Dengarkan Artikel
Oleh Armen Setiaji Untung
Orang-orang di Gang Lestari mengenalnya sebagai Pak Narto Presiden. Bukan karena pernah menjabat, bukan pula karena kemiripan wajah dengan siapa pun yang pernah duduk di kursi itu. Tapi karena ia memang pernah menjadi presiden. Di dalam kepalanya sendiri.
Dulu, saat masih waras, begitu orang-orang bilang, Pak Narto adalah guru sejarah di SMP Negeri, lelaki tenang dengan rapi jali jas cokelatnya, dan suara berat yang sabar saat menjelaskan Perang Dunia atau G30S. Ia punya istri, Bu Rukmi, dan dua anak yang kuliah di UGM. Hidupnya tampak lurus seperti alur sejarah yang ia ajarkan.
Tapi entah sejak kapan, tetangga mulai melihatnya keluar rumah jam dua dini hari, berdiri di ujung gang sambil memberi pidato tentang “stabilisasi nasional” dan “kedaulatan pangan.” Anak-anak takut, tapi para ibu memaafkan. “Kasihan, stres habis pensiun,” begitu gumam mereka sambil menyiapkan kopi di pagi buta.
Kemudian mulailah ia membawa map-map tebal ke warung Bu Jum. Isinya kosong. Tapi setiap halaman ia buka dengan penuh wibawa, seperti sedang membahas RUU penting bersama DPR. Ia duduk di bangku plastik merah, memanggil Bu Jum sebagai “Ibu Menteri Sosial,” dan memberi arahan tentang distribusi beras rakyat miskin.
Bu Jum tak pernah membantah. “Iya, Pak Presiden,” katanya sambil menuang kopi. Lebih karena takut ketumpahan kopi kalau dibantah, bukan karena percaya jabatan itu sungguhan.
—
Puncaknya terjadi saat Hari Kemerdekaan.
Pak Narto menggelar upacara di lapangan kecil belakang gang. Ia berdiri di depan tiang bendera bambu yang dipasang anak-anak untuk lomba balap karung. Pak Narto mengenakan jas putih peninggalan pernikahannya, lengkap dengan selempang merah yang entah diambil dari mana.
Ia mengangkat tangan. “Hormat grak!” teriaknya dengan suara yang mengejutkan seekor ayam betina.
Anak-anak terkekeh, tapi para tetua diam. Sebab pidatonya pagi itu menggigilkan hati siapa pun yang mendengarnya.
“Kita sedang dalam ancaman! Musuh telah menyusup dalam wujud pemalas, koruptor, dan tukang ngutang di warung! Kita harus bersih, bersih dari pengkhianat-pengkhianat bangsa yang memakai sandal jepit tapi berjiwa asing!”
Beberapa warga mengangguk pelan. Bukan karena setuju, tapi karena merasakan getirnya kalimat itu.
Tiga hari setelah pidato, Pak Narto menghilang. Kata Bu Rukmi, ia “dijemput orang rumah sakit.” Yang lain tahu, maksudnya: rumah sakit jiwa.
—
Tapi cerita tak selesai di sana.
Tiga bulan kemudian, ia kembali. Lebih kurus, mata cekung, dan bicara pelan. Ia tidak lagi menyebut siapa pun sebagai menteri. Bahkan kepada Bu Jum, ia hanya berkata, “Boleh minta teh tawar, Bu?”
Namun kedamaian itu rapuh. Seperti kabel listrik telanjang yang hanya ditutupi lakban, sekali tersentuh sedikit, ia menggelegar kembali.
Pada minggu keempat, setelah pulang dari masjid, ia berkata kepada Pak Man tetangganya yang bekerja sebagai hansip malam, bahwa negara dalam bahaya.
“Ada intel asing menyamar jadi tukang sayur. Dia jual kol dua ribu, padahal harga pasar tiga ribu. Itu sabotase!”
Pak Man mengangguk. Sudah biasa. Tapi malam itu juga, Pak Narto melempar sayur ke tengah jalan dan menulis selebaran tangan: “Tolak Sayur Impor!” Ditempelkan di tiang listrik.
Besoknya, warga tergelak. Tapi Bu Rukmi tak keluar rumah seharian.
📚 Artikel Terkait
—
Kadang, di sore yang tenang, ia duduk di pos ronda dan mencoret-coret kertas: rencana pertahanan negara, alokasi dana desa, struktur kabinet bayangannya. Ia mencatat, menyusun, dan sesekali tersenyum, seolah menemukan strategi rahasia mengalahkan dunia.
Tapi paranoia mulai menggigit lebih dalam. Ia menuduh radio di warung menyadap pikirannya. Ia memecahkan kaca jendela tetangga karena “kamera mikro” tersembunyi di balik pot geranium. Ia menuduh Pak RW sebagai kaki tangan CIA karena punya parabola.
Akhirnya, warga rapat.
“Ini sudah gila betulan,” kata Bu Sarti, pemilik toko kelontong. “Kalau dia bakar rumah gara-gara ngira kompor itu alat sadap?”
Pak RW mengangguk. “Tapi masak kita kirim dia ke rumah sakit lagi? Kan belum ada yang luka.”
“Kalau tunggu ada yang luka, sudah telat,” timpal Pak Man.
Tapi Rukmi datang, mengenakan kebaya sederhana dan suara gemetar. “Saya yang salah. Saya pikir, setelah obat-obatannya habis, dia baik-baik saja. Tapi dia makin… jadi orang lain.”
Suasana hening.
Akhirnya diputuskan: bukan rumah sakit, tapi sistem ronda. Setiap malam, dua tetangga akan berjaga bergiliran. Bukan untuk menangkap maling, tapi untuk mengawasi “Presiden” mereka.
—
Waktu berjalan, dan pelan-pelan gelagatnya memudar.
Pak Narto tidak lagi menggelar rapat kabinet. Ia lebih banyak diam. Kadang hanya duduk memeluk lutut di depan teras. Kadang memandangi langit, seolah mendengar pesan dari panglima besar yang tak pernah datang.
Suatu hari, ia memanggil Pak Man.
“Saya tidak bisa tidur. Mereka masih memata-matai saya. Dari atas pohon mangga. Dengar kan suara-suara itu?”
Pak Man menjawab pelan, “Mungkin itu hanya angin, Pak Narto.”
Pak Narto mengangguk. Tapi matanya tak meyakini apa pun lagi.
Malam itu, ia menulis surat di sobekan kertas nasi bungkus:
Kepada Rakyatku yang Tercinta.
Saya mengundurkan diri dari jabatan Presiden. Saya sadar, saya bukan lagi pemimpin yang mampu melindungi kalian. Suara di kepala saya lebih keras daripada suara hati kalian.
Maafkan saya.
TTD
Narto Soedirman
Presiden Republik Gang Lestari
—
Esok paginya, ia duduk di pos ronda, memakai baju batik, dan tersenyum pada anak-anak yang lewat. Ia tidak bicara tentang politik. Tidak tentang kudeta atau konspirasi. Ia hanya bertanya, “Kalian sudah makan?”
Dan ketika seorang anak menjawab, “Belum, Pak Presiden,” Narto tertawa kecil, lalu mengeluarkan dua permen jahe dari sakunya.
“Ini saja dulu. Subsidi terakhir dari negara yang gagal.”
Sejak itu, orang-orang memanggilnya Pak Narto lagi. Bukan Presiden. Tapi dalam hati, mereka tahu: lelaki itu pernah menjadi pemimpin, walau hanya di negerinya sendiri, negeri yang luas, gaduh, dan penuh musuh, yang tinggal dalam kepalanya.
Dan seperti pemimpin mana pun yang pernah jatuh, ia hanya ingin dikenang karena pernah mencoba.
2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





