POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sekolah Puluhan Juta Demi Gaji Tiga Juta

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
June 7, 2025
Sekolah Puluhan Juta Demi Gaji Tiga Juta
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

Di negeri ini, pendidikan telah lama dipuja sebagai tangga menuju kesejahteraan. Namun, tangga itu kini semakin mahal dan licin. Mulai dari jenjang dasar hingga universitas, biaya pendidikan bisa menguras kantong hingga puluhan juta rupiah. Ironisnya, mahalnya biaya pendidikan tidak sejalan dengan kesejahteraan para pendidik dan tidak selalu menjamin masa depan cerah bagi para lulusannya.

Mari kita tengok sekolah dasar swasta. Untuk memasukkan anak ke SD swasta bergengsi, orang tua harus merogoh kocek belasan hingga puluhan juta rupiah hanya untuk uang masuk. Belum termasuk SPP bulanan, seragam, kegiatan ekstrakurikuler, dan biaya-biaya tambahan lainnya. Tentu saja, ini pilihan yang dianggap “lebih baik” oleh banyak orang tua karena keterbatasan kualitas di sekolah negeri. Namun, siapa sangka, di balik megahnya fasilitas dan mahalnya tarif, masih banyak guru di sekolah-sekolah ini yang digaji berdasarkan standar Upah Minimum Kabupaten (UMK), atau bahkan di bawahnya.

Ini realitas menyakitkan: guru sebagai pilar pendidikan, justru menjadi profesi yang jauh dari kata sejahtera. Dengan tanggung jawab besar dalam mencerdaskan generasi bangsa, banyak dari mereka harus bertahan hidup dengan penghasilan yang nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sebuah ironi: sekolah mahal, guru tak makmur.

Lalu bagaimana dengan sekolah negeri yang katanya “gratis”? Nyatanya, tidak ada sekolah yang benar-benar bebas biaya. Meski tidak ada SPP, orang tua tetap harus menyiapkan biaya untuk buku tulis, seragam, transportasi, hingga uang kas kelas atau hadiah guru saat kenaikan kelas. Bagi keluarga dengan penghasilan tetap, mungkin ini tak terasa memberatkan. Tapi bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan, setiap lembar rupiah adalah soal makan atau tidak hari ini. Maka tak heran, banyak anak dari keluarga miskin yang akhirnya terpaksa turun ke jalan, bekerja lebih awal, dan menggantung cita-cita di langit yang tak lagi tergapai.

📚 Artikel Terkait

Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang

Rika Fatimah : Tantangan Agar Tetap Sustainable, Bagi Model G2RT DIY

Pembangunan Pijay Dinilai Lamban

Hujan Pagi ini

Setelah lulus 12 tahun pendidikan dasar dan menengah, tantangan biaya belum selesai. Di tingkat universitas, angka biaya pendidikan kembali melonjak. Uang pangkal masuk perguruan tinggi swasta bisa setara dengan modal membuka minimarket. Biaya semesteran yang jutaan rupiah per enam bulan, biaya praktikum, skripsi, dan wisuda, menjadikan gelar sarjana sebagai simbol perjuangan finansial, bukan hanya intelektual.

Sayangnya, selebrasi kelulusan hanya bertahan sehari. Setelah itu, para lulusan menghadapi kenyataan: sulitnya mencari pekerjaan yang layak. Persaingan kerja semakin ketat, lapangan kerja menyempit, dan gaji yang ditawarkan kadang tidak sepadan dengan investasi biaya dan waktu semasa kuliah. Harapan gaji dua digit saat lulus harus ditebus dengan realita: digaji tiga juta rupiah saja sudah patut bersyukur. Tak sedikit yang akhirnya menerima pekerjaan apa pun demi sekadar bertahan hidup dan menjaga gengsi sebagai seorang sarjana.

Lebih ironis lagi, jika kita membandingkan penghasilan lulusan perguruan tinggi dengan tukang parkir atau pedagang kaki lima yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Tak jarang, mereka justru punya tabungan lebih besar, hidup lebih stabil, bahkan sudah berangkat umroh berkali-kali. Ini bukan untuk merendahkan profesi apa pun, tapi untuk membuka mata bahwa sistem pendidikan kita tak cukup adil bagi mereka yang menggantungkan harapan besar padanya.

Pendidikan seharusnya menjadi jalan pembebas, bukan beban yang membelenggu. Saat ini, sistem pendidikan kita lebih mirip investasi jangka panjang dengan imbal hasil yang tidak pasti. Di tengah semangat belajar yang masih tinggi di kalangan masyarakat, negara harus hadir lebih serius: memperjuangkan kesejahteraan guru, memperluas akses pendidikan bermutu, dan memastikan bahwa sekolah bukan hanya mesin pencetak ijazah, tetapi juga alat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Jika tidak, maka akan terus lahir generasi baru yang sekolah mahal hanya untuk akhirnya rela digaji murah. Dan itu, adalah kegagalan bersama.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
What is Scholasticide?

Leiden University Launches Powerful "Picturing Scholasticide" Exhibition

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00