• Latest
Pemimpin yang Tidak Bijaksana - 2025 06 11 20 59 49 | Essay | Potret Online

Pemimpin yang Tidak Bijaksana

Juni 11, 2025

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Pemimpin yang Tidak Bijaksana

Redaksi by Redaksi
Juni 11, 2025
in Essay
Reading Time: 4 mins read
0
Pemimpin yang Tidak Bijaksana - 2025 06 11 20 59 49 | Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Wiji Lestari
Kepala SMK Musa Cepu

Di sebuah negeri kecil yang subur dan damai bernama Alaya, masyarakat hidup rukun dalam keberagaman. Negeri itu memiliki hutan yang hijau, sungai yang jernih, dan hasil bumi yang melimpah. Namun, kehidupan masyarakat Alaya mulai berubah ketika pemimpin baru terpilih: Tuan Agra.

Tuan Agra dikenal sebagai tokoh yang pandai berbicara. Ia sering mengatakan bahwa ia ingin membawa kemajuan dan kemakmuran bagi rakyat. Namun, perlahan-lahan rakyat mulai melihat sisi lain dari kepemimpinannya.


Setelah menjabat, Tuan Agra membentuk kelompok penasihat yang seluruhnya terdiri dari teman-temannya sendiri—orang-orang yang satu pandangan dengannya dan berasal dari wilayah yang sama. Keputusan-keputusan penting seperti pembangunan jalan, alokasi dana pendidikan, dan distribusi bantuan pangan, semuanya diprioritaskan untuk wilayah tempat para pendukungnya tinggal.

Desa-desa lain yang berbeda pilihan politik dan tidak sejalan dengan kelompok Tuan Agra, perlahan-lahan terpinggirkan. Sekolah-sekolah di sana rusak dan tidak diperbaiki. Puskesmas kekurangan tenaga medis. Bahkan akses air bersih pun menjadi masalah.

“Apakah ini yang disebut pemimpin untuk semua?” tanya Pak Lurah Seno, pemimpin Desa Rahayu yang mengalami ketimpangan pembangunan.


Salah satu proyek besar Tuan Agra adalah membuka lahan pertambangan emas di wilayah hutan adat. Proyek itu katanya akan memberikan “manfaat besar” bagi ekonomi. Namun kenyataannya, proyek itu justru merusak lingkungan dan mengabaikan hak-hak masyarakat adat yang tinggal di sana selama ratusan tahun.

Hutan dibabat, sungai tercemar, dan satwa langka kehilangan habitatnya. Warga yang protes dituduh sebagai “penghambat pembangunan.” Anak-anak tidak lagi bisa bermain di sungai, dan tanah yang dulunya subur tak lagi bisa ditanami.

Dalam sebuah diskusi pelajar di kota Alaya, seorang siswa bernama Mita mengangkat tangan dan bertanya,
“Jika pembangunan menghancurkan kehidupan banyak orang dan makhluk lain, apakah itu masih bisa disebut kemajuan?”

Pertanyaan itu membuat banyak orang dewasa terdiam.


Dalam teori kepemimpinan modern, seorang pemimpin seharusnya berlaku adil dan mengutamakan kepentingan umum di atas golongan. Ilmuwan sosial Max Weber menjelaskan bahwa pemimpin ideal adalah mereka yang memiliki etos tanggung jawab, bukan etos kekuasaan. Artinya, keputusan yang diambil harus didasarkan pada manfaat jangka panjang dan keadilan sosial.

Sayangnya, Tuan Agra lebih tertarik memperkuat kekuasaan. Ia membangun istana mewah untuk dirinya dan kelompoknya, sementara harga kebutuhan pokok naik dan anggaran kesehatan dipangkas. Banyak orang mulai kehilangan kepercayaan.

“Negeri ini bukan milik satu kelompok saja,” kata Bu Intan, guru sejarah yang prihatin. “Jika pemimpin hanya berpikir tentang kelompoknya sendiri, maka negeri ini akan terpecah dan lemah.”


Rakyat Alaya tak tinggal diam. Mahasiswa, guru, petani, dan tokoh adat mulai menyuarakan keprihatinan. Mereka membentuk gerakan Alaya Bersatu, yang menyebarkan edukasi tentang pentingnya pemimpin yang adil, transparan, dan berpihak pada semua, bukan hanya kelompok tertentu.

Anak-anak belajar kembali nilai-nilai dasar kepemimpinan: kejujuran, keberanian, empati, dan tanggung jawab. Sekolah-sekolah mengadakan lomba karya tulis bertema “Pemimpin Idamanku”, dan hasilnya sungguh menyentuh.

Salah satu kutipan dari tulisan murid bernama Rafi berbunyi:

“Pemimpin itu seperti akar pohon. Ia tidak terlihat, tapi menopang semua bagian pohon agar bisa tumbuh dan memberi buah. Jika akarnya hanya menumbuhkan cabang tertentu, pohon itu akan miring dan tumbang.”


Gerakan rakyat terus tumbuh. Mereka menyuarakan aspirasi secara damai, menggunakan data dan fakta untuk menunjukkan ketimpangan yang terjadi. Tekanan moral dan sosial akhirnya membuat lembaga pengawas turun tangan. Investigasi dilakukan, dan beberapa proyek Tuan Agra dinyatakan melanggar prinsip tata kelola yang baik.

Pemilihan umum berikutnya menjadi momentum perubahan. Rakyat tidak lagi terbuai oleh janji manis, melainkan memilih berdasarkan rekam jejak, integritas, dan visi pemimpin. Tuan Agra pun digantikan oleh pemimpin baru yang berkomitmen untuk membangun negeri bersama rakyat, bukan untuk segelintir kelompok.


Cerita ini bukan hanya tentang Tuan Agra. Ini adalah cermin bagi kita semua—bahwa kepemimpinan adalah amanah besar. Seorang pemimpin tidak boleh hanya memikirkan dirinya atau kelompoknya, melainkan seluruh rakyat yang dipimpinnya. Dalam ilmu politik dan etika publik, pemimpin sejati adalah mereka yang berani bersikap adil, meski itu tidak populer di kalangan dekatnya.

Pemimpin yang bijaksana bukan yang paling kuat, tapi yang paling mampu melayani.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Pemimpin yang Tidak Bijaksana - 2025 06 12 08 29 44 | Essay | Potret Online

Anak-anak (belajar) Jujur

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com