Dengarkan Artikel
Oleh Rivaldi
•Sekjend Perhimpunan Rakyat Merdeka.
Dari meja kopi siang ini saya bersama rekan rekan himpunan bersilaturahmi sambil berdiskusi kecil kecilan. Banyak hal menarik yang kami diskusikan, seperti bagaimana telur tercipta, cara membangun hotel yang berlabel syariat, kemiskinan di suatu daerah, bahkan kami juga berdiskusi tentang anggaran pengadaan mobil mewah.
Namun diskusi yang sangat menarik dan penuh tawa itu secara tiba tiba hening ketika salah seorang teman saya bertanya kepada kami semua “apakah Aceh lebih baik merdeka atau tetap seperti ini? “ Hal ini membuat saya terdiam dan reflek saya membakar sebatang rokok lucky strike yang ada di depan saya dan menyeruput kopi hitam tanpa gula.
Aceh, sebuah wilayah yang terletak di ujung barat Indonesia, mempunyai nilai sejarah yang panjang sebagai bangsa yang merdeka. Bagi sebagian masyarakat umum Aceh, kemerdekaan bukanlah sekadar keinginan emosional, melainkan hak historis, politik, dan ekonomi yang telah lama diperjuangkan.
Aceh dulunya merupakan Kesultanan yang merdeka dan berdaulat. Banyak pendukung kemerdekaan berpendapat bahwa Aceh tidak sepenuhnya pernah setuju untuk menjadi bagian dari Indonesia secara sukarela.
📚 Artikel Terkait
Kami berdiskusi siang ini dengan keadaan Aceh hari ini yang banyak mengalami ketimpangan dari segala sektor, mulai dari pendidikan, ekonomi, pembangunan, dan lain-lain.
Lalu muncul lah pertanyaan apakah kita harus memperjuangkan lagi Aceh untuk merdeka? Atau tetap membiarkan Aceh seperti ini. Kami mulai membedah dari Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah yang seharusnya bisa membuat Aceh mandiri dan makmur tanpa harus bergantung lagi kepada pemerintah pusat. Begitulah dari sudut kaca mata kami berdiskusi sambil ngopi santai.
Lalu juga dari sektor pembangunan tampak juga tidak merata dan kebijakan pembangunan dari pusat banyak dianggap tidak cocok atau berpihak kepada rakyat dan kebutuhan lokal, dan ditambah dari luka lama bahwa konfik dulu banyak terjadi tragedi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang ada di Aceh sampai hari ini masih membutuhkan perhatian khusus untuk para korban dan keluarga untuk di selesaikan. Jelas dari trauma kolektif ini menciptakan ketidak percayaan kami terhadap pemerintah pusat, sambil ketawa kecil.
Ditambah yang perlu kita ingatkan bahwa Aceh juga memiliki emosional yang sanggat kuat dengan beberapa negara. Aceh memiliki hubungan diplomatik langsung dengan negara-negara besar seperti Kesultanan Utsmaniyah, Inggris, dan Belanda. Setelah kolonialisme Belanda berakhir, Aceh tidak secara tegas menyatakan bergabung ke dalam Indonesia melalui perjanjian politik yang sah.
Kemerdekaan Aceh bukanlah wacana yang lahir dari kebencian, melainkan dari rasa keadilan, identitas, dan kedaulatan yang telah lama tertanam. Jika Indonesia dibangun atas dasar kemerdekaan dan keadilan, maka suara rakyat Aceh untuk menentukan masa depannya sendiri juga layak untuk didengar dan dihormati.
Dan diskusi menarik ini diakhiri oleh azan magrib yang mengharus kami meninggalkan meja kopi tersebut untuk melaksanakan ibadah sholat magrib, karena kewajiban kami selaku muslim.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






