Dengarkan Artikel
27 tahun yang lalu (1998) nilai tukar rupiah terhadap dolar, dari Rp 2,575.00 berangsur turun menjadi Rp 16.000 pada Maret 1998. Krisis ekonomi diikuti krisis politik terjadi pada saat itu, mahasiswa bersama rakyat menuntut dilakukannya reformasi di segala bidang.
Kelompok mahasiswa terus mendesak diadakannya suksesi kepemimpinan. Puncaknya, Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai mandataris MPR. Habibie kemudian menggantikan Soeharto sampai dilaksanakannya pemilu selanjutnya (1999).
Reformasi pada saat itu menuntut beberapa hal di antaranya :
- Suksesi kepemimpinan
Mereka menuntut agar dilakukan suksesi kepemimpinan nasional yang sesuai dengan asas demokrasi. Terpilihnya Soeharto untuk ke-7 kalinya dianggap mengangkangi azas demokrasi. - Penghapusan Dwi-Fungsi ABRI
Pada saat itu militer menguasai semua lini kehidupan, pemerintah gaya militer tercipta dengan sendirinya. - Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Masyarakat menilai absolute-power disebabkan segala lini dikuasai para kroni Soeharto, dari daerah hingga pusat.
Lalu setelah 27 tahun berlalu, apakah ke-tiga tuntutan sudah terpenuhi. Hanya mundurnya Soeharto yang sudah terlaksana. Sementara dwi-fungsi ABRI meski tidak ada lagi, namun kini UU TNI yang baru seakan mengembalikan masa lalu, kita kembali mundur ke era gelap.
Korupsi, kolusi dan nepotisme pun demikian. Mahalnya biaya demokrasi, mengakibatkan para politisi harus patuh pada oligarki. Suap-menyuap dalam proses demokrasi dianggap hal wajar, berlanjut mark-up proyek-proyek yang menggunakan uang rakyat.
📚 Artikel Terkait
Berdasarkan fakta historis dan empiris itu, redaksi potretonline.com mengajak masyarakat berpartisipasi menyumbangkan pikirannya dalam bentuk tulisan. Sebagai bentuk kewajiban intelektual, kami mengajak masyarakat menulis di potretonline.com dengan tema: “Reformasi dan Repot Nasi di bulan Kebangkitan Nasional”, Kemana Bangsa ini Akan Berjalan”?.
Sumbangan pikiran Anda diharapkan menjadi landasan kita semua dalam melihat permasalahan bangsa. Ruang intelektual kita tidak pernah sepi dari diskursus, POTRET ingin ikut terlibat dalam kontribusi atas peradaban bangsa ini.
Pada edisi Mei ini, hadiah voucher 100 ribu dan kaos eksklusif dipersembahkan POTRET Gallery. Pemenang dapat memilih antara kaos atau voucher belanja seharga 100 ribu rupiah.
Semoga sumbangsih pikiran Anda melalui tulisan di potretonline.com akan terakumulasi menjadi gelombang perubahan bagi bangsa ini. Bangsa yang lahir dari kaum intelektual dan kini sedang rusak berat. Selamat menulis, salam literasi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






