Dengarkan Artikel
Oleh: Azharsyah Ibrahim
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR Bukhari).
Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang bagaimana kita sering kali menyia-nyiakan dua hal yang paling berharga dalam hidup, yaitu kesehatan dan waktu luang. Hadis ini bukan hanya nasihat keagamaan, tapi refleksi universal tentang gaya hidup manusia modern yang sering merasa sibuk, padahal waktunya banyak terbuang, dan merasa kuat, padahal tubuhnya sedang dipakai untuk hal yang sia-sia.
Saya tidak sedang memukul rata. Ada banyak orang yang memang pandai memanfaatkan waktu dan menjaga kesehatan. Tapi kalau kita jujur, berapa banyak dari kita yang baru sadar pentingnya sehat setelah terbaring di rumah sakit? Atau baru menghargai waktu ketika deadline sudah mepet, atau ketika pensiun datang dan kita bertanya-tanya: ke mana saja waktu saya selama ini?
Sehat Itu Nikmat yang Sering Dianggap Biasa
Mari mulai dari nikmat yang pertama: sehat. Saat tubuh terasa bugar, sering kali kita lupa bersyukur. Kita anggap itu “default setting”—hal biasa yang tidak perlu direnungkan. Baru ketika kepala terasa pening, tenggorokan sakit, atau tulang ngilu semua, kita mulai panik dan menyesal. Bahkan penyakit ringan saja bisa membuat aktivitas harian kita berantakan.
Lebih jauh lagi, banyak dari kita yang tahu bahwa menjaga pola makan, olahraga rutin, tidur cukup, dan menghindari stres adalah kunci sehat. Tapi kenapa tetap sulit konsisten? Mungkin karena merasa masih kuat. Atau merasa “nanti saja” mulai hidup sehat, ketika sudah tidak ada pilihan. Padahal, mencegah selalu lebih murah dan lebih mudah daripada mengobati.
Nabi SAW tidak berlebihan ketika menyebut nikmat sehat itu sering menipu. Karena ia datang dengan diam-diam, terasa biasa-biasa saja, lalu pergi secara tiba-tiba. Dan ketika sudah pergi, kita mulai membayar dengan uang, waktu, dan kadang, dengan harapan.
Waktu Senggang, Di Mana Kamu Saat Aku Butuhmu?
Nikmat kedua adalah waktu senggang. Ini juga nikmat yang “diam-diam” hadir dalam hidup kita. Waktu luang sering datang dalam bentuk lima menit menunggu, satu jam sebelum tidur, atau akhir pekan tanpa rencana. Sayangnya, waktu seperti ini sering habis untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.
Coba kita renungkan: berapa lama kita scrolling media sosial tanpa arah? Atau menonton satu episode serial yang akhirnya bersambung jadi lima episode? Lalu menutup hari dengan berkata, “Hari ini kok rasanya nggak produktif ya?” Padahal, waktu sudah diberikan. Tinggal bagaimana kita mengelolanya.
Yang menarik, hadis ini tidak berkata bahwa orang “tidak punya waktu,” melainkan mereka “tertipu oleh waktu senggang.” Artinya, waktu itu ada, tapi kita sering salah dalam menggunakannya. Kita merasa nanti masih ada waktu. Nanti malam. Nanti akhir pekan. Nanti setelah pensiun. Nanti.
Padahal waktu tidak menunggu kita siap. Ia terus berjalan, bahkan saat kita sedang menunda.
Kenikmatan dan Jebakan?
Coba bayangkan! sehat tapi tidak punya waktu, rasanya seperti punya mobil sport tapi jalanan selalu macet. Sebaliknya, punya waktu, tapi tubuh lemah juga tidak ideal, seperti punya rumah nyaman, tapi badan tak bisa bangun dari tempat tidur.
Itulah mengapa keduanya disebut Nabi sebagai “kenikmatan” dan “jebakan.” Karena kita sering merasa memilikinya, padahal kita tidak benar-benar memanfaatkannya. Banyak orang kehilangan dua hal ini lalu baru sadar bahwa mereka telah tertipu oleh kelonggaran yang dulu terasa tak terbatas.
Bahkan dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat, dua nikmat ini makin mahal harganya. Kesehatan menjadi industri besar: rumah sakit tumbuh di mana-mana, suplemen dan alat kebugaran laris, tapi gaya hidup sehat justru makin langka. Waktu luang pun makin sulit ditemukan, padahal teknologi sudah memudahkan banyak hal. Ironisnya, justru karena terlalu banyak pilihan hiburan dan distraksi, kita makin susah fokus dan cepat merasa “sibuk.”
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Pertama, kita perlu menyadari bahwa sehat dan waktu senggang bukan hal yang bisa disimpan untuk nanti. Ia harus digunakan sekarang, saat masih ada. Mengisi waktu dengan hal-hal produktif, bukan berarti kita harus bekerja terus menerus. Tapi mengisinya dengan sesuatu yang bermakna: belajar, beribadah, berbagi, atau sekadar menikmati momen bersama keluarga.
Kedua, menjaga kesehatan bukan hanya urusan fisik, tapi juga mental dan spiritual. Pikiran yang tenang, hati yang lapang, dan jiwa yang bersih adalah bagian dari sehat. Kadang kita terlalu fokus pada tubuh, tapi lupa bahwa stres, iri hati, atau rasa bersalah yang berkepanjangan juga bisa membuat tubuh sakit.
Ketiga, mari ubah cara pandang kita terhadap waktu. Waktu bukan sekadar jam di dinding, tapi kesempatan. Setiap menit adalah peluang yang tidak akan kembali. Menunda-nunda hanya akan membuat kita tertinggal. Tidak semua orang mendapatkan waktu yang sama panjangnya. Jadi jangan sia-siakan waktu yang kita miliki hari ini.
Penutup
Kita sering kali terlalu sibuk mengejar apa yang belum kita miliki, sampai lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Sehat dan waktu luang adalah dua nikmat besar yang sering tersembunyi di balik rutinitas harian. Ketika keduanya hilang, baru kita sadar betapa berharganya mereka.
Maka jangan tunggu sampai tubuh memberi peringatan keras. Jangan tunggu sampai waktu benar-benar habis. Mari manfaatkan kedua nikmat ini dengan sebaik-baiknya—sebelum penyesalan datang lebih dulu.
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






