• Latest
Ketika Tulisan Viral Tak Berarti Isi Dompet Ikut Tebal - 2025 05 07 08 09 59 | Gemar menulis | Potret Online

Ketika Tulisan Viral Tak Berarti Isi Dompet Ikut Tebal

Mei 7, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ketika Tulisan Viral Tak Berarti Isi Dompet Ikut Tebal

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Mei 7, 2025
in Gemar menulis, Latihan Menulis, Lomba Menulis POTRET, Menulis, Menulis Berhadiah, Menulis Novel, Menulisbuku
Reading Time: 2 mins read
0
Ketika Tulisan Viral Tak Berarti Isi Dompet Ikut Tebal - 2025 05 07 08 09 59 | Gemar menulis | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Ririe Aiko

Beberapa hari lalu, saya menulis sebuah artikel sederhana di media online. Judulnya pun tak terlalu istimewa, tetapi mungkin karena isinya cukup relate dengan kehidupan banyak orang, tulisan itu tiba-tiba saja viral. Google Analytics mencatat 28 ribu pembaca dalam waktu singkat. Notifikasi pun berdatangan—pesan-pesan dari followers yang bilang “keren,” “hebat,” dan sebagainya. Rasanya seperti menemukan durian jatuh saat jalan pagi.

Tapi jangan salah kira. Viral bagi seorang penulis bukan berarti mendadak jadi jutawan. Tidak ada adegan ala film: besoknya langsung beli Ferrari, lalu terbang ke Eropa naik jet pribadi. Realitanya, esok harinya saya tetap duduk di meja kayu yang sama, menggunakan laptop jadul yang layarnya kadang biru jika dinyalakan terlalu lama.

Saya jadi ingat narasi Bangros yang pernah saya baca. Ia bercerita bagaimana saat mencoba membahas isu sensitif dari dua sisi, ia justru diserang dari kanan dan kiri. Dituduh buzzer, disangka dibayar oleh pihak-pihak tertentu. Padahal, katanya, “Bayar kopi saja saya masih ngutang di warkop langganan.” Lucu, pahit, dan jujur—begitulah kadang nasib penulis di era digital ini.

Tulisan yang viral, meski bermuatan baik, tetap saja bisa menjadi sasaran empuk kritik netizen. Ada saja yang tidak membaca secara utuh, lalu langsung menuduh macam-macam. Ironisnya, kita yang menulis dengan niat berbagi, kadang justru dituding punya agenda tersembunyi. Padahal, kalau semua penulis hanya menulis demi uang, mungkin sejak dulu mereka sudah berhenti. Karena menjadi penulis bukanlah jalan cepat menuju kekayaan. Ini adalah jalan sunyi menuju keabadian.

Menulislah hal-hal yang baik dan bermanfaat, agar karya kita membawa kebaikan dalam jangka panjang. Soal kaya dan sukses, itu bonus tambahan. Sebab jika tujuannya hanya uang, mungkin lebih baik beralih profesi.

Saya percaya, menulis adalah bentuk lain dari berbagi. Dan berbagi tak selalu harus dibayar mahal. Terkadang, cukup mengetahui bahwa tulisan kita berarti bagi orang lain, itu sudah cukup menghangatkan hati.

Maka, untuk para pembaca—sebelum buru-buru menuding, cobalah lihat dari sudut pandang penulis. Di balik tulisan yang kalian baca, ada malam-malam panjang, perenungan, dan keberanian membuka diri. Bukan untuk disanjung, tetapi untuk menyampaikan kebenaran atau sekadar suara hati.

Karena di tengah bisingnya dunia digital, masih ada penulis yang menulis bukan karena ingin viral atau uang, tetapi karena ingin memberi manfaat bagi sesama.

Share234SendTweet146Share
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Next Post
Ketika Tulisan Viral Tak Berarti Isi Dompet Ikut Tebal - 1000563291_11zon 1 | Gemar menulis | Potret Online

Setuju, Anak yang Suka Membuat Stres Orang Tua Dibarakmiliterkan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com