Dengarkan Artikel
Oleh Muhammad Afrizal
Beberapa waktu yang lalu, saya dan guru-guru hebat mewakili beberapa Madrasah tingkat MI, MTs dan MA di lingkungan Aceh Timur mengikuti pelatihan yang sangat menyenangkan. Kami semua berkumpul dalam ruangan yang nyaman dan sejuk. Harapannya kami bisa mempelajari sesuatu yang baru dan bermanfaat.
Proses kegiatan pelatihan berlangsung secara serius, seru dan menggembirakan. Ingin selalu dikenang dan tidak terlupakan.
Guru MI yang biasanya menjunjung tinggi nilai disiplin, malah menjadi yang paling serius mensimulasikan menjadi siswa setingkat Sekolah Dasar dan paling bersemangat, ketika bermain game.
Sementara itu, guru MTs malah sangat riuh dan gaduh saat nyanyi dan ice breaking, sehingga membuat kelas pelatihan semakin menarik serta menyenangkan. Sedangkan guru MA, harus memutar otak mencari ide jenaka menghadapi godaan-godaan logis yang dilontarkan peserta pelatihan lain.
Benar, seperti dihadapkan pada kondisi menghadapi keunikan siswa pada umumnya. Pelatihan itu tidak hanya membuat kami akrab dan lebih berkeluarga, tapi juga membuat kami menyadari bahwa belajar itu sangat menyenangkan. Semua pelajaran termasuk matematika yang dianggap suram dan menakutkan, rasanya akan menjadi mudah dan bermakna jika dilakukan dengan hati yang menggembirakan.
Pelatihan tersebut diadakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, melalui Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan (BDK) Provinsi Aceh. Pelatihan yang dimaksud adalah Pelatihan di Wilayah Kerja (PDWK) Implementasi Kurikulum Merdeka Pembelajaran Berdiferensiasi di Lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Timur. Berlangsung dari tanggal 21 sampai 26 April 2025.
Pelatihan dimulai dengan pembukaan acara yang berlangsung formal dan khidmat. Dibuka oleh Bapak H. Salamina, S.Ag., M.A. sebagai Kepala Kantor Kemeterian Agama Kabupaten Aceh Timur. Dan dilanjutkan dengan materi pembukaan oleh Dr. Qadriah, M.Pd sebagai Kepala BDK Provinsi Aceh.
Sedari awal acara berlangsung, kami sebagai peserta sudah disuguhkan dengan hidangan ilmu lezat yang sangat mengenyangkan otak. Dapat membasuh rasa dahaga dengan kucuran pengetahuan yang terus mengalir deras.
Benar-benar tidak terlupakan. Ketika dua pemateri melanjutkan memandu kami dengan segudang pengalaman mereka. Kedua pemateri yang dimaksud adalah Bapak Dr. Fadliadi, S.Ag, M.Ed dan Bapak Kamarullah, S.Ag, M.Pd. kami semua diajak untuk memahami konsep pembelajaran terdiferensiasi dengan cara menyenangkan dan interaktif.
📚 Artikel Terkait
Bapak Fadli mengisi materi Building Learning Commitment, yang mengarahkan kami untuk meluruskan niat dalam mengikuti pelatihan. Beliau juga mengisi materi selama 3 hari berupa peradigma pembelajaran pada kurikulum merdeka, konsep pembelajaran berdiferensiasi hingga desain pembelajaran berdiferensiasi.
Dengan gaya santunnya dan sangat humoris, berhasil mengocok perut kami dengan lawakan lucu sehingga kami semua tertawa dan terhibur sepanjang pelatihan. Kendati demikian, beliau senantiasa mengarahkan kami untuk selalu berada dalam konteks materi pelatihan sebagai esensi krusial yang mesti dilaksanakan.
Tiga hari selanjutnya, Bapak Kamarullah. Mengisi materi penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam modul ajar/RPP, simulasi pembelajaran berdiferensiasi dan diakhiri dengan rencana tindak lanjut sebagai harapan yang harus kami tunaikan untuk mewujudkan bukti otentik dari pelatihan yang telah diikuti. Bapak Kamarullah, dengan pengetahuannya yang luas dan pengalaman yang kaya, memberikan kami inspirasi dan motivasi untuk menjadi guru yang lebih baik. Kendati demikian, lawakan humor dan ledakan tawa juga kerapkali muncul dalam sesi pelatihan yang berlangsung.
Muatan materi pelatihan yang mendalam, membuat kami memahami tentang prinsip kurikulum merdeka sebagai harapan pemerintah yang harus dilaksanakan guru. Yaitu pengembangan kompetensi dan karakteristik siswa, bersifat fleksibel dan berfokus pada muatan esensial. Di samping itu, pembelajaran terdiferensiasi bersifat menyesuaikan pada kondisi peserta didik.
Namun memberikan hak pendidikan yang sama untuk semua peserta didik.
Kami, peserta pelatihan diajarkan bagaimana langkah strategis menyusun modul pembelajaran. Dijelaskan secara detail bagaimana asesmen awal dilakukan terhadap siswa yang memiliki karakter beragam. Sehingga proses pembelajaran diharapkan memiliki nilai terintegrasi dan bersifat adil diterima oleh siswa.
Pemateri juga menyinggung terkait prinsip deep learning atau pembelajaran mendalam. Yang diharapkan menghadirkan filosofi mindfull (berkesadaran), yaitu menghadirkan jiwa raga peserta didik dalam proses pembelajaran. Meaningfull, yaitu pembelajaran memiliki nilai yang bermakna. Serta joyful, atau kegiatan pembelajaran yang menggembirakan. Tidak membuat siswa tertekan dan sulit belajar.
Konsep yang sering memiliki arti ambiguitas dan kabur makna juga sempat diajarkan kepada kami dalam sesi pelatihan. Seperti konsep memahami soal HOTS (Hight Other ThingkingSkills), biasanya sering dipahami sebagai soal yang sulit. Padahal soal HOTS tersebut dinilai berdasarkan karakter berpikir siswa. Bisa jadi akan menjadi sulit sebuah soal bagi siswa MI namun sangatlah mudah bagi siswa MA.
Konsep lainnya seperti memaknai perbedaan praktik, simulasi dan demonstrasi, di mana arti praktik berarti kegiatan yang melibatkan aktivitas atau eksperimen untuk memahami konsep atau keterampilan dan dilakukan secara real apa adanya. Seperti praktik bermain futsal di lapangan. Simulasi berarti kegiatan yang menggunakan model atau representasi dari suatu sistem atau proses untuk memhami bagaimana suatu sistem atau proses tersebut berlangsung. Seperti simulasi thawaf di halaman sekolah menggunakan kakbah replika.
Sedangkan demonstrasi bermakna pelibatan kejelasan dan peragaan suatu konsep atau keterampilan oleh isntruktur atau ahli. Misalnya demonstrasi memasak oleh chef di depan kelas untuk siswa tata boga.
Akhirnya, setelah berhari-hari kami belajar dan bermain bersama. Tiba saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal pada acara pelatihan pembelajaran terdiferensiasi ini. Kami telah belajar banyak hal baru, dari cara mengajar yang kreatif, hingga upaya membuat siswa lebih aktif dan berpartisipasi. Hal yang paling penting, kami peserta pelatihan, widyaiswara, panitia penyelenggara BDK Aceh dan sejumlah pegawai kantor Kementerian Agama Aceh Timur telah membentuk sebuah komunitas yang solid dan saling mendukung.
Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semu apanitia, pegawai terlibat, instruktur widyaiswara, dan seluruh teman-teman peserta yang telah membuat acara ini menjadi sangat istimewa. Semoga kita semua dapat terus belajar dan berkembang bersama-sama.
penulis adalah Alumnus Sosiologi USK dan Magister Sosiologi USU, sekarang bertugas sebagai guru Sosiologi MAN 1 Aceh Timur
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






