Dengarkan Artikel
Noyo Gimbal: Rambut Panjang Perlawanan dari Hutan Blora
Oleh Luhur Susilo
Guru SMPN 1 Sambong dan Pengurus Satupena Kabupaten Blora
Dalam sejarah bangsa, tak semua pahlawan dimakamkan dengan tanda jasa. Beberapa justru terkubur dalam senyap, namanya hanya hidup di cerita rakyat. Salah satunya adalah Noyo Gimbal, pejuang dari Blora, yang rambutnya panjang karena sumpah tak akan digunting sampai penjajah hengkang dari tanah Jawa.
Noyo Gimbal, atau Noyo Sentiko, bukan bangsawan atau prajurit kerajaan. Ia rakyat biasa, tapi semangatnya membakar perlawanan. Ia hidup di abad ke-18, bergerilya dari gunung ke gunung, dari desa ke desa, menantang kekuasaan kolonial yang menindas.
Menurut Liputan6.com (20/3/2024), ia memulai tapabrata di Gunung Genuk, lalu mengumpulkan kekuatan di Gunung Surak. Pasukannya terdiri dari rakyat jelata—berandal, petani, santri, bahkan keturunan Tionghoa—semuanya bersatu demi satu cita: kemerdekaan.
Salah satu pertempuran paling dikenang terjadi di Tireman, Rembang. Pusakanya, sebuah payung sakti, hangus kena meriam Belanda. Tapi api perjuangannya tak padam. Justru kobarannya makin besar, membakar semangat rakyat yang selama ini terbungkam.
Di Masjid Jami’ Lasem, usai Shalat Jumat, rakyat dari berbagai kalangan bersumpah angkat senjata. Dari situ, perang rakyat pun meletus. Noyo Gimbal berdiri di garis depan. Rambutnya yang terus memanjang menjadi simbol janji yang tak pernah dikhianati.
Perlawanan pun bergulir hingga ke Blora. Di Desa Bangsri, terjadi perang terbuka. Rambut Noyo Gimbal konon basah oleh darah musuh. Dari perjalanannya muncul nama-nama desa seperti Nglorong, Ngrapah, Kemiri—jejak-jejak sejarah yang kini luput dari ingatan bangsa.
Namun Belanda tak tinggal diam. Ketika senjata tak mempan, racun jadi jalan. Konon, lewat makanan beracun, Noyo Gimbal ditaklukkan. Ia ditangkap, tubuhnya diikat, dimasukkan ke tong besi, lalu diceburkan ke laut. Hingga kini, tak ada yang tahu di mana jasadnya bersemayam.
📚 Artikel Terkait
Hanya sebuah monumen di Desa Bangsri yang berdiri untuk mengenang. Tapi bagi rakyat kecil, nama Noyo Gimbal telah menjadi legenda: pelindung kaum papa, pembela yang tak tunduk pada ketakutan. Ia bukan sekadar manusia, tapi semangat yang menolak padam.
Cerita rakyat memang bisa menyimpan bias, tapi ada catatan sejarah yang menguatkannya. Dalam Java-Bode dan De Oostpost (28 Mei 1856), Noyo Sentiko disebut sebagai dukun dari Sedan, Rembang, yang menolak panggilan pejabat kolonial. Ia dianggap pemberontak setelah membunuh Wedhono dan membakar gudang tembakau milik pengusaha Belanda.
Disebutkan, motifnya adalah dendam. Ia pernah bekerja pada Wedhono, tapi diusir secara kasar. Namun apakah semua perlawanan harus dimulai dari dendam? Atau justru dari keadilan yang dirampas dan martabat yang diinjak?
Noyo Sentiko lalu melarikan diri ke hutan perbatasan Jatirogo. Di sana ia menjadi pelindung rakyat kecil, memberi jimat, tolak bala, dan harapan. Dalam tradisi Saminisme, ia disebut sebagai saudara seperguruan Suro Sentiko, tokoh “ahimsa” Blora.
Cerita ini menyimpan pelajaran. Bahwa perlawanan tak selalu datang dari istana. Kadang muncul dari mereka yang dianggap “biasa”. Seorang berambut gimbal dari pelosok hutan, yang rela hidup sebagai pelarian demi membela harga diri bangsanya.
Hari ini, kita mungkin tak lagi mengangkat senjata. Tapi kolonialisme punya rupa baru: keserakahan, ketimpangan, pengkhianatan pada kearifan lokal. Lalu, siapa yang akan menjadi Noyo Gimbal di zaman ini?
Ia mengajarkan bahwa perjuangan tidak harus tercatat di buku sejarah, tapi bisa hidup dalam tindakan sehari-hari. Dalam keberanian menolak ketidakadilan. Dalam pilihan hidup yang tak tunduk pada kemapanan yang salah arah.
Kisah Noyo Gimbal adalah cermin. Apakah kita masih punya nyali seperti dia? Ataukah kita telah rapi disisir oleh kenyamanan, lupa bahwa rambut panjang itu pernah menjadi janji untuk tanah air?
Sejarah adalah tentang keberanian mengingat. Dan Noyo Gimbal adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah dijaga oleh tangan-tangan rakyat yang berani berkata tidak. Meski tanpa gelar, tanpa upacara, dan tanpa pusara.
Daftar Pustaka:
• Liputan6.com. “Kisah Hidup Noyo Gimbal, Pejuang Anti Kolonial dari Blora.” 20 Maret 2024.
• Java-Bode & De Oostpost, 28 Mei 1856.
• Serat Punjer Kawitan, naskah tradisional Samin.
• Hamonangan, Y. Fernando. “Kisah Naya Sentika, Legenda Rakyat Jawa Tengah.” 2 Oktober 2023.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





