• Latest
Pemimpin yang Tidak Bijaksana

Pemimpin yang Tidak Bijaksana

Juni 11, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pemimpin yang Tidak Bijaksana

Redaksiby Redaksi
Juni 11, 2025
in Essay
Reading Time: 4 mins read
Pemimpin yang Tidak Bijaksana
599
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Wiji Lestari
Kepala SMK Musa Cepu

Di sebuah negeri kecil yang subur dan damai bernama Alaya, masyarakat hidup rukun dalam keberagaman. Negeri itu memiliki hutan yang hijau, sungai yang jernih, dan hasil bumi yang melimpah. Namun, kehidupan masyarakat Alaya mulai berubah ketika pemimpin baru terpilih: Tuan Agra.

Tuan Agra dikenal sebagai tokoh yang pandai berbicara. Ia sering mengatakan bahwa ia ingin membawa kemajuan dan kemakmuran bagi rakyat. Namun, perlahan-lahan rakyat mulai melihat sisi lain dari kepemimpinannya.


Setelah menjabat, Tuan Agra membentuk kelompok penasihat yang seluruhnya terdiri dari teman-temannya sendiri—orang-orang yang satu pandangan dengannya dan berasal dari wilayah yang sama. Keputusan-keputusan penting seperti pembangunan jalan, alokasi dana pendidikan, dan distribusi bantuan pangan, semuanya diprioritaskan untuk wilayah tempat para pendukungnya tinggal.

Desa-desa lain yang berbeda pilihan politik dan tidak sejalan dengan kelompok Tuan Agra, perlahan-lahan terpinggirkan. Sekolah-sekolah di sana rusak dan tidak diperbaiki. Puskesmas kekurangan tenaga medis. Bahkan akses air bersih pun menjadi masalah.

“Apakah ini yang disebut pemimpin untuk semua?” tanya Pak Lurah Seno, pemimpin Desa Rahayu yang mengalami ketimpangan pembangunan.


Salah satu proyek besar Tuan Agra adalah membuka lahan pertambangan emas di wilayah hutan adat. Proyek itu katanya akan memberikan “manfaat besar” bagi ekonomi. Namun kenyataannya, proyek itu justru merusak lingkungan dan mengabaikan hak-hak masyarakat adat yang tinggal di sana selama ratusan tahun.

Hutan dibabat, sungai tercemar, dan satwa langka kehilangan habitatnya. Warga yang protes dituduh sebagai “penghambat pembangunan.” Anak-anak tidak lagi bisa bermain di sungai, dan tanah yang dulunya subur tak lagi bisa ditanami.

Dalam sebuah diskusi pelajar di kota Alaya, seorang siswa bernama Mita mengangkat tangan dan bertanya,
“Jika pembangunan menghancurkan kehidupan banyak orang dan makhluk lain, apakah itu masih bisa disebut kemajuan?”

Pertanyaan itu membuat banyak orang dewasa terdiam.


Dalam teori kepemimpinan modern, seorang pemimpin seharusnya berlaku adil dan mengutamakan kepentingan umum di atas golongan. Ilmuwan sosial Max Weber menjelaskan bahwa pemimpin ideal adalah mereka yang memiliki etos tanggung jawab, bukan etos kekuasaan. Artinya, keputusan yang diambil harus didasarkan pada manfaat jangka panjang dan keadilan sosial.

Sayangnya, Tuan Agra lebih tertarik memperkuat kekuasaan. Ia membangun istana mewah untuk dirinya dan kelompoknya, sementara harga kebutuhan pokok naik dan anggaran kesehatan dipangkas. Banyak orang mulai kehilangan kepercayaan.

“Negeri ini bukan milik satu kelompok saja,” kata Bu Intan, guru sejarah yang prihatin. “Jika pemimpin hanya berpikir tentang kelompoknya sendiri, maka negeri ini akan terpecah dan lemah.”


Rakyat Alaya tak tinggal diam. Mahasiswa, guru, petani, dan tokoh adat mulai menyuarakan keprihatinan. Mereka membentuk gerakan Alaya Bersatu, yang menyebarkan edukasi tentang pentingnya pemimpin yang adil, transparan, dan berpihak pada semua, bukan hanya kelompok tertentu.

Anak-anak belajar kembali nilai-nilai dasar kepemimpinan: kejujuran, keberanian, empati, dan tanggung jawab. Sekolah-sekolah mengadakan lomba karya tulis bertema “Pemimpin Idamanku”, dan hasilnya sungguh menyentuh.

Salah satu kutipan dari tulisan murid bernama Rafi berbunyi:

“Pemimpin itu seperti akar pohon. Ia tidak terlihat, tapi menopang semua bagian pohon agar bisa tumbuh dan memberi buah. Jika akarnya hanya menumbuhkan cabang tertentu, pohon itu akan miring dan tumbang.”


Gerakan rakyat terus tumbuh. Mereka menyuarakan aspirasi secara damai, menggunakan data dan fakta untuk menunjukkan ketimpangan yang terjadi. Tekanan moral dan sosial akhirnya membuat lembaga pengawas turun tangan. Investigasi dilakukan, dan beberapa proyek Tuan Agra dinyatakan melanggar prinsip tata kelola yang baik.

Pemilihan umum berikutnya menjadi momentum perubahan. Rakyat tidak lagi terbuai oleh janji manis, melainkan memilih berdasarkan rekam jejak, integritas, dan visi pemimpin. Tuan Agra pun digantikan oleh pemimpin baru yang berkomitmen untuk membangun negeri bersama rakyat, bukan untuk segelintir kelompok.

Baca Juga

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Januari 2, 2026
Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Januari 2, 2026
ADVERTISEMENT

Cerita ini bukan hanya tentang Tuan Agra. Ini adalah cermin bagi kita semua—bahwa kepemimpinan adalah amanah besar. Seorang pemimpin tidak boleh hanya memikirkan dirinya atau kelompoknya, melainkan seluruh rakyat yang dipimpinnya. Dalam ilmu politik dan etika publik, pemimpin sejati adalah mereka yang berani bersikap adil, meski itu tidak populer di kalangan dekatnya.

Pemimpin yang bijaksana bukan yang paling kuat, tapi yang paling mampu melayani.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Anak-anak (belajar) Jujur

Anak-anak (belajar) Jujur

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com