam keluarga dan sayap di ruang kolaborasi.

Rajawali tak hanya tahu kapan terbang tinggi, tapi juga tahu kapan kembali ke sarang. Burung Dara tak hanya terbang bersama, tapi juga tahu kapan keluar kawanan demi pembaruan.

Jika Indonesia ingin menyiapkan generasi emas kedepan yang bisa dan mampu memimpin bukan sekadar memerintah, maka saatnya menyusun kembali desain pendidikan karakter dari fondasi paling awal: rumah yang mendidik, sekolah yang membentuk, dan komunitas yang memelihara.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Intelektual Semu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00