Dengarkan Artikel
Oleh: Tgk. Muhammad Kharazi, M. Ag
Dalam dunia yang serba rasional ini, kita begitu mudah tergoda untuk menakar segala hal dengan ukuran logika. Apa pun yang tak bisa dijelaskan secara akal, akan digugat, dicurigai, bahkan ditolak. Termasuk urusan yang mestinya kita letakkan dalam ruang keimanan: wilayah Tuhan.
Sering kita mendengar pertanyaan yang melampaui batas nalar yang patut. Mengapa Tuhan menciptakan orang-orang yang tidak beriman? Mengapa ada penderitaan di dunia, jika Tuhan Maha Pengasih? Mengapa Dia menghendaki sesuatu yang pada akhirnya dilarang-Nya?
Pertanyaan-pertanyaan ini kerap diajukan bukan untuk mencari pemahaman, melainkan untuk merobohkan keyakinan.
Padahal, dalam tradisi keislaman—yang juga diakui oleh agama-agama samawi lainnya—ada garis batas yang tak boleh dilintasi: wilayah Tuhan adalah sesuatu yang suci dan tak tersentuh oleh akal manusia yang terbatas. Di situlah letak perbedaan mendasar antara manusia sebagai makhluk dan Tuhan sebagai Sang Khalik.
Kita, dengan segala daya pikir yang membanggakan, tetaplah ciptaan yang tidak akan mampu menjangkau keseluruhan hikmah di balik ketetapan Ilahi.
Di dalam Al-Qur’an, Tuhan menegaskan, “لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُوْنَ” – Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah (manusia) yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Ayat ini bukan sekadar kalimat teologis, tapi juga peringatan epistemologis: tidak semua hal bisa dan harus dipahami. Ada hal-hal yang cukup untuk diimani dan disikapi dengan takzim, bukan ditantang atau diuji dengan nalar yang dangkal.
📚 Artikel Terkait
Kehendak Tuhan itu luas, mencakup segala yang tampak dan tersembunyi. Dia menghendaki iman dan kufur, kebaikan dan keburukan, namun Dia hanya memerintahkan pada kebaikan dan melarang keburukan. Di sinilah muncul paradoks yang membuat Mu’tazilah—mazhab rasionalis Islam klasik—gelisah, lalu menyimpulkan bahwa Tuhan pasti menghendaki sesuatu sesuai dengan perintah-Nya.
Namun para ulama Ahlus Sunnah menegaskan: kehendak Tuhan tidak selalu identik dengan perintah-Nya, karena kehendak-Nya mencakup realitas, bukan sekadar norma.
Penjelasan indah dan mendalam tentang hal ini dapat ditemukan dalam karya besar Fathul Majid syarh atas Durrul Farid fi ‘Aqidah Ahl al-Tauhid oleh Syaikh Nawawi al-Bantani. Dalam kitab itu, diceritakan dialog yang mengungkap kerapuhan logika Mu’tazilah saat berhadapan dengan hujjah para ulama Ahlus Sunnah.
Dikisahkan bahwa Qadhi ‘Abd al-Jabbar al-Mu’tazili masuk ke majelis menteri Shâhib bin ‘Abbâd, di mana saat itu hadir pula Imam Ahlus Sunnah, Abu Ishaq al-Isfara’ini. Qadhi berkata, “Subhân man tanazzaha ‘an al-fahsyâ” (Maha Suci Allah yang bersih dari keburukan). Abu Ishaq langsung menangkap maksud tersembunyi di balik pernyataan itu lalu menjawab, “Subhân man lâ yajri fî mulkihi illâ mâ yashâ’” (Maha Suci Allah yang tidak terjadi apa pun dalam kerajaan-Nya kecuali sesuai kehendak-Nya).
Qadhi pun melanjutkan: “Apakah Tuhan kita menghendaki kemaksiatan?” Abu Ishaq menjawab: “Apakah Tuhan kita didurhakai dalam keadaan dipaksa?”
Qadhi kemudian mencoba menyudutkan: “Bagaimana jika Dia mencegahku dari petunjuk dan menetapkan kebinasaan bagiku, apakah itu termasuk kebaikan atau keburukan?” Maka dijawab dengan tegas: “Jika Dia mencegahmu dari sesuatu yang bukan milikmu, maka itu bukan keburukan. Namun jika Dia mencegahmu dari milik-Nya, maka Dia adalah Pemilik, dan Pemilik berhak bertindak atas miliknya sesuka hati.
Dia memberi rahmat kepada siapa yang Dia kehendaki.”
Mendengar jawaban itu, Qadhi pun bungkam. Para hadirin berkata, “Tak ada lagi jawaban setelah ini—demi Allah, seolah-olah ia telah dibungkam dengan batu.” Inilah yang oleh para ‘arifin disebut sebagai wahdat al-af‘âl — keesaan dalam perbuatan, bahwa segala yang terjadi adalah dalam genggaman dan kehendak-Nya semata.
Kisah ini menegaskan satu hal: mempertanyakan keputusan Tuhan dengan kerangka logika manusia semata adalah kekeliruan epistemologis dan ketidakadaban spiritual. Tuhan tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, bukan karena kita dilarang berpikir, tetapi karena kita bukan siapa-siapa di hadapan-Nya.
Maka, jangan bertanya tentang wilayah Tuhan dengan nada menggugat. Bertanyalah untuk menjadi hamba yang lebih tunduk, bukan menjadi hakim yang ingin menilai Sang Pencipta. Sebab sejauh apa pun akal berjalan, akan ada batas di mana ia mesti berlutut.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






