POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ayyash di Bawah Langit Terluka

Ilhamdi SulaimanOleh Ilhamdi Sulaiman
June 29, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Karya: Ilhamdi Sulaiman

Thomas, seorang relawan dari Amerika, sering datang ke kamp ini. Ia membawa kamera besar dan senyum kecil. Aku suka mengamatinya memotret. Tapi akhir-akhir ini ia lebih sering duduk diam, tak lagi mengangkat kameranya.”Kenapa kau tak ambil gambar lagi, Thomas?” tanyaku.

Ia menghela napas. “Karena dunia hanya akan melihat kalau aku ambil foto saat kau berdarah. Tapi aku ingin mereka melihat saat kau menulis puisi, Ayyash. Sayangnya, itu tak cukup menarik bagi layar mereka.”Aku tidak paham sepenuhnya, tapi aku mengerti rasa lelah di matanya.Suatu malam, di balik nyala api kecil, Thomas berkata pelan, “Aku orang Yahudi, Ayyash.”Aku menatapnya, bingung. “Tapi… kenapa kau di sini?””Karena aku tak ingin agamaku dijadikan alasan untuk membunuh. Ini bukan perang agama. Ini perang kekuasaan. Dan kalian, anak-anak, selalu jadi korban pertamanya.”Bantuan kemanusiaan pernah dijanjikan datang. Truk-truk penuh makanan, selimut, dan obat-obatan. Kami bahkan melihatnya dari kejauhan, berjajar seperti harapan yang menunggu izin masuk. Tapi tak satu pun sampai ke kami.

“Mereka ditahan di perbatasan,” kata Claire suatu sore. “Israel memblokir jalur masuk. Alasannya: alasan keamanan.”Padahal keamanan siapa? Kami di sini hanya punya air setengah bersih, roti kering, dan bayi-bayi yang menangis sampai napas mereka habis. Bantuan itu seolah nyata, tapi tak lebih dari bayangan di ujung jalan. Dunia memotret, menulis, mengirim, tapi kebenaran terkubur di pos pemeriksaan.Aku menulis puisi tentang itu:Puisi ke-21 – Perbatasan Ada roti yang tak bisa dimakan, karena melewati batas.

Ada selimut yang tak bisa menghangatkan, karena izin belum turun. Ada nyawa yang tak sempat diselamatkan, karena dunia sibuk memeriksa dokumen.Tiga hari kemudian, Claire hilang.Kami tak menemukannya di rumah sakit. Seorang lelaki tua bilang dia melihatnya lari menyelamatkan bayi saat misil menghantam ruang ICU. Tapi tidak ada yang tahu pasti. Seperti ayah. Seperti banyak orang di kamp ini. Mereka hilang seperti debu—tidak ada makam, tidak ada tanda, tidak ada pengumuman duka.Aku duduk di dekat reruntuhan rumah sakit sore itu, menatap puing dan sisa-sisa selimut bayi. Ibu memeluk adikku yang mulai lemah. Inkubator darurat di tenda tidak lagi menyala. Listrik padam. Solar habis.

Bantuan tak datang.Aku hanya bisa menulis.Puisi ke-23 – Untukmu, adikku Kalau angin bisa jadi pengasuh, kalau matahari bisa jadi selimut, maka janganlah takut, aku akan menjadi malam yang kau peluk.Tapi jika besok kau tak menangis lagi, biarlah dunia tahu, kau pernah hidup—tanpa pernah benar-benar diizinkan.Malam itu, adikku diam. Ibu memeluknya lama, dan aku tahu, ia tidak tertidur. Esok paginya, aku tidak menamai suara bom. Tidak ada lagi nama yang bisa mewakili kehilangan.Hari-hari berikutnya, aku menulis lebih banyak. Tentang batu-batu yang menyimpan nama-nama orang hilang. Tentang…Rumah adalah tempat suara dipanggil dan dijawab dengan cinta. Kini tak ada suara yang menjawab. Hanya gemuruh langit dan langkah-langkah terburu-buru ke arah tempat yang tak jelas.

Thomas datang malam itu. Wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Ia duduk di dekat api kecil yang mulai padam.“Listrik belum juga masuk?” tanyanya lirih.Aku hanya menggeleng. “Dan solar habis sejak dua hari lalu.”

Ia menyodorkan sebotol air, lalu berkata dengan suara pecah, “Aku akan pergi besok.”Kepalaku menoleh tajam. “Pergi?”“Organisasiku menarik semua relawan. Jalur bantuan ditutup total. Kami dianggap risiko.”“Jadi kau akan meninggalkan kami?” tanyaku, tanpa menyadari betapa pedih nadaku.“Ayyash, aku bukan menyerah. Tapi kadang bertahan berarti tahu kapan mundur untuk menyusun langkah baru. Aku berjanji, dunia akan tahu puisi-puisimu. Aku akan cetak mereka. Aku akan bacakan di konferensi. Dunia akan tahu…”“Tapi dunia sudah tahu, Thomas. Mereka cuma tidak peduli.”

Aku menatap api, membiarkan air mataku menguap bersama asap. Thomas mengusap kepalaku pelan sebelum pergi. Ia tak berkata apa-apa lagi.

Malam itu aku menulis puisi yang tidak kubacakan pada siapa pun:

Puisi ke-27 – KepergianJalanmu lurus,tapi hatiku patah.Kau bawa semua yang bisa diselamatkan,kecuali kami.

Beberapa hari berlalu. Bau busuk mulai menyusup ke setiap celah kamp. Ada tenda-tenda yang tak pernah dibuka kembali karena penghuninya tak pernah bangun lagi. Bau kematian bercampur dengan bau ketidakpedulian.

Lalu datang hari di mana langit benar-benar tak punya rumah. Kami mendengar suara helikopter—bukan militer, tapi bantuan. Mereka menjatuhkan kotak dari udara, sembako, air, susu bubuk.

Anak-anak berlarian. Tangan-tangan kecil menjangkau udara yang terlalu tinggi. Satu kotak jatuh menimpa tenda tua, merobeknya. Kotak itu kosong.

Lalu kami tahu: itu umpan.

Bom datang setelahnya.

Kami berlari ke tempat perlindungan bawah tanah yang belum rampung. Aku kehilangan jejak ibu. Aku hanya sempat mendengar suaranya sekali, menjerit namaku. Lalu langit runtuh.

Aku tak tahu berapa jam aku tertimbun separuh tubuh. Seorang lelaki tua yang tak kukenal menarikku keluar. Ia bicara dalam bahasa Arab yang pelan, seolah takut membangunkan maut. “Kau masih hidup, anakku. Kau masih hidup…”

Ibu tak ditemukan. Aku melihat selendangnya, setengah terbakar, tergantung di kawat besi tenda yang hangus. Sejak saat itu, aku menjadi yatim sepenuhnya.

Kini aku tinggal di bawah reruntuhan bangunan sekolah tua. Beberapa orang dewasa mengurus anak-anak sepertiku. Tapi tak ada yang bisa benar-benar mengurus kami. Mereka sendiri lapar. Mereka sendiri kehilangan. Dunia luar mengirim surat-surat panjang ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tapi tak satu surat pun yang bisa menghidupkan kembali orang-orang yang kami cintai.

Beberapa hari lalu, seorang pemuda datang dengan radio kecil. Ia memperdengarkan siaran dari luar. Di sana, orang-orang berbicara tentang “gencatan senjata”, “resolusi damai”, “komite penyelidikan”, dan “dampak psikologis terhadap anak-anak Palestina”.

Aku ingin tertawa, tapi rasanya lebih dekat ke menangis. Aku ingin bilang: “Kami bukan dampak. Kami adalah pusatnya.”

Malam itu, aku menulis puisi terakhirku di atas sisa kertas resep milik Laila:

Puisi ke-33 – Rumah di Dalam KepalaAku tidak punya rumah di tanah,tapi aku punya rumah di kepala:ruang kecil tempat suara Ibu masih berbisik,tempat Laila masih berlari,tempat adikku masih tertawa.Di rumah itu tak ada suara bom,hanya bunyi pensil menari di kertas.Dan langit di atasnya tak punya izin untuk menjatuhkan api.

Suatu sore, saat matahari terasa seperti luka yang terbuka, aku melihat Thomas lagi. Ia kembali. Tak membawa kamera. Hanya satu tas kecil. Ia mencariku. Memelukku. Lalu menunjukkan sebuah buku.

Halaman demi halaman, puisi-puisiku tercetak rapi. Di sampulnya tertulis: “Langit Tak Punya Rumah – Puisi dari Ayyash”.

Aku tak bisa berkata-kata.Thomas hanya berkata, “Mereka mendengarmu, Ayyash. Tak semua. Tapi cukup banyak untuk membuat mereka bertanya: apa yang bisa mereka lakukan?”Aku memeluknya. Tak tahu apakah dunia akan berubah. Tapi aku tahu satu hal: puisi tak bisa menghentikan perang, tapi ia bisa menyimpan suara orang-orang yang dilenyapkan perang.Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika tanah ini bisa ditanami kembali dan langit berhenti menyemburkan besi, seseorang akan membaca puisiku dan berkata, “Mereka tidak hanya mati.

Mereka pernah hidup.”burung burung merpati yang tak pernah kembali ke menara masjid. Tentang pohon zaitun di dekat sekolah lama yang kini tinggal arang. Tapi yang paling sering kutulis adalah: tentang rumah.Karena rumah, bagiku, bukan bangunan. Rumah adalah suara ibu, tawa ayah, napas adik, dan suara kaki Laila yang terburu-buru membawa perban. Rumah adalah tempat Beberapa minggu setelah Thomas kembali dan membawa bukuku, suara-suara dari radio menjadi lebih ramai, lebih panas, dan lebih penuh kata-kata yang tak kumengerti. Kata “Iran” sering muncul. Juga “koalisi”, “intervensi militer”, “pengamanan regional.”Orang-orang dewasa di kamp bicara pelan-pelan, tapi aku mendengar.“Amerika sudah kirim kapal induk ke Teluk.” “Prancis ikut kirim pesawat tempur.” “Inggris sudah setuju dukungan penuh. Katanya Iran ancaman global.” “Padahal mereka semua takut kekuatan baru yang tak tunduk.”Aku tidak mengerti sepenuhnya. Tapi aku tahu satu hal: ketika negara-negara besar bicara tentang “keamanan dunia”, kami, anak-anak kecil di tanah ini, akan jadi korban pertama.

Thomas memasang antena radio ke tiang reruntuhan masjid. Ia bilang ini bisa menangkap siaran dari Eropa dan Timur Tengah. Lewat suara-suara itu, kami tahu: Iran tidak diam. Iran membalas. Iran menghantam pangkalan militer Amerika di Qatar dan Irak. Rudal mereka menembus sistem pertahanan tercanggih. Dunia terkejut. Tapi mereka masih pura-pura kuat.“Ini bukan soal siapa salah siapa benar,” kata Thomas suatu sore. “Ini tentang siapa yang paling kuat mengendalikan narasi.”Aku menatapnya, “Tapi jika semua menulis narasi, siapa yang menulis kebenaran?”Ia tak menjawab. Tapi malam itu, aku menulis lagi.

Puisi ke-36 – NarasiMereka menulis perang dengan pena yang berlumur minyak, dan menyebut darah kami: kolateral. Mereka kirim pesawat demi demokrasi, tapi tak satu pun membawa obat untuk adikku.Iran bukan nama yang kutahu dari cerita Ibu. Tapi hari ini namanya dibisikkan dalam doa-doa, karena katanya: mereka membalas, mereka berdiri, mereka tidak menyerah meski langit runtuh di atas mereka.

Keesokan paginya, kamp kami berubah. Bukan karena ada serangan, tapi karena harapan aneh menyelinap diam-diam.“Aku dengar Iran menyerang pangkalan Amerika.” “Mereka bilang pangkalan itu hangus. Tak ada yang selamat.” “Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka takut…”Bukan kebahagiaan yang muncul, tapi semacam dendam yang tersembunyi: bahwa ada kekuatan lain yang tak tunduk, yang tak bisa diperintah seenaknya.

Tapi kebanggaan semu itu cepat padam. Pesawat tempur melintas di atas kami malam itu. Suaranya lebih berat, lebih dalam, lebih menakutkan. Bom-bom dijatuhkan ke perbatasan selatan, menghantam terowongan logistik yang katanya berasal dari Iran.Kamp kami bergetar. Seorang anak kecil berteriak ketakutan, “Langit marah lagi!”Aku memeluk anak itu dan berbisik, “Bukan langit yang marah. Manusia yang memerintah langit.”

Thomas mulai kehilangan kata-kata. Ia hanya menatap kosong ke radio. Laporan korban di Gaza, Rafah, dan Khan Younis berdatangan. Iran tetap melawan, katanya. Tapi dunia mengerahkan lebih banyak pesawat, lebih banyak pasukan.Mereka bilang ini untuk “menjaga stabilitas global.” Tapi global yang mana?

📚 Artikel Terkait

IMBASAN CAHAYA REMBULAN

Apa yang Dilakukan KH Zulfa Mustofa 16 Hari Menjadi Pj Ketua PBNU?

Fomo, Yolo, Fopo: Tiga Penyakit Mental Pembunuh Gen Z

Puisi Yang Tidak Berjudul Di antara Cahaya Rembulan dan Matahari

Aku menulis:Puisi ke-40 – DuniaDunia tak pernah satu, ia terbagi sejak awal. Ada dunia yang membangun roket, dan dunia yang menampung puing-puingnya.Ada dunia yang menyebut perang: strategi, dan dunia yang menyebutnya: kematian ayah.Dunia yang kau tonton di televisi, dan dunia yang kutulis di puisi.

Suatu hari, aku bertanya pada Thomas, “Apakah langit akan pulang, Thomas? Maksudku… apakah langit akan punya rumah lagi?”Ia tersenyum kecil, lalu menatapku lama. “Aku tidak tahu, Ayyash. Tapi aku tahu satu hal: selama masih ada orang seperti kamu yang menulis, langit akan ingat bahwa ia punya tanggung jawab.”Malam Beberapa pekan kemudian, sesuatu yang tak terbayangkan terjadi. Buku puisiku—yang dibawa Thomas ke Eropa—dibaca dalam sidang terbuka PBB. Aku tak tahu pasti apa itu PBB, selain nama yang sering disebut dalam doa-doa kosong para pemimpin. Tapi hari itu, dunia mendengarku.

Di layar kecil milik relawan kamp, wajahku muncul. Suaraku dibacakan dalam bahasa Inggris oleh Thomas, di depan orang-orang yang duduk di kursi empuk dengan dasi dan lencana negara masing-masing.

“Kalau angin bisa jadi pengasuh,kalau matahari bisa jadi selimut,maka janganlah takut,aku akan menjadi malam yang kau peluk.”

Ruangan sunyi.

Ada yang menunduk. Ada yang menyeka air mata. Tapi tak ada yang bangkit.

Dunia mendengar. Tapi dunia tak bergerak.

Hari-hari berikutnya aku menjadi semacam simbol. Undangan dari berbagai negara datang untuk Thomas. Mereka ingin menghadirkan “anak penyair dari Gaza” ke forum-forum kemanusiaan. Tapi perbatasan tetap ditutup. Aku tetap di sini, di antara reruntuhan dan aroma debu yang menua.

Thomas mencoba semuanya. Surat ke kedutaan, email ke organisasi internasional, lobi ke LSM. Akhirnya, melalui jalur rahasia, dengan bantuan dari pejuang medis bawah tanah, aku diselundupkan keluar. Perjalanan panjang melewati terowongan yang gelap, bau tanah basah, dan deru napas ketakutan.

Di akhir lorong itu, ada cahaya. Bukan cahaya kemenangan, hanya cahaya kesempatan.

Aku tiba di Teheran, Iran.

Mereka menyambutku bukan sebagai simbol, tapi sebagai anak yang hidup. Aku ditempatkan di asrama pengungsi bersama anak-anak lainnya. Iran, negara yang selama ini dikatakan dunia sebagai ancaman, justru memberiku tempat untuk menulis, tidur, dan makan dengan tenang.

Di konferensi puisi kemanusiaan yang mereka adakan, aku membaca puisi pertamaku sendiri—bukan dibacakan Thomas, bukan di layar—tapi dari mulutku sendiri:

Puisi ke-50 – Kepada Dunia

Kalian membaca kami

seperti membaca puisi,

tanpa benar-benar ingin mengerti maknanya.

Kalian tepuk tangan,

berdiri, menangis,

lalu pulang ke rumah masing-masing

dan lupa mengganti selimut dunia yang koyak.

Apakah darah kami

harus berubah jadi minyak

agar kalian benar-benar peduli?

Malam itu, di konferensi itu, banyak orang memelukku. Wartawan mengambil foto. Stasiun televisi membuat laporan. Trending topic bermunculan.

Tapi aku tahu: semua ini bukan kemenangan.

Esoknya, bom masih meledak di kamp pengungsian. Sekolah masih ditutup. Bayi-bayi masih kehilangan susu. Bantuan masih tertahan di perbatasan. Dunia hanya mendengar. Dunia belum bergerak.

Thomas menemuiku di sela acara. Wajahnya lelah. “Kau tahu, Ayyash,” katanya. “Kita tidak bisa memaksa dunia untuk berubah secepat air mata jatuh. Tapi kita bisa membuat mereka merasa tak nyaman di kursi nyaman mereka.”

Aku mengangguk.

Hari-hari berlalu. Aku mulai diundang ke berbagai tempat. Di Turki, aku membaca puisiku di hadapan para pelajar. Di Prancis, aku ditanya oleh seorang anak, “Kenapa dunia membiarkan kalian mati?”

Aku menjawab, “Karena mereka lebih takut harga minyak naik daripada melihat anak sepertiku terbakar.”

Aku menulis lagi.

Puisi ke-55 – Dunia yang Menunggu

Kau tahu dunia tidak tuli,

hanya terlalu sibuk memilih

suara mana yang paling tidak membuat mereka bersalah.

Kami telah berteriak,

kami telah menulis,

kami telah menangis,

lalu diam—karena suara kami dipantulkan kembali

dengan kata: prosedur.

Kini aku tinggal sementara di Jenewa. Tapi pikiranku masih di kamp itu. Di tempat adikku dimakamkan diam-diam. Di bawah langit yang tak pernah berhenti mengirimkan amarah. Setiap malam, aku menatap langit dan menulis satu baris terakhir, belum selesai, belum siap ditutup:

“Langit, pulanglah. Kami tak tahan jadi rumah bagi kematian selamanya.”

itu, langit tampak sedikit lebih sunyi.

Dan aku mulai menulis bukan untuk bertahan hidup, tapi untuk menghidupkan kembali nama-nama yang dibungkam. Aku tahu kini, bahwa perang tak hanya tentang senjata, tapi juga tentang ingatan.

Dan aku akan terus menulis—hingga langit punya rumah. Bukan di udara, tapi di dalam hati orang-orang yang memilih untuk tidak diam.

Jakarta 23 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Puisi Yang Tidak Berjudul Di antara Cahaya Rembulan dan Matahari

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00