Dengarkan Artikel
Oleh: Siti Hajar
Dara, anak perempuan kami yang kini berusia 14 tahun, sudah sejak sekolah dasar gemar bercerita. Setiap pulang sekolah, selalu saja ada kisah yang dibawanya ke rumah. Tapi bukan tentang pelajaran matematika atau tugas seni rupa, melainkan tentang kejadian-kejadian sosial di kelasnya—yang kerap kali berbau perseteruan. Ada kalanya antara teman sesama Muslim (laki-laki), sesama Muslimah (perempuan), atau antara teman laki-laki dan perempuan.
Hal yang membuat saya tertegun saat itu bukan hanya isi ceritanya, tapi satu istilah yang begitu sering diucapkannya: “tabayyun.” Dengan wajah serius dan nada suara penuh keyakinan, Dara akan berkata, “Tapi kami udah tabayyun, Ja.” (Aja—panggilan Dara untuk saya-ibunya).
“Kami cari tahu siapa yang mulai, kenapa bisa sampai ribut, dan apa yang sebenarnya terjadi,” tuturnya.
Sebagai orang tua, saya dibuat tercengang. Bukan hanya karena ini kali pertama saya mendengar kata itu dari seorang anak SD, tapi karena makna yang dibawanya terasa begitu dalam dan dewasa.
Bagi Dara dan teman-teman di sekolah, tabayyun adalah upaya mencari tahu kebenaran. Bukan sekadar menilai dari satu sisi, apalagi langsung menyebarkan cerita yang belum tentu benar. Konon lagi membenarkan yang bersuara lantang dan pandai menyusun kata, sementara abai yang memilih diam karena tidak mau melukai hati temannya.
Dara, teman-teman, dan guru di sekolah akan menelusuri darimana kisah bermula, siapa yang terlibat, bagaimana emosi berkembang, dan bagaimana akhirnya semua itu bisa pecah jadi konflik. Dan kini, saya merasa—kita, para orang dewasa di dunia digital ini, justru perlu belajar dari apa yang merekalakukan dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang berkembang.
Apa Itu Tabayyun?
Dalam Islam, tabayyun bukanlah sekadar anjuran etis, tapi perintah langsung dari Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyanu), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Ayat ini begitu relevan di tengah derasnya arus informasi saat ini. Tabayyun mengajarkan kita untuk menahan diri, mencari kebenaran, menggali kejelasan sebelum mengambil sikap atau menyebarkan sebuah berita.
Menyesal kemudian tiada guna.
📚 Artikel Terkait
Ini bukan hanya soal benar dan salah, tapi soal menjaga kehormatan orang lain, menahan diri dari prasangka curiga kepada orang lain, serta merawat nalar dan nurani agar tak mudah tergelincir dalam fitnah.
Efek Negatif dari Mengabaikan Tabayyun
Saat prinsip tabayyun ditinggalkan, efeknya sangat nyata. Fitnah menyebar. Reputasi hancur. Hubungan sosial renggang. Bahkan bisa memicu konflik antar komunitas. Di media sosial, hal ini jauh lebih cepat dan lebih masif.
Sebuah potongan video yang terlepas dari konteks bisa menghancurkan karier seseorang. Sebuah pesan berantai yang tampak “meyakinkan” bisa menyulut amarah, menciptakan ketakutan massal, atau memicu kebencian antar kelompok.
Begitulah ketika informasi menyebar tanpa tabayyun—kebenaran dikaburkan, dan keadilan menjadi korban. Yang menyedihkan, tidak jarang berita-berita semacam ini justru lebih cepat viral dibanding kabar baik yang jernih dan penuh pelajaran.
Pengingat bagi Pengguna Media Sosial
Media sosial hari ini adalah ruang luas yang tak memiliki pagar. Informasi bergerak dalam hitungan detik, dari kota besar ke desa kecil, dari pelosok ke pusat kekuasaan, dari seorang influencer ke jutaan pengikutnya. Dalam lautan informasi ini, tabayyun seharusnya menjadi alat saring kita. Pengguna media sosial yang bijak seharusnya memiliki sifat dan sikap tabayyun.
Teliti dulu informasi yang sampai kepada kita, tidak langsung menyebarluaskan. Pertimbangkan lagi, apakah ini akan memberi manfaat baik kepada pembaca setelah kita? Jika tidak, cukup sampai di kita saja. Tahan diri untuk tidak meneruskan dan menyebarkan informasi yang tidak bermanfaat itu.
Bayangkan jika setiap pengguna media sosial memiliki kebiasaan untuk mengecek sumber, memahami konteks, dan bertanya: “Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini bisa menyakiti seseorang?” Dunia digital akan jauh lebih sehat.
Sayangnya, banyak yang justru lebih suka menjadi “penyebar pertama”, bukan “peneliti pertama”. Demi menjadi yang tercepat, kita kadang lupa menjadi yang terbijak.
Teknologi seharusnya bukan hanya mempercepat penyampaian berita, tapi memperkuat proses verifikasi informasi. Algoritma media sosial semestinya tak hanya mengedepankan engagement, tapi juga etika. Namun karena sistem tak punya nurani, maka manusialah yang mesti menyalakan kesadaran itu.
Kitalah penyaring sejati dalam dunia digital yang tak berbatas.
Untuk Pembaca Setia…
Sampaikanlah berita yang bermanfaat, yang bisa menjadi pelajaran hidup. Jadilah penyambung informasi yang mencerahkan, bukan pemicu kerusuhan. Jangan biarkan berita hoaks memecah belah kita hanya karena beda suku, agama, atau pilihan politik. Bangsa ini terlalu berharga untuk dirusak oleh informasi yang tidak diverifikasi.
Mari belajar dari Dara, teman-temannya, dan guru-guru SD-nya. Dari kebiasaan mereka untuk tidak cepat menilai. Dari keberanian menggali informasi, mencari kebenaran, mencari akar masalah.
Tabayyun bukan hanya soal menelusuri fakta, mengumpulkan data, tetapi juga menumbuhkan empati dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Tulisan ini didedikasikan kepada guru-guru Sekolah Dasar Islam Cendekia (SDIC) Anak Bangsa Banda Aceh. Terimakasih banyak sudah mengajarkan banyak hal kepada ananda kami, juga kepada kami para orang tua. Semoga ini menjadi amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, bagi ustaz, ustazah, ummi, bunda, coach, dan semuanya yang berada di SDIC ANABA. Jazakumullahu khairan. []
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






