Dengarkan Artikel
Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Blora
Langit sore itu kelabu, seperti hatinya. Angin meniup ranting-ranting basah, membuat daun gugur tanpa suara. Lesmana berdiri di depan jendela kamarnya, menatap hujan yang mulai turun perlahan. Di luar sana, suara sepeda motor Fadil sayup-sayup terdengar. Hari ini seharusnya hari bahagia: tiket ke Jepang di tangannya, program beasiswa pascasarjana di universitas impian sudah menunggu. Tapi hatinya tak damai.
“Sudah yakin?” tanya Darmuji, ayahnya, masuk ke kamar dengan langkah berat.
Lesmana menoleh pelan. “Belum, Pak. Tapi aku harus jalan.”
Lisna muncul di ambang pintu, wajahnya menyimpan cemas. “Kamu sudah bilang ke Ratih, Les?”
Lesmana hanya menggeleng. Diam.
Sementara itu, Ratih duduk bersama Cyntia dan Putri di warung langganan mereka. Semangkuk bakso mengepul di depannya, tapi sendok pun tak disentuh.
“Kamu kelihatan aneh hari ini,” kata Cyntia, mengernyit. “Biasanya kamu cerewet soal sambal, ini malah diam.”
“Les nggak balas chat sejak tadi malam,” gumam Ratih.
Putri menoleh. “Kamu nggak tahu, ya?”
“Tahu apa?” Ratih mengangkat kepala.
Putri dan Cyntia saling berpandangan. Akhirnya, Cyntia menghela napas. “Les berangkat sore ini. Fadil dan Damar yang antar ke bandara.”
Darah Ratih serasa berhenti mengalir. “Apa?” suaranya parau.
“Dia dapat beasiswa itu. Ke Jepang. Tapi… dia bilang belum siap bilang ke kamu.”
Ratih meletakkan sendoknya. “Dia mau pergi tanpa pamit?”
📚 Artikel Terkait
Tak ada yang menjawab. Ratih berdiri, matanya mulai panas. Ia tak peduli meski hujan deras mulai turun. Ia lari—meninggalkan bakso yang tak disentuh, meninggalkan temannya yang terpaku, dan meninggalkan harapan bahwa ini semua hanyalah salah paham.
Lesmana sedang menaikkan kopernya ke mobil Fadil ketika suara langkah kaki terdengar di balik hujan. Ia menoleh, dan di sanalah Ratih berdiri, kuyup, napasnya memburu. Damar dan Salfa yang duduk di jok belakang menunduk tak nyaman.
“Kamu serius pergi hari ini?” Ratih bertanya, nyaris teriak.
Lesmana ingin menjawab, tapi suaranya tercekat.
“Kamu tahu, Les?” Ratih melangkah maju. “Yang paling menyakitkan bukan kamu pergi. Tapi kamu memilih diam, seolah aku nggak penting buat keputusan hidupmu.”
“Aku takut,” Lesmana akhirnya bersuara. “Kalau aku bilang, kamu akan minta aku tetap tinggal.”
“Dan kamu akan tinggal?”
Lesmana menatap matanya. “Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena aku punya mimpi. Dan kamu… kamu bagian dari mimpi itu. Tapi kamu nggak bisa ikut sekarang.”
Ratih menggigit bibir, mencoba menahan air mata. “Jadi kamu lebih pilih pergi, daripada memperjuangkan aku?”
“Justru karena aku memperjuangkan kamu, aku pergi. Aku ingin kembali dengan sesuatu yang layak. Aku ingin kita punya masa depan.”
Hujan makin deras. Ratih tertawa lirih. “Lucu ya… kamu pikir masa depan itu cuma soal gelar dan negeri seberang.”
Lesmana mendekat, menyentuh pipinya yang basah. “Aku mencintaimu, Ratih. Tapi cinta bukan alasan untuk memenjarakan mimpi.”
Ia mencium keningnya sebentar, lalu melangkah mundur, masuk ke mobil. Damar menutup pintu dengan hati-hati. Fadil menginjak gas.
Ratih berdiri di tengah hujan, tak lagi bicara. Di balik jendela mobil, Lesmana menoleh sekali, lalu mengalihkan pandangan. Ia tak sanggup.
Dari jendela rumah, Silfi memeluk Ratih begitu ia pulang dalam keadaan kuyup. Bimantara hanya menatap anak gadisnya dengan mata penuh iba.
Beberapa hari kemudian, Angga datang membawa surat. Ratih membukanya perlahan. Tulisan tangan Lesmana memenuhi selembar kertas sederhana.
“Aku pergi bukan karena aku tak cinta. Aku justru pergi karena aku mencintaimu cukup dalam untuk menjauh sementara. Tapi jika semesta merestui, aku akan kembali. Aku janji.”
Ratih menggenggam surat itu erat. Di luar, hujan turun lagi. Tapi kini, ia tak menangis.
Karena meski hujan membawa kepergian, ia tahu: cinta yang tak pergi sia-sia… akan pulang sebagai doa. (*)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






