• Latest
Tragedi Pelamar Kerja, 2.517 Lowongan, Pelamar 25 Ribu

Tragedi Pelamar Kerja, 2.517 Lowongan, Pelamar 25 Ribu

Mei 28, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tragedi Pelamar Kerja, 2.517 Lowongan, Pelamar 25 Ribu

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Mei 28, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tragedi Pelamar Kerja, 2.517 Lowongan, Pelamar 25 Ribu
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Saya cerita sedikit. Pernah tinggal di Bekasi. Pernah ikut Kursus Latihan Kerja (KLK) kelas welding. Enam bulan. Habis itu disalurkan magang ke perusahaan. Waktu itu magang perusahaan Amrik, Caterpillar. Lalu, kerja di perusahaan pembuatan kaki kontainer milik Korea di Kawasan Industri Cikarang. Model penyaluran kerja seperti itu, dulu. Ya, itu dulu di Bekasi.

Sekarang, jauh berbeda. Seperti yang terjadi di Bekasi, 27 Mei 2025. Digelar Job Fair Bekasi 2025 menghadirkan 25.000 pencari kerja. Mereka membawa map merah berisi ijazah, CV, transkrip nilai, sertifikat pelatihan. Mereka datang untuk memperebutkan 2.517 lowongan. Ya, 2.517, angka yang terlalu kecil untuk mimpi sebanyak itu.

Mereka datang dari berbagai sudut kota, dari rumah-rumah kontrakan yang lantainya retak dan dindingnya lembab, dari kos-kosan sempit yang disulap jadi kantor impian sementara. Anak-anak muda itu berdandan rapi, menyemprot parfum murah, menggosok sepatu dengan semangat yang entah datang dari mana. Mereka adalah korban dari janji-janji pendidikan: bahwa jika kamu sekolah tinggi, kamu pasti dapat kerja. Kini, di lapangan yang penuh debu dan keringat, mereka diuji oleh kenyataan yang lebih pahit dari kopi sachet lima ratusan.

Kericuhan terjadi ketika panitia menempelkan selembar pamflet dengan QR code pendaftaran. Hanya satu. Satu QR code, untuk 25 ribu orang. Ketika ribuan tangan mengangkat ponsel, ribuan tubuh saling dorong, saling tindih, saling teriak, di sanalah manusia tidak lagi bersaudara, melainkan pesaing dalam perlombaan yang terlalu sempit untuk semua. Beberapa jatuh, satu dua pingsan, banyak yang menangis diam-diam karena gagal memindai kode. Bukan karena tak bisa kerja, tapi karena sinyal tidak bersahabat.

Seorang ibu membawa anaknya yang masih balita, berharap bisa mendapat kerja demi susu anaknya bulan depan. Ia berdiri sejak pukul lima pagi, dan ketika akhirnya bisa dekat dengan pamflet QR itu, baterai ponselnya habis. Ia terduduk di bawah pohon, menunduk, memeluk anaknya erat-erat. “Saya cuma mau kerja, mas,” katanya lirih kepada seorang relawan yang lewat. Tak ada kamera yang menyorotnya. Tak ada pidato yang menyebutnya. Ia adalah angka statistik yang terlalu kecil untuk dibahas.

Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang, datang ke lokasi dengan rompi dan senyum diplomatis. Ia berkata bahwa antusiasme ini “menjadi beban moral” dan berjanji membuka kloter tambahan. Tapi bagi ribuan pencari kerja yang hari itu pulang dengan telapak kaki melepuh dan dada kosong, beban moral tidak bisa dibelanjakan. Janji tidak bisa diseduh menjadi sarapan.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Sebagian besar pencari kerja adalah lulusan baru, fresh graduate yang sebelumnya menulis skripsi dengan harapan besar, kini menulis ulang CV dengan keputusasaan yang tak terucap. Mereka berharap bekerja di perusahaan multinasional, tapi bahkan perusahaan lokal pun menolak tanpa melihat isi lamaran. Harapan gaji yang layak pupus saat membaca lowongan bertuliskan “pengalaman 2 tahun, gaji UMK, siap lembur tanpa tambahan.”

Di tempat itu, kerja bukan lagi cita-cita. Ia menjadi kebutuhan biologis, menjadi pelampung di tengah lautan krisis. Tidak ada yang ingin sukses besar, mereka hanya ingin bertahan. Ingin punya cukup uang untuk makan tiga kali sehari tanpa harus mengutang. Tapi di negeri ini, bertahan hidup pun menjadi sebuah pertarungan berdarah.

Pada akhirnya, Job Fair Bekasi 2025 bukan tentang kesempatan. Ia tentang luka kolektif yang disusun rapi. Tentang manusia-manusia baik yang dipaksa bersaing seperti makhluk lain, berebut peluang yang tak pernah cukup. Ini bukan sekadar job fair. Ini adalah ratapan sunyi generasi yang dijanjikan masa depan, tapi hanya diberi antrean dan QR code yang tak pernah selesai di-scan.

Lowongan kerja itu bagian dari upaya Prabowo-Gibran merealisasikan 19 juta lapangan pekerjaan. Dari jumlah tersebut, 5 juta di antaranya merupakan green jobs, yaitu pekerjaan yang berfokus pada kelestarian lingkungan. Sabar ya!

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kepemimpinan Multidimensional Dedi Mulyadi

Nomocracy in Practice

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com