Dengarkan Artikel
Sore ini saya ketemu kopi. Dia mengajak saya ke era di mana kekuasaan dikendalikan para raja. Ada kesejahteraan dan ada keadilan, namun di era itu ada pula sebaliknya. Lalu kami bercerita soal Aesop, berdiskusi sedikit.
Dalam kisah Aesop, kuda yang merasa tersaingi dengan rusa mendatangi pemburu. “Wahai pemburu, maukah engkau membantuku dan engkau pun aku bantu”, tanya kuda pada pemburu. “Apa keinginanmu”, tanya pemburu.
Perjanjian keduanya menghasilkan kesepakatan, kuda harus bersedia dipasang bit (besi kendali)-logam yang masuk ke mulut kuda, tempat tali kekang terhubung, kemudian kendali (atau ikat kepala)-bagian yang melingkari kepala kuda dan menopang bagian lainnya, dan terakhir tali kekang-tali pengendali kuda yang dipegang penunggang. Terakhir, pelana untuk duduk penunggang atau dalam kisah Aesop, pemburu.
Konsesus membunuh rusa dengan konsekuensi kuda harus dipasang alat-alat tadi, kerap terjadi di dunia realitas. Entah itu dalam skala besar, seperti keterikatan beberapa negara terhadap negara lainnya, maupun skala personal. Jika kita kuda itu, maka kita akan ditunggangi oleh pemburu atau penunggang kita. Baik itu tahta, harta maupun wanita/laki.
Di Indonesia, kelompok penunggang biasanya mengendalikan Presiden hingga kepala daerah. Para penunggang itu, menganggap politisi sebagai kuda untuk mendapatkan buruan, entah itu emas, migas, nikel, regulasi, dan hal lain yang menguntungkan mereka.
Kawanan kuda liar semakin sedikit, kalaupun ada, akan diburu dengan bantuan kuda yang sudah jinak. Meski kuda jinak teman dari kuda liar, namun demi kepentingan dia dan pemburu, kuda liar pun disingkirkan.
Pertanyaan reflektif sore itu, “apakah kita kuda merdeka (liar) atau kuda yang sedang ditunggangi pemburu?”. Tidak harus di dunia politik, di dunia realitas harian pun demikian. Apakah kita dikendalikan orang yang kita cintai, apakah kita dikendalikan orang yang kita benci, hingga kita hidup sesuai keinginan penunggang. Meski sama kepentingan, tetap saja kita ditunggangi.
Sebelum menulis artikel ini, saya sempat membaca buku yang memberikan beberapa hipotesis. Terlepas fakta empirisnya ada dan nyata, namun pikiran saya tak mau ditunggangi pikiran penulis buku itu. Dia mengatakan begini; “calon otoriter biasanya dibantu penguasa sebelumnya”. Dia beri contoh Benito Mussolini, Adolf Hitler, Hugo Chavez, Alberto Fujimori, barangkali jika buku ditulis di tahun 2024 ia akan memasukan Prabowo di dalam daftarnya.
📚 Artikel Terkait
Ini agak paradoks dengan cerita Aesop, namun saya menangkap hal yang belum dia teliti. Kelompok berkuasa di belakang layar yang kita kenal dengan oligarki, para pengusaha kaya, maupun negara lain pendukung calon otoriter. Sebuah suksesi presiden tampak mustahil tidak melibatkan mereka, apalagi di era demokrasi.
Bila nantinya Prabowo menjadi Mussolini, Adolf Hitler era digital, pandangan penulis itu ada benarnya. Prabowo dibantu Jokowi masuk dalam lingkar kekuasaan, menjadi Menhan dan kemudian presiden. Pertanyaan kemudian muncul, apakah Prabowo akan membalas jasa Jokowi dengan melindungi si mantan atau malah akan menjadi otoriter baru. Atau ia akan menjadi keduanya maupun tidak keduanya.
Spekulasi apapun boleh, kita sebagai rakyat pasti harus siap dengan segala konsekuensi. Prabowo meraih suara terbanyak dari pemilih yang berhak. Ia dianggap pantas oleh takdir dan mayoritas untuk mengepalai Indonesia. Tapi pertanyaannya kemudian, apakah kepala negara memiliki otak sehat, sampah, atau kosong? Jika kosong siapa otaknya, jika sampah segera buang sampah, jika sehat maka jaga kesehatan otak.
Jika Prabowo menggunakan pikiran Plato, ia akan bijaksana, namun negara ideal belum akan hadir di Indonesia. Mengingat, Machiavellian masih begitu kuat bahkan mengakar di segala arah. Jika Jokowi menggunakan bawahan melakukan korupsi dan kemudian beberapa ditangkap demi citranya sementara yang lain dilindungi demi memuluskan masa pensiun, publik terutama saya wajib bertanya;”apakah Prabowo akan melakukan pola yang sama?”.
Saya tidak akan meminta Prabowo menjawab dengan lisan dan tulisan. Saya pun tidak berharap apapun, biar waktu dan sejarah yang mengetik tindakan dan sikap dia. Saya dan Anda cukup baca ketikan sejarah itu. Boleh dijadikan pelajaran, boleh pula diabaikan. Keduanya punya resiko jangka pendek, menengah dan masa depan.
Prabowo juga tidak perlu mengatakan siapa penunggangnya, tak perlu juga membantah bahwa ia merdeka. Ia kuda maupun macan asia, toh kedua hewan itu kerap.jadi hiburan. Satunya di sirkus, dan satunya lagi di pacuan kuda. Mereka memperkaya pemilik dan menghibur rakyat. Beberapa orang malah bertaruh di pacuan kuda, apakah saat pilpres para oligarki juga taruhan?.
Maaf, agak ngelantur, namun ini hanya tulisan lucu-lucuan. Tidak perlu serius. Tidak perlu marah-marah bagi pendukung fanatik Prabowo maupun Jokowi, saya hanya memaparkan apa adanya, bukan memaparkan yang seharusnya seperti kerja para buzzer politik. Karena, Iblis pun akan saya bela jika dia benar dan malaikat pun akan saya lawan jika ia salah. Namun Prabowo dan Jokowi bukan keduanya, mereka lebih tinggi drajatnya dari Malaikat bila melakukan tugasnya dengan benar dan sebaliknya.
Hal yang sama juga terjadi pada kita. Bila moral kita pada titik nista, kita tak lebih mulia dari binatang. Apalagi bila kita ditunggangi benda-benda mati, semisal harta dan uang maupun hasrat biologis, hasrat sosiologis (pujian eksternal), bahkan ditunggangi alam gaib bernama judi online.
Ini bukan bermakna kita dilarang kritik penguasa, kritik itu bermanfaat bagi mereka dan berguna bagi kita. Bahkan Yang Maha Kuasa dalam ‘proyek’ penciptaan Adam bertanya pada Malaikat dan Iblis. Itulah demokrasi, terlebih lagi kita sesama manusia, sama-sama ciptaanNya, wajar saling bertanya dan kritik, ini formula peradaban yang harus ditradisikan.
Mengakhiri diskusi jarak jauh kita, saya ingin bertanya; “apakah Prabowo dan Jokowi pantas menjadi kepala negara meski takdir dan mayoritas mengatakan pantas?” silakan berinteraksi dengan saya secara tulisan. Saya tunggu tulisan Anda di media ini. Selamat meresapi tulisan ini dan mulailah menulis dengan jujur. AI membantu namun menyerahkan pada AI sepenuhnya apalagi plagiat, itu bermakna engkau telah menjadi kuda tunggangan AI. Paham sayang?
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






