Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Penguasa lawan rakyat kecil, sudah terlalu sering kita saksikan. Namun, jarang kita dengar penguasa melawan partai politik besar. Budi Arie Setiadi, Menteri Koperasi dilaporkan PDIP ke polisi. Sang menteri tidak minta maaf, tanda kasus ini lanjut ke ranah hukum. Siapa sebenarnya Budi Arie yang tak takut dengan serudukan banteng moncong putih? Yok, kita kenalan, wak!
Budi Arie Setiadi lahir di Jakarta pada 20 April 1969. Ia adalah produk otentik dari Universitas Indonesia. Ia bukan jebolan WhatsApp University atau alumni TikTok Fakultas, tetapi sarjana dan magister ilmu komunikasi dan komunikasi politik UI yang nyata. Otaknya penuh diksi, lidahnya penuh retorika. Sejak memimpin Suara Mahasiswa UI dan menjabat sebagai Ketua BEM Fisip, ia sudah terlihat, ini bukan mahasiswa biasa. Ini calon pemimpin peradaban, atau setidaknya, menteri penuh sensasi.
Di masa reformasi 1998, ketika banyak orang masih sibuk menabung ketakutan, Budi justru mendirikan surat kabar “Bergerak”. Bukan sekadar nama, tapi seruan revolusioner. Dalam dunia pers yang dibekap Orde Baru, Bergerak adalah semacam zikir politik bagi anak muda yang mendambakan demokrasi. Di situlah Budi tidak hanya menulis berita, tapi menulis takdir bangsa.
Karier politiknya ibarat drama Netflix berdurasi panjang, penuh plot twist dan montase montok. Dari Ketua Balitbang PDIP Jakarta, Wakil Ketua PDIP Jakarta, Ketua Umum Projo (sayap relawan Jokowi yang militan bagai pasukan elit Jedi), hingga Menteri Komunikasi dan Informatika tahun 2023, sebuah jabatan di mana ia harus mengurusi hoaks, sinyal hilang, dan tentunya judi online, sang hantu digital yang kerap disebut-sebut, termasuk oleh Budi Arie sendiri. Ironi? Lebih dari itu, ini adalah drama ontologis tentang kekuasaan dan kata-kata.
📚 Artikel Terkait
Namun, sejarah sering kali kejam pada pemilik mulut beracun. Pada 27 Mei 2025, para kader PDIP, partai yang dulu menaungi langkah awal politik Budi, malah menyeretnya ke Bareskrim Polri. Sebabnya? Budi diduga menyebut PDIP sebagai “mitra judi online (judol).” Sebuah pernyataan yang, jika benar, mengandung daya ledak moral setara bom Hiroshima di tengah kongres partai. Para kader tersinggung, marah, dan melapor atas dasar Pasal 310 dan 311 KUHP tentang fitnah dan penghinaan. Bukti? Ada video, ada suara. Bahkan konon, CCTV dari lubuk hati yang tersakiti pun merekamnya.
Ketua DPP PDIP, Puan Maharani, turun tangan. Ia tidak menabuh genderang perang, tapi mengharapkan klarifikasi. Namun Budi, dengan gaya filsuf jalanan, memilih diam seribu kata. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada konferensi pers dengan air mata buaya atau lagu sendu di latar. Hanya keheningan yang menggelegar, seperti jeda dramatis sebelum adegan penentu dalam sinetron politik nasional.
Yang lebih menarik, Budi Arie bukan tokoh sembarangan. Berdasarkan LHKPN Maret 2024, total kekayaannya mencapai Rp102 miliar. Dengan tanah dan bangunan di Jakarta, Tangsel, Bekasi, hingga Padang, mobil senilai Rp830 juta, surat berharga Rp24,5 miliar, serta kas Rp11,6 miliar, ia lebih layak disebut entrepreneur of governance dari sekadar menteri. Kekayaannya bukan sekadar angka, tapi simbol dari keberhasilan kapitalisme dalam tubuh birokrasi, versi halal, tentu saja.
Kini, Budi menjabat sebagai Menteri Koperasi. Orang yang berada di Ring 1 kekuasaan. Ia sedang berhadapan dengan PDIP secara hukum. Apapun hasil hukumnya nanti, satu hal jelas, Budi Arie Setiadi bukan manusia biasa. Ia adalah contoh konkret dari paradoks politik, idealis yang pragmatis, komunikator yang terjebak komunikasi, pahlawan yang kini dibidik panah dari bekas kawan. Ia adalah dramawan dalam tragedi Yunani yang sedang dipentaskan di Cikini dan ditonton seantero Indonesia.
Sementara kita? Kita adalah penonton yang bingung. harus kagum, tertawa, atau menangis. Yang jelas kopi tanpa gula pahit tapi nikmat.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






