Dengarkan Artikel
Oleh: Hanif
Kepemimpinan dibutuhkan di semua lini kehidupan kita, di rumah, di sekolah, di perusahaan dan di organisasi. Lalu apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata mafia atau preman? Gambaran sosok seperti Tony Soprano dari serial The Sopranos atau Pablo Escobar dalam Narcos mungkin muncul atau berita tentang organisasi GRIB yang berselewaran di media media nasional dan daerah, pemimpin yang menebar ketakutan, mengontrol segalanya dengan kekerasan, dan membangun loyalitas lewat ancaman.
Tapi tahukah kita bahwa gaya kepemimpinan seperti ini—meski sering dianggap kotor dan ilegal—ternyata memiliki sisi “efektif” yang kadang ditiru di dunia bisnis atau politik. Apa yang menarik dari gaya kepemimpinan ala mafioso antara plus-minusnya dengan sudut pandang ilmiah?
Ketika “Premanisme” Menjadi Strategi Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan ala mafia tidak selalu identik dengan dunia kriminal. Dalam bentuk yang lebih halus, pola ini muncul di perusahaan, tim olahraga, atau bahkan organisasi politik. Pemimpin seperti ini mengandalkan kekuasaan mutlak, intimidasi, dan loyalitas buta. Mereka mungkin tidak menggunakan pistol, tetapi “senjata” seperti ancaman pemecatan, isolasi sosial, atau manipulasi psikologis pengikut pengikutnya, loyalis atau bahkan masyarakat luas yang tahu sepak terjangnya.
Contoh Nyata: seorang Steve Jobs pendiri Perusahaan tehnologi Apple, meskipun dikenal dengan sosok yang visioner, Jobs di sisi lain dikenal otoriter dan kerap mengintimidasi staf. Hasilnya? Inovasi brilian produk produk bisa menguasai pasar dunia, meskipun tingkat stres karyawan karyawannya tinggi. Seperti halnya beberapa Pemimpin Otoriter di Perusahaan Startup.
Banyak founder startup yang memaksakan kerja 24/7 dengan ancaman: “Kalau tidak setuju, keluar!”. Tim pekerjanya mungkin bergerak cepat, tetapi burnout merajalela. Dalam situasi tertentu gaya kepemimpinan ini ada plusnya antara lain:
Pertama, Disiplin” Instan, Hasil Cepat.
Dalam dunia yang serba cepat, gaya preman bisa memangkas birokrasi. Keputusan diambil sepihak, tanpa rapat berjam-jam. Bayangkan situasi krisis seperti kebangkrutan perusahaan: pemimpin otoriter mungkin menyelamatkan perusahaan dengan memotong divisi tertentu secara drastis. Tapi, ini seperti operasi bedah tanpa bius—berhasil, tapi menyakitkan.
Kedua, Loyalitas Palsu yang Kuat.
Loyalitas dalam sistem mafia dibangun dari ketakutan, bukan rasa hormat. Bawahan patuh karena takut dipecat, dihina, atau “dihabisi” karirnya. Di industri dengan persaingan sengit (misal: sales properti), tekanan seperti ini bisa memacu tim mencapai target. Sayangnya, loyalitas ini rapuh. Begitu pemimpin lengah, bawahannya akan kabur atau memberontak.
Ketiga, Kontrol Penuh.
Pemimpin preman biasanya sentralistik. Semua keputusan ada di tangannya, sehingga rahasia perusahaan lebih terjaga, sehingga memimalkan kebocoran informasi. Contoh: Keluarga mafia di Sisilia sukses menjaga bisnis ilegal mereka selama berdekade, karena hierarki tertutup. Tapi, sistem ini rentan jika pemimpinnya sakit atau tertangkap.
Dari beberapa kelebihan gaya kepemimpinan ini tentu saja memiliki kekurangannya seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja tergantung situasi. Hal hal tersebut bisa berdampak pada gaya kepemimpinan ini.
📚 Artikel Terkait
Kreativitas Mati, Inovasi Mandek
Coba kita bayangkan bekerja di lingkungan di mana setiap kritik dianggap pembangkangan. Karyawan hanya jadi “robot” yang menjalankan perintah. Perusahaan seperti Konika atau Blockbuster kolaps karena gagal berinovasi—salah satu penyebabnya adalah budaya takut mengambil risiko. Dalam jangka panjang, organisasi akan ketinggalan zaman dan akan ditinggalkan pasar.
Reputasi Hancur, Hukum Mengintai
Gaya kepemimpinan preman sering melibatkan pelanggaran: suap, pemerasan, atau eksploitasi. Contoh: Kasus Enron (skandal akuntansi) dipicu oleh budaya toxic pimpinan yang memaksa staf memanipulasi data. Begitu terungkap, reputasi hancur dan hukum menyeret.
Terganggu kesehatan Mental Health
Studi Harvard Business Review (2022) menunjukkan bahwa 65% karyawan di bawah bos otoriter mengalami kecemasan kronis. Turnover tinggi, produktivitas turun, dan biaya kesehatan mental perusahaan membengkak. Perusahaan bisa mencapai target kuartalan, tapi kehilangan talenta terbaik dalam 1-2 tahun.
Runtuh Saat Pemimpin Pergi
Lihatlah bagaimana kartel narkoba Kolombia kacau setelah Pablo Escobar tewas. Di dunia korporat, perusahaan keluarga yang bergantung pada satu sosok pemimpin (misal: Toshiba) sering kolaps saat generasi penerus tak kompeten. Kelemahan gaya pepemimpinan preman tidak mewariskan sistem—hanya kultus individu.
Apa yang bisa menjadi lesson learn bagi kita sebagai pelajaran untuk pemimpin saat ini atau untuk para pemimpin di masa akan datang? Gaya kepemimpinan preman/mafia mungkin menggoda, karena janji hasil instan. Tapi, seperti makan fast food setiap hari—efeknya merusak tubuh. Pemimpin abad ke-21 perlu belajar dari kesalahan kesalahan ini.
Ganti ancaman dengan empati
Loyalitas sejati lahir dari rasa dihargai, bukan takut.
Dengarkan kritik
Tim yang berani berbicara adalah aset inovasi.
– Bangun sistem, bukan kultus: Organisasi atau perusahaan yang bagus gaya kepemimpinannya bisa bertahan meski pemimpin berganti.
Sebagai penutup dari tulisan ini, Bisakah “Preman” Berubah? Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh hati nurani dari para pemimpin yang terus beradaptasi sesuai jamannya. Sejarah menunjukkan bahwa beberapa pemimpin otoriter bisa beradaptasi. Bill Gates di Microsoft awalnya dikenal keras, tetapi kemudian belajar mendelegasikan wewenang.
Kuncinya adalah kesadaran bahwa kekuasaan mutlak adalah ilusi. Di dunia yang semakin transparan, kepemimpinan berbasis ketakutan hanya akan jadi cerita usang—seperti mafia yang akhirnya akan berurusan dengan hukum.
Jadi, pilih jadi “preman” atau pemimpin yang meninggalkan warisan?
(Tulisan ini bertujuan edukasi, bukan mendukung praktik ilegal premanisme)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






