• Latest
Sekolah Puluhan Juta Demi Gaji Tiga Juta

Sekolah Puluhan Juta Demi Gaji Tiga Juta

Juni 7, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sekolah Puluhan Juta Demi Gaji Tiga Juta

Ririe Aikoby Ririe Aiko
Juni 7, 2025
Reading Time: 3 mins read
Sekolah Puluhan Juta Demi Gaji Tiga Juta
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Ririe Aiko

Di negeri ini, pendidikan telah lama dipuja sebagai tangga menuju kesejahteraan. Namun, tangga itu kini semakin mahal dan licin. Mulai dari jenjang dasar hingga universitas, biaya pendidikan bisa menguras kantong hingga puluhan juta rupiah. Ironisnya, mahalnya biaya pendidikan tidak sejalan dengan kesejahteraan para pendidik dan tidak selalu menjamin masa depan cerah bagi para lulusannya.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Mari kita tengok sekolah dasar swasta. Untuk memasukkan anak ke SD swasta bergengsi, orang tua harus merogoh kocek belasan hingga puluhan juta rupiah hanya untuk uang masuk. Belum termasuk SPP bulanan, seragam, kegiatan ekstrakurikuler, dan biaya-biaya tambahan lainnya. Tentu saja, ini pilihan yang dianggap “lebih baik” oleh banyak orang tua karena keterbatasan kualitas di sekolah negeri. Namun, siapa sangka, di balik megahnya fasilitas dan mahalnya tarif, masih banyak guru di sekolah-sekolah ini yang digaji berdasarkan standar Upah Minimum Kabupaten (UMK), atau bahkan di bawahnya.

Ini realitas menyakitkan: guru sebagai pilar pendidikan, justru menjadi profesi yang jauh dari kata sejahtera. Dengan tanggung jawab besar dalam mencerdaskan generasi bangsa, banyak dari mereka harus bertahan hidup dengan penghasilan yang nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sebuah ironi: sekolah mahal, guru tak makmur.

Lalu bagaimana dengan sekolah negeri yang katanya “gratis”? Nyatanya, tidak ada sekolah yang benar-benar bebas biaya. Meski tidak ada SPP, orang tua tetap harus menyiapkan biaya untuk buku tulis, seragam, transportasi, hingga uang kas kelas atau hadiah guru saat kenaikan kelas. Bagi keluarga dengan penghasilan tetap, mungkin ini tak terasa memberatkan. Tapi bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan, setiap lembar rupiah adalah soal makan atau tidak hari ini. Maka tak heran, banyak anak dari keluarga miskin yang akhirnya terpaksa turun ke jalan, bekerja lebih awal, dan menggantung cita-cita di langit yang tak lagi tergapai.

Setelah lulus 12 tahun pendidikan dasar dan menengah, tantangan biaya belum selesai. Di tingkat universitas, angka biaya pendidikan kembali melonjak. Uang pangkal masuk perguruan tinggi swasta bisa setara dengan modal membuka minimarket. Biaya semesteran yang jutaan rupiah per enam bulan, biaya praktikum, skripsi, dan wisuda, menjadikan gelar sarjana sebagai simbol perjuangan finansial, bukan hanya intelektual.

Sayangnya, selebrasi kelulusan hanya bertahan sehari. Setelah itu, para lulusan menghadapi kenyataan: sulitnya mencari pekerjaan yang layak. Persaingan kerja semakin ketat, lapangan kerja menyempit, dan gaji yang ditawarkan kadang tidak sepadan dengan investasi biaya dan waktu semasa kuliah. Harapan gaji dua digit saat lulus harus ditebus dengan realita: digaji tiga juta rupiah saja sudah patut bersyukur. Tak sedikit yang akhirnya menerima pekerjaan apa pun demi sekadar bertahan hidup dan menjaga gengsi sebagai seorang sarjana.

Lebih ironis lagi, jika kita membandingkan penghasilan lulusan perguruan tinggi dengan tukang parkir atau pedagang kaki lima yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Tak jarang, mereka justru punya tabungan lebih besar, hidup lebih stabil, bahkan sudah berangkat umroh berkali-kali. Ini bukan untuk merendahkan profesi apa pun, tapi untuk membuka mata bahwa sistem pendidikan kita tak cukup adil bagi mereka yang menggantungkan harapan besar padanya.

Pendidikan seharusnya menjadi jalan pembebas, bukan beban yang membelenggu. Saat ini, sistem pendidikan kita lebih mirip investasi jangka panjang dengan imbal hasil yang tidak pasti. Di tengah semangat belajar yang masih tinggi di kalangan masyarakat, negara harus hadir lebih serius: memperjuangkan kesejahteraan guru, memperluas akses pendidikan bermutu, dan memastikan bahwa sekolah bukan hanya mesin pencetak ijazah, tetapi juga alat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Jika tidak, maka akan terus lahir generasi baru yang sekolah mahal hanya untuk akhirnya rela digaji murah. Dan itu, adalah kegagalan bersama.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
What is Scholasticide?

Leiden University Launches Powerful "Picturing Scholasticide" Exhibition

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com