Dengarkan Artikel
Oleh: Yoss Prabu
Di sebuah warung kopi, pagi-pagi sekali,
duduklah tiga lelaki, berbicara seperti biasa.
Tentang utang, harga cabai, dan – entah kenapa –
tentang Hari Kebangkitan Nasional.
“Bangkit dari apa, ya?” tanya yang satu,
sambil menyeruput kopi sachet yang diseduh
pakai air panas. Dari galon isi ulang.
“Kita ini bangsa yang bangun siang,
mana sempat bangkit?”
Yang lain menimpali,
“Bangkit itu urusan hati, Bro.
Seperti saat kau lihat mantan nikah
dan kau tersenyum sambil mengutuki nasib.”
Mereka tertawa, pahit dan manis,
seperti kopi yang tak pernah benar-benar gratis.
Bangkit itu bukan urusan seremonial,
bukan upacara pagi di lapangan yang gersang,
bukan pula pidato pejabat yang
lebih panjang dari antrean bansos.
Bangkit itu urusan batin.
Seperti rakyat yang tetap jualan gorengan,
meski minyak naik, harapan turun.
Bangkit itu soal hati yang tidak kapok percaya.
Soal anak-anak yang tetap berangkat sekolah,
walau tahu buku mereka tak sebagus
status medsos para influencer politik.
Bangkit itu bukan soal seragam putih abu-abu,
tapi tentang semangat yang lusuh
namun masih mau dicuci.
Kebangkitan, oh kata yang terdengar megah,
seperti cinta pertama yang gagal,
namun tetap indah untuk dikenang.
Apa kabar cinta tanah air?
Masihkah kau memerah seperti bendera?
Atau sudah pudar karena terlalu lama
digantung di tiang pajak dan janji-janji?
Dulu aku mencintaimu, Indonesia,
seperti mencintai puisi yang tak dimengerti.
Kini aku masih mencintaimu,
tapi dengan cara yang lebih tenang,
seperti cinta diam-diam kepada pelayan warung Padang
yang selalu tahu aku suka rendang bagian pinggir.
Tahun 1908, Boedi Oetomo berdiri,
seperti anak muda yang baru sadar.
“Oh, ternyata kita bisa mikir!”
Tapi kini, di tahun yang terlalu digital,
pikiran kita lebih sibuk
memikirkan followers daripada follow-up.
Sejarah tak pernah benar-benar selesai,
karena bangsa ini suka membuat babak baru
dengan plot twist yang tidak masuk akal.
Kita melangkah maju,
tapi kadang ke kanan, ke kiri,
atau malah muter-muter di bundaran birokrasi.
Hari Kebangkitan Nasional,
diperingati dengan spanduk yang salah ketik,
dengan baliho pejabat yang lebih besar dari prestasi,
dengan lomba baca puisi yang diadakan
di depan tumpukan sampah plastik.
Bangkit, katanya.
Tapi BBM naik, dan suara rakyat
dianggap seperti notifikasi grup WA:
sering dibaca, jarang dijawab.
Bangkit, katanya.
Tapi negeri ini masih percaya
bahwa perubahan datang dari langit,
bukan dari tangan sendiri yang berkeringat.
Tapi meski kita tertawa dalam luka,
dan menangis dalam tawa,
kita tetap bangsa yang tak bisa dihitung enteng.
Kita ini ibarat sandal jepit.
Murah, sering diinjak,
tapi kalau hilang, dicari juga.
Bangsa ini masih punya cinta.
Cinta kepada pagi yang belum sempurna,
kepada tanah yang retak-retak,
kepada ibu yang menanak nasi
dengan air mata dan bumbu sabar.
📚 Artikel Terkait
Hari ini, mari kita bangkit,
dari kantuk, dari malas, dari ilusi,
meski pelan, meski tertatih,
asal bukan ke arah diskon 90% di mall.
Karena sejatinya,
kita bukan hanya bangsa yang suka tertawa,
tapi juga bangsa yang, meski lelah,
masih percaya, besok bisa lebih baik.
Asal tidak lupa,
bangkit itu kerja.
Bukan hanya kata.
Jakarta, 20 Mei 2025
.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





