Dengarkan Artikel
Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Blora
Taman Seribu Lampu malam itu tak hanya diterangi cahaya lampu warna-warni, tapi juga oleh harapan yang perlahan meredup. Chika duduk diam di bangku kayu dekat air mancur. Jemarinya menggenggam erat scarf biru pemberian Arga. Malam ini adalah malam yang tak ingin ia hadapi, tapi juga tak bisa ia hindari.
Langkah kaki yang ia kenal baik mendekat. Arga berdiri beberapa detik sebelum akhirnya duduk di sampingnya. Ia membawa seikat bunga lili putih.
“Bunganya masih favoritmu, kan?” tanya Arga pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.
Chika menerima bunga itu dengan senyum samar. “Selalu. Tapi mungkin malam ini, aku harus menjadikannya bunga perpisahan.”
Arga menunduk. “Aku… nggak tahu harus mulai dari mana.”
“Mulailah dari yang jujur,” balas Chika lembut.
Diam sesaat. Arga menarik napas dalam.
“Besok… aku akan bertunangan dengan Cinta.”
Chika menutup mata sejenak, seolah mencoba menenangkan hatinya yang bergetar. “Aku tahu. Ari bilang tadi sore. Aku… sempat berharap kamu yang cerita langsung.”
“Aku pengecut, Chika. Aku takut lihat kamu hancur karena aku.”
Chika menoleh padanya. “Aku nggak hancur, Ga. Aku terluka, iya. Tapi aku nggak menyesal pernah mencintaimu. Aku cuma menyesal… karena berharap terlalu jauh.”
Arga menggenggam tangan Chika. “Aku pernah membayangkan kita menikah, punya anak, tinggal di rumah kecil dengan taman bunga… Tapi hidup bukan hanya soal perasaan, Chi.”
📚 Artikel Terkait
“Aku tahu,” jawab Chika, menatap lampu-lampu di taman yang berkelap-kelip. “Cinta nggak selalu cukup buat membuat dua orang bersama, kan?”
“Kalau aku punya pilihan, aku akan memilihmu seribu kali,” kata Arga nyaris lirih.
Chika menggeleng perlahan. “Tapi nyatanya kamu nggak bisa. Dan itu cukup bagiku untuk belajar melepas.”
Tepat saat itu, Arman dan Bulan datang membawa dua gelas kopi panas.
“Kami tahu kamu butuh kekuatan, Chi,” kata Bulan, memeluknya dari belakang.
“Terima kasih, kalian selalu datang di waktu yang paling tepat,” ucap Chika dengan suara bergetar.
Arga berdiri, menatap Chika dengan mata yang nyaris basah. “Terima kasih karena pernah mencintai aku tanpa syarat.”
Chika berdiri perlahan, menatap mata Arga dalam-dalam. “Dan terima kasih karena pernah menjadi rumah bagiku, walau hanya sebentar.”
Arga melangkah pergi. Chika menatap punggungnya, lalu mendongak ke langit.
“Malam ini, aku benar-benar melepasmu… di tempat di mana aku pertama kali jatuh cinta padamu.”
Apakah kamu ingin bagian akhir cerpen ini ditambahkan narasi harapan baru bagi Chika setelah melepas Arga?
Angin malam masih setia menyapa wajahnya. Tapi kali ini, Chika merasakannya berbeda. Ada kelegaan, ada ketulusan yang mengalir di dada. Ia menatap bunga lili di pangkuannya, lalu tersenyum.
Bulan duduk di sebelahnya, menepuk pelan bahunya. “Kamu hebat, Chi. Nggak semua orang bisa mencintai dan melepas dengan hati yang tetap utuh.”
Chika menghela napas pelan. “Aku pikir hatiku akan hancur… Tapi ternyata, ketika aku ikhlas, rasanya justru damai. Luka itu ada, tapi aku siap sembuh.”
Arman ikut duduk, menyodorkan segelas kopi kedua. “Kamu nggak sendiri. Kami di sini, dan suatu hari… seseorang akan datang, bukan untuk pergi, tapi untuk tinggal.”
Chika menatap sekeliling taman. Lampu-lampu itu tetap menyala, hangat dan tak berpura-pura. Seperti harapan, yang meski redup, tak pernah benar-benar padam.
Ia berdiri, menatap ke depan. “Mungkin malam ini aku melepas asaku… Tapi aku juga membuka ruang untuk harapan baru.”
Langkahnya mantap meninggalkan bangku itu. Bersama sahabat-sahabat yang mencintainya tanpa syarat, Chika melangkah keluar dari taman dengan senyum kecil—bukan karena luka telah hilang, tapi karena ia tahu, hidup masih punya banyak cerita.
Dan di antara ribuan cahaya yang menyala malam itu, ada satu yang tetap menyala di dalam hatinya: harapan akan cinta yang datang, bukan untuk singgah, tapi untuk tinggal.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





