Dengarkan Artikel
Oleh Nita Juniarti
İni di Aceh Barat Daya, pada 22 Juni 2025 . Di sebuah sudut yang tenang di Aceh Barat Daya, warung kopi Banda Bungo, jauh dari hiruk pikuk kota. Udara pagi ini dipenuhi aroma sawah bercampur dengan wangi khas sagu yang mulai diolah. Bukan di dapur tradisional, melainkan di sebuah acara komunitas yang riuh rendah dengan celotehan anak-anak. Inilah pemandangan dari inisiatif terbaru Sigupai Mambaco, sebuah gerakan literasi lokal yang tak hanya membaca buku, tapi juga merajut kembali benang-benang budaya.
Kegiatan baca nyaring istimewa berbahasa Singkil hari ini terasa berbeda. Buku yang dibaca berjudul “Yuk Mengenal Lompong Sagu” karya Megawati Munte dan diilustrasi oleh Zuhri. Sebuah pilihan cerdas, karena buku ini tidak hanya berisi teks, tapi juga proyek kuliner.
Ini bukan sekadar membaca. Ini tentang melestarikan. Baca nyaring istimewa karena kegiatan ini melibatkan properti, dan yang paling penting, ada proyek nyata yang mereka kerjakan setelah membaca. Hari ini, karena ceritanya tentang lompong sagu, ya, anak-anak ini akan membuat lompong sagu langsung.
Dari Halaman Buku ke Piring Saji: Petualangan Lompong Sagu
Untuk anak-anak, buku “Yuk Mengenal Lompong Sagu” adalah gerbang menuju dunia baru. Setiap kata berbahasa Singkil yang dilafalkan, setiap gambar yang dilihat, adalah undangan untuk berpartisipasi. Dengan bimbingan para fasilitator yang disebut dengan koki Meri, tangan-tangan mungil itu mulai aktif meracik, menguleni, hingga membentuk adonan sagu menjadi lompong.
📚 Artikel Terkait
“Kita dapat mengenal pembuatan lompong sagu secara langsung, dan dapat bertemu dengan kawan-kawan!” seru Salwa (9 tahun), dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan. Baginya, pengalaman ini jauh lebih berkesan daripada sekadar membaca di kelas. Ini adalah belajar sambil berkreasi, belajar sambil merasakan, dan belajar sambil berbagi.
Bagi para orang tua yang hadir, momen ini adalah kilas balik ke masa lalu. Aroma sagu yang familiar, bentuk adonan yang mengingatkan pada masa kecil, semua itu membangkitkan nostalgia. Ami, salah satu ibu yang mendampingi anaknya, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Bagi orang tua, setelah kegiatan ini, bisa membuat lompong sagu bersama anak.
Alhamdulillah acara hari ini sangat bagus. Kalau bisa, acara begini dibuat seminggu sekali. Jadi, bisa memperluas wawasan anak dan orang tua,” harapnya.
Lebih dari Sekadar Literasi: Membangun Identitas Budaya
Program Sigupai Mambaco ini bukan hanya tentang meningkatkan minat baca. Ini adalah upaya strategis untuk melestarikan Bahasa Singkil, salah satu bahasa ibu yang ada di Aceh. Melalui diskusi interaktif, di mana anak-anak didorong untuk bertanya, berpendapat, dan bahkan menceritakan kembali kisah dalam bahasa Singkil, fondasi identitas budaya mereka semakin kuat.
Terbukti, dengan 21 pendaftar yang antusias, kepedulian terhadap warisan budaya tak benda ini masih sangat besar. Di tengah derasnya arus globalisasi, inisiatif seperti Sigupai Mambaco menjadi mercusuar, menunjukkan bahwa melestarikan bahasa dan budaya lokal bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Agenda ini dilaksanakan oleh Randa, Awir, Sunniah, Meri dan Nita sebagai tim dari Sigupai Mambaco.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






