POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Gaya Kepemimpinan Ala Mafioso

RedaksiOleh Redaksi
May 28, 2025
Gaya Kepemimpinan Ala Mafioso
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif 

Kepemimpinan dibutuhkan di semua lini kehidupan kita, di rumah, di sekolah, di perusahaan dan di organisasi. Lalu apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata mafia atau preman? Gambaran sosok seperti Tony Soprano dari serial The Sopranos atau Pablo Escobar dalam Narcos mungkin muncul atau berita tentang organisasi GRIB yang berselewaran di media media nasional dan daerah, pemimpin yang menebar ketakutan, mengontrol segalanya dengan kekerasan, dan membangun loyalitas lewat ancaman. 

Tapi tahukah kita bahwa gaya kepemimpinan seperti ini—meski sering dianggap kotor dan ilegal—ternyata memiliki sisi “efektif” yang kadang ditiru di dunia bisnis atau politik. Apa yang menarik dari gaya kepemimpinan ala mafioso antara plus-minusnya dengan sudut pandang ilmiah?  

Ketika “Premanisme” Menjadi Strategi Kepemimpinan 

Gaya kepemimpinan ala mafia tidak selalu identik dengan dunia kriminal. Dalam bentuk yang lebih halus, pola ini muncul di perusahaan, tim olahraga, atau bahkan organisasi politik. Pemimpin seperti ini mengandalkan kekuasaan mutlak, intimidasi, dan loyalitas buta. Mereka mungkin tidak menggunakan pistol, tetapi “senjata” seperti ancaman pemecatan, isolasi sosial, atau manipulasi psikologis pengikut pengikutnya, loyalis atau bahkan masyarakat luas yang tahu sepak terjangnya. 

Contoh Nyata: seorang  Steve Jobs pendiri Perusahaan tehnologi Apple, meskipun dikenal dengan sosok yang visioner, Jobs di sisi lain dikenal otoriter dan kerap mengintimidasi staf. Hasilnya? Inovasi brilian produk produk bisa menguasai pasar dunia,  meskipun tingkat stres karyawan karyawannya tinggi. Seperti halnya beberapa Pemimpin Otoriter di Perusahaan Startup. 

Banyak founder startup yang memaksakan kerja 24/7 dengan ancaman: “Kalau tidak setuju, keluar!”. Tim pekerjanya mungkin bergerak cepat, tetapi burnout merajalela.  Dalam situasi tertentu gaya kepemimpinan ini ada plusnya antara lain:

Pertama,  Disiplin” Instan, Hasil Cepat.

Dalam dunia yang serba cepat, gaya preman bisa memangkas birokrasi. Keputusan diambil sepihak, tanpa rapat berjam-jam. Bayangkan situasi krisis seperti kebangkrutan perusahaan: pemimpin otoriter mungkin menyelamatkan perusahaan dengan memotong divisi tertentu secara drastis. Tapi, ini seperti operasi bedah tanpa bius—berhasil, tapi menyakitkan.  

Kedua, Loyalitas Palsu yang Kuat.

Loyalitas dalam sistem mafia dibangun dari ketakutan, bukan rasa hormat. Bawahan patuh karena takut dipecat, dihina, atau “dihabisi” karirnya. Di industri dengan persaingan sengit (misal: sales properti), tekanan seperti ini bisa memacu tim mencapai target. Sayangnya, loyalitas ini rapuh. Begitu pemimpin lengah, bawahannya akan kabur atau memberontak.  

Ketiga, Kontrol Penuh.

Pemimpin preman biasanya sentralistik. Semua keputusan ada di tangannya, sehingga rahasia perusahaan lebih terjaga, sehingga memimalkan kebocoran informasi. Contoh: Keluarga mafia di Sisilia sukses menjaga bisnis ilegal mereka selama berdekade,  karena hierarki tertutup. Tapi, sistem ini rentan jika pemimpinnya sakit atau tertangkap.  

Dari beberapa kelebihan gaya kepemimpinan ini tentu saja memiliki kekurangannya seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja tergantung situasi. Hal hal tersebut bisa berdampak pada gaya kepemimpinan ini.

📚 Artikel Terkait

Memek Simeulue, Sekali Mencoba Terasa Nikmatnya

AL-UMMU MADSASATUL ULA DAN KONTROL TERHADAP KEKERASAN PADA ANAK

Perempuan Dengan Ember Hitam

Puisi Puisi Ali Kusas

Kreativitas Mati, Inovasi Mandek  

Coba kita bayangkan bekerja di lingkungan di mana setiap kritik dianggap pembangkangan. Karyawan hanya jadi “robot” yang menjalankan perintah. Perusahaan seperti Konika atau Blockbuster kolaps karena gagal berinovasi—salah satu penyebabnya adalah budaya takut mengambil risiko. Dalam jangka panjang, organisasi akan ketinggalan zaman dan akan ditinggalkan pasar.  

Reputasi Hancur, Hukum Mengintai 

Gaya kepemimpinan preman sering melibatkan pelanggaran: suap, pemerasan, atau eksploitasi. Contoh: Kasus Enron (skandal akuntansi) dipicu oleh budaya toxic pimpinan yang memaksa staf memanipulasi data. Begitu terungkap, reputasi hancur dan hukum menyeret.  

Terganggu kesehatan Mental Health  

Studi Harvard Business Review (2022) menunjukkan bahwa 65% karyawan di bawah bos otoriter mengalami kecemasan kronis. Turnover tinggi, produktivitas turun, dan biaya kesehatan mental perusahaan membengkak. Perusahaan bisa mencapai target kuartalan, tapi kehilangan talenta terbaik dalam 1-2 tahun.  

Runtuh Saat Pemimpin Pergi

Lihatlah bagaimana kartel narkoba Kolombia kacau setelah Pablo Escobar tewas. Di dunia korporat, perusahaan keluarga yang bergantung pada satu sosok pemimpin (misal: Toshiba) sering kolaps saat generasi penerus tak kompeten. Kelemahan gaya pepemimpinan preman tidak mewariskan sistem—hanya kultus individu.  

Apa yang bisa menjadi lesson learn bagi kita sebagai pelajaran  untuk pemimpin saat ini atau untuk para pemimpin di masa akan datang?  Gaya kepemimpinan preman/mafia mungkin menggoda, karena janji hasil instan. Tapi, seperti makan fast food setiap hari—efeknya merusak tubuh. Pemimpin abad ke-21 perlu belajar dari kesalahan kesalahan ini.

Ganti ancaman dengan empati

Loyalitas sejati lahir dari rasa dihargai, bukan takut.  

Dengarkan kritik

Tim yang berani berbicara adalah aset inovasi.  

– Bangun sistem, bukan kultus: Organisasi atau perusahaan yang bagus gaya kepemimpinannya bisa bertahan meski pemimpin berganti.  

Sebagai penutup dari tulisan ini, Bisakah “Preman” Berubah?  Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh hati nurani dari para pemimpin yang terus beradaptasi sesuai jamannya. Sejarah menunjukkan bahwa beberapa pemimpin otoriter bisa beradaptasi. Bill Gates di Microsoft awalnya dikenal keras, tetapi kemudian belajar mendelegasikan wewenang. 

Kuncinya adalah kesadaran bahwa kekuasaan mutlak adalah ilusi. Di dunia yang semakin transparan, kepemimpinan berbasis ketakutan hanya akan jadi cerita usang—seperti mafia yang akhirnya akan berurusan dengan hukum.  

Jadi, pilih jadi “preman” atau pemimpin yang meninggalkan warisan?  

(Tulisan ini bertujuan edukasi, bukan mendukung praktik ilegal premanisme)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Jangan Kabur dari Ibu Kandung: Saatnya Kembali Membangun Indonesia

Jangan Kabur dari Ibu Kandung: Saatnya Kembali Membangun Indonesia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00