HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Tulisan Viral Tak Berarti Isi Dompet Ikut Tebal

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Mei 7, 2025
in Gemar menulis, Latihan Menulis, Lomba Menulis POTRET, Menulis, Menulis Berhadiah, Menulis Novel, Menulisbuku
Reading Time: 2 mins read
0
Ketika Tulisan Viral Tak Berarti Isi Dompet Ikut Tebal
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

Beberapa hari lalu, saya menulis sebuah artikel sederhana di media online. Judulnya pun tak terlalu istimewa, tetapi mungkin karena isinya cukup relate dengan kehidupan banyak orang, tulisan itu tiba-tiba saja viral. Google Analytics mencatat 28 ribu pembaca dalam waktu singkat. Notifikasi pun berdatangan—pesan-pesan dari followers yang bilang “keren,” “hebat,” dan sebagainya. Rasanya seperti menemukan durian jatuh saat jalan pagi.

Baca Juga

Generasi Joget: Hilang Eksistensi Manusia di Era Digital? Antara Ekspresi, Identitas, dan Tantangan Zaman. 

Februari 25, 2026
Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Februari 22, 2026
Dari Data ke Empati

Dari Data ke Empati

Februari 22, 2026

Tapi jangan salah kira. Viral bagi seorang penulis bukan berarti mendadak jadi jutawan. Tidak ada adegan ala film: besoknya langsung beli Ferrari, lalu terbang ke Eropa naik jet pribadi. Realitanya, esok harinya saya tetap duduk di meja kayu yang sama, menggunakan laptop jadul yang layarnya kadang biru jika dinyalakan terlalu lama.

Saya jadi ingat narasi Bangros yang pernah saya baca. Ia bercerita bagaimana saat mencoba membahas isu sensitif dari dua sisi, ia justru diserang dari kanan dan kiri. Dituduh buzzer, disangka dibayar oleh pihak-pihak tertentu. Padahal, katanya, “Bayar kopi saja saya masih ngutang di warkop langganan.” Lucu, pahit, dan jujur—begitulah kadang nasib penulis di era digital ini.

Tulisan yang viral, meski bermuatan baik, tetap saja bisa menjadi sasaran empuk kritik netizen. Ada saja yang tidak membaca secara utuh, lalu langsung menuduh macam-macam. Ironisnya, kita yang menulis dengan niat berbagi, kadang justru dituding punya agenda tersembunyi. Padahal, kalau semua penulis hanya menulis demi uang, mungkin sejak dulu mereka sudah berhenti. Karena menjadi penulis bukanlah jalan cepat menuju kekayaan. Ini adalah jalan sunyi menuju keabadian.

Menulislah hal-hal yang baik dan bermanfaat, agar karya kita membawa kebaikan dalam jangka panjang. Soal kaya dan sukses, itu bonus tambahan. Sebab jika tujuannya hanya uang, mungkin lebih baik beralih profesi.

Saya percaya, menulis adalah bentuk lain dari berbagi. Dan berbagi tak selalu harus dibayar mahal. Terkadang, cukup mengetahui bahwa tulisan kita berarti bagi orang lain, itu sudah cukup menghangatkan hati.

Maka, untuk para pembaca—sebelum buru-buru menuding, cobalah lihat dari sudut pandang penulis. Di balik tulisan yang kalian baca, ada malam-malam panjang, perenungan, dan keberanian membuka diri. Bukan untuk disanjung, tetapi untuk menyampaikan kebenaran atau sekadar suara hati.

Karena di tengah bisingnya dunia digital, masih ada penulis yang menulis bukan karena ingin viral atau uang, tetapi karena ingin memberi manfaat bagi sesama.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 280x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 190x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 158x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Baca Juga

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya
#Korban Bencana

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Hari Buruh

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026
Cerpen

Aku Merindu

Maret 17, 2026
Islam

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 17, 2026
Next Post

Setuju, Anak yang Suka Membuat Stres Orang Tua Dibarakmiliterkan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com