Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Menjadi guru di era globalisasi bukan lagi sekadar menjalankan kewajiban administratif. Bagi kami, para guru Bahasa Inggris di Aceh, tugas ini merupakan amanah suci yang berakar dari perintah agama untuk menuntut dan mengajarkan ilmu. Dalam konteks ini, guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membentuk karakter, membangkitkan kesadaran ruhani, dan mempersiapkan generasi yang mampu mengarungi dunia dengan iman, ilmu, dan akhlak mulia.
Ilmu yang kita pelajari, khususnya Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi dunia, harus diperoleh dengan niat yang lurus: bukan untuk kebanggaan pribadi atau sekadar memenuhi tuntutan profesi, tetapi untuk mengabdi kepada Allah SWT melalui jalan pendidikan. Menuntut ilmu adalah ibadah, mengajarkannya adalah jihad intelektual yang bernilai tinggi di sisi-Nya.
Dalam mengaplikasikan ilmu, seorang guru dituntut untuk selalu kontekstual. Bahasa Inggris bukan diajarkan sebagai keterampilan kosong, tetapi sebagai alat untuk memperluas cakrawala pemikiran umat, memperkenalkan nilai-nilai Islam dalam forum global, dan memperkaya identitas budaya Aceh di pentas dunia. Oleh karena itu, pengajaran bahasa harus selalu disinergikan dengan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal, sehingga siswa tidak terjebak pada imitasi budaya Barat, melainkan tumbuh menjadi pribadi berkepribadian luhur dan berdaya saing internasional.
Lebih dari itu, guru di Aceh hendaknya menumbuhkan harapan yang tinggi terhadap siswa. Kita tidak boleh hanya berorientasi pada capaian kognitif semata, tetapi harus membimbing siswa untuk menjadi insan kritis yang mampu berdialog dengan zaman, sekaligus menjaga akidah dan moralnya. Kita perlu mengajarkan kepada mereka bahwa penguasaan bahasa asing bukan berarti melepas jati diri, melainkan memperkaya kapasitas untuk berdakwah dan membela kebenaran di berbagai ruang dunia.
Tentu, untuk mencapai itu semua, guru harus terlebih dahulu mampu menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesionalisme. Kesalehan pribadi merupakan prasyarat mutlak untuk menjadi teladan bagi siswa. Seorang guru yang mampu menjaga lisan, menata niat, dan menghidupkan nilai-nilai Islam dalam keseharian akan jauh lebih berpengaruh daripada guru yang hanya fasih dalam teori pendidikan tetapi kosong dalam keteladanan hidup.
Profesionalisme dalam pengertian ini bukanlah sekadar memenuhi standar kurikulum atau administrasi, melainkan menjaga amanah keilmuan dengan penuh tanggung jawab, disiplin, inovatif, dan berorientasi pada perubahan sosial. Guru Bahasa Inggris yang profesional tidak hanya mengajar di dalam kelas, melainkan menjadi influencer sosial yang menginspirasi siswa, rekan guru, bahkan masyarakat luas.
📚 Artikel Terkait
Komunitas guru dan alumni perlu diperkuat sebagai jaringan yang saling mendukung dalam memperbaiki kualitas pendidikan. Kita harus aktif membangun komunitas edukatif yang tidak sekadar berkumpul untuk kepentingan administratif, melainkan menjadi ruang untuk berbagi ilmu, memperdalam pemahaman agama, dan menyusun strategi dakwah melalui pendidikan. Kita harus menjadi model nyata bahwa seorang guru adalah pembelajar sejati yang tidak berhenti bertumbuh.
Sementara itu, keterlibatan guru di masyarakat menjadi sangat penting. Guru harus mampu membaca persoalan sosial, menyuarakan nilai kebenaran, dan menjadi motor perubahan di tengah-tengah umat. Di Aceh, di mana pendidikan memiliki posisi sentral dalam membangun kembali identitas setelah berbagai dinamika sejarah, kehadiran guru inspiratif adalah kebutuhan mutlak. Guru bukan hanya aktor kelas, tetapi pencerah peradaban.
Kita semua tahu bahwa tantangan tidaklah ringan. Dunia pendidikan sedang dilanda komersialisasi, degradasi moral, dan tekanan globalisasi. Namun di tengah gelombang ini, seorang guru yang berpegang teguh pada nilai-nilai tauhid, berilmu, dan berakhlak, akan tetap mampu menjadi pelita di tengah kegelapan zaman.
Oleh karena itu, marilah kita memperbaharui niat, memperdalam keilmuan, memperbaiki akhlak, dan memperkuat jaringan keilmuan kita. Mari kita tanamkan dalam diri bahwa keberhasilan seorang guru bukan diukur dari banyaknya gelar atau jabatan, tetapi dari seberapa besar ia mampu menginspirasi, membimbing, dan memuliakan manusia di hadapan Allah SWT.
Menjadi guru Bahasa Inggris di Aceh adalah kehormatan besar dan sekaligus amanah berat. Kita dituntut untuk menguasai ilmu modern tanpa kehilangan arah ruhaniyah. Kita harus berani membumikan nilai-nilai Islam dalam pengajaran internasional, dan membawa siswa kita bukan hanya menjadi profesional, tetapi juga menjadi khalifah-khalifah kecil yang membawa rahmat bagi semesta.
Semoga Allah SWT selalu membimbing langkah kita, meneguhkan hati kita, dan memberkahi setiap usaha kecil yang kita lakukan di jalan pendidikan ini. Karena sejatinya, mendidik satu jiwa dalam kebenaran lebih berharga daripada dunia dan seisinya.
Wallahu a’lam bishawab.
penulis adalah peminat isu pendidikan
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






