POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tragedi Pelamar Kerja, 2.517 Lowongan, Pelamar 25 Ribu

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
May 28, 2025
Tragedi Pelamar Kerja, 2.517 Lowongan, Pelamar 25 Ribu
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Saya cerita sedikit. Pernah tinggal di Bekasi. Pernah ikut Kursus Latihan Kerja (KLK) kelas welding. Enam bulan. Habis itu disalurkan magang ke perusahaan. Waktu itu magang perusahaan Amrik, Caterpillar. Lalu, kerja di perusahaan pembuatan kaki kontainer milik Korea di Kawasan Industri Cikarang. Model penyaluran kerja seperti itu, dulu. Ya, itu dulu di Bekasi.

Sekarang, jauh berbeda. Seperti yang terjadi di Bekasi, 27 Mei 2025. Digelar Job Fair Bekasi 2025 menghadirkan 25.000 pencari kerja. Mereka membawa map merah berisi ijazah, CV, transkrip nilai, sertifikat pelatihan. Mereka datang untuk memperebutkan 2.517 lowongan. Ya, 2.517, angka yang terlalu kecil untuk mimpi sebanyak itu.

Mereka datang dari berbagai sudut kota, dari rumah-rumah kontrakan yang lantainya retak dan dindingnya lembab, dari kos-kosan sempit yang disulap jadi kantor impian sementara. Anak-anak muda itu berdandan rapi, menyemprot parfum murah, menggosok sepatu dengan semangat yang entah datang dari mana. Mereka adalah korban dari janji-janji pendidikan: bahwa jika kamu sekolah tinggi, kamu pasti dapat kerja. Kini, di lapangan yang penuh debu dan keringat, mereka diuji oleh kenyataan yang lebih pahit dari kopi sachet lima ratusan.

Kericuhan terjadi ketika panitia menempelkan selembar pamflet dengan QR code pendaftaran. Hanya satu. Satu QR code, untuk 25 ribu orang. Ketika ribuan tangan mengangkat ponsel, ribuan tubuh saling dorong, saling tindih, saling teriak, di sanalah manusia tidak lagi bersaudara, melainkan pesaing dalam perlombaan yang terlalu sempit untuk semua. Beberapa jatuh, satu dua pingsan, banyak yang menangis diam-diam karena gagal memindai kode. Bukan karena tak bisa kerja, tapi karena sinyal tidak bersahabat.

Seorang ibu membawa anaknya yang masih balita, berharap bisa mendapat kerja demi susu anaknya bulan depan. Ia berdiri sejak pukul lima pagi, dan ketika akhirnya bisa dekat dengan pamflet QR itu, baterai ponselnya habis. Ia terduduk di bawah pohon, menunduk, memeluk anaknya erat-erat. “Saya cuma mau kerja, mas,” katanya lirih kepada seorang relawan yang lewat. Tak ada kamera yang menyorotnya. Tak ada pidato yang menyebutnya. Ia adalah angka statistik yang terlalu kecil untuk dibahas.

📚 Artikel Terkait

Memahami Problema Gerakan Membaca di Indonesia

Pajak, Plat Kendaraan, dan Ekonomi Lintas Daerah: Belajar dari Konflik Aceh–Sumut

INDAHNYA LANGSA DI MATA HATIKU

HABA Si PATok

Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang, datang ke lokasi dengan rompi dan senyum diplomatis. Ia berkata bahwa antusiasme ini “menjadi beban moral” dan berjanji membuka kloter tambahan. Tapi bagi ribuan pencari kerja yang hari itu pulang dengan telapak kaki melepuh dan dada kosong, beban moral tidak bisa dibelanjakan. Janji tidak bisa diseduh menjadi sarapan.

Sebagian besar pencari kerja adalah lulusan baru, fresh graduate yang sebelumnya menulis skripsi dengan harapan besar, kini menulis ulang CV dengan keputusasaan yang tak terucap. Mereka berharap bekerja di perusahaan multinasional, tapi bahkan perusahaan lokal pun menolak tanpa melihat isi lamaran. Harapan gaji yang layak pupus saat membaca lowongan bertuliskan “pengalaman 2 tahun, gaji UMK, siap lembur tanpa tambahan.”

Di tempat itu, kerja bukan lagi cita-cita. Ia menjadi kebutuhan biologis, menjadi pelampung di tengah lautan krisis. Tidak ada yang ingin sukses besar, mereka hanya ingin bertahan. Ingin punya cukup uang untuk makan tiga kali sehari tanpa harus mengutang. Tapi di negeri ini, bertahan hidup pun menjadi sebuah pertarungan berdarah.

Pada akhirnya, Job Fair Bekasi 2025 bukan tentang kesempatan. Ia tentang luka kolektif yang disusun rapi. Tentang manusia-manusia baik yang dipaksa bersaing seperti makhluk lain, berebut peluang yang tak pernah cukup. Ini bukan sekadar job fair. Ini adalah ratapan sunyi generasi yang dijanjikan masa depan, tapi hanya diberi antrean dan QR code yang tak pernah selesai di-scan.

Lowongan kerja itu bagian dari upaya Prabowo-Gibran merealisasikan 19 juta lapangan pekerjaan. Dari jumlah tersebut, 5 juta di antaranya merupakan green jobs, yaitu pekerjaan yang berfokus pada kelestarian lingkungan. Sabar ya!

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kepemimpinan Multidimensional Dedi Mulyadi

Nomocracy in Practice

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00