POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tong Sampah, Lampu Tenaga Surya dan Literasi

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
April 27, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Pagi ini, sambil menyeruput segelas Americano, kopi jenis Arabicca Gayo yang penulis pesan di Gerobak Arabicca Gayo, yang letaknya hanya beberapa meter dari POTRET Gallery, tempat saya mencari rezeki dengan menjual berbagai macam souvenir pernikahan, kerajinan eceng gondok, rotan dan Jepara, serta mainan edukasi dan lain-lain.

Segelas kopi yang menebarkan aroma kopi Gayo, telah diletakan di meja depan Gerobak Kopi. Seperti biasa sambil menyeruput dengan desingan suara lembut, tangan tidak jauh dari gadgets. Ya, seperti biasanya orang-orang sekarang yang tak lekang dari tangan sebuah handphone, walau bukan sedang berkomunikasi dengan teman, tapi menikmati segala sajian hiburan di gadgets. Namun, saya bukan sedang menonton Tik-Tok atau Update media sosial lainnya. Saya membaca satu -persatu tulisan atau berita mengenai pendidikan.  Ada banyak tulisan menarik yang perlu disimak, namun dua berita 

Saya suka mencari atau membaca berita atau artikel mengenai pendidikan, baik di level lokal Aceh, maupun lingkup nasional. Kebetulan minat membaca terseret kepada hiruk pikuknya pemberitaan dan kritik para pemerhati pendidikan di Aceh terhadap Dinas Pendidikan provinsi Aceh, bukan Dinas Pendidikan Aceh, sebab Dinas ini tidak ditugaskan mengelola semua lembaga dan jenis pendidikan, tetapi hanya pada level SMA dan SMK serta SLB.

Dengan mencari kata kunci Dinas Pendidikan Aceh di Google, keluar banyak cerita dan berita di media itu. Banyak berita mengenai Dinas Pendidikan provinsi Aceh yang menarik untuk dibaca atau kalau mampu menganalisis setiap berita dan tulisan tersebut, agar lebih bermakna.

Ya, belakangan ini, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, terus menjadi sorotan, bidikan kamera dan kritik media dan para pengamat pendidikan yang terasa setajam sembilu. Betapa tidak Dinas Pendidikan level provinsi Aceh yang mengurus jenjang pendidikan Menengah Atas (SMA dan SMK) yang jumlahnya sekitar 800 an sekolah di Aceh ini, terus dihujat. Hujatan-hujatan itu terkait dengan persoalan rencana program pengadaan tong atau tempat sampah yang konon menelan dana sebesar 7 miliar rupiah (AJNN, Kabaraktual,line News dan lain-lain) yang dinilai tidak peka terhadap persoalan pendidikan di Aceh dan dianggap hanya menghambur-hamburkan anggaran dan sebagainya, di tengah krisis dan teriakan untuk melakukan efisiensi, transparansi dan akuntabilitas.

Celakanya lagi, belum selesai soal itu, karena masih aktual dibicarakan publik, seksi dan menarik untuk diulik, kemudian diributkan pula dengan program penyediaan atau pengadaan lampu  tenaga surya, lampu LED dengan total anggaran sebesar 12 milyar rupiah. Spektakuler sekali, bukan?

Ya, tentu sangat spektakuler. Bayangkan saja kalau dana sebesar itu akan digunakan untuk membeli tong sampah dan lampu tenaga surya, rasanya akan sangat sia-sia, walaupun sekolah-sekolah akan memiliki sejumlah tong sampah yang akan dikaitkan dengan pendidikan karakter, namun tong sampah di sekolah seharusnya bukan menjadi urusan kepala Dinas Pendidikan, sebab itu adalah hal kecil yang dapat dikerjakan oleh hanya seorang kepala sekolah. Kalau pun kepala sekolah tidak punya dana untuk membeli tong sampah, seorang kepala sekolah yang berkualitas, akan punya kreativitas membuat tong sampah di sekolah -sekolah. 

Begitu pula halnya dengan lampu tenaga surya, apakah memang semua sekolah membutuhkan lampu tenaga surya dan untuk apa? Sebab tidak ada sekolah malam dan tidak semua sekolah boarding atau berasrama. Jadi tidak ada rasionalisasi yang membuat semua itu akan membawa manfaat bagi upaya peningkatan kualitas pendidikan di Aceh, khususnya di jenjang SMA/ SMK serta SLB yang berada di bawah payung  atau pengelolaan oleh Dinas Pendidikan Provinsi.

📚 Artikel Terkait

Kami Orang Papua Mencintai Republik Ini, Hanya Saja Republik Ini yang Tidak Mencintai Kami

Berjihad Lewat Tulisan

Diskusi Meja Panjang

Misi Merampok Bank

Rencana pengadaan tong sampah dan lampu tenaga surya yang dianggarkan oleh Dinas Pendidikan Aceh menjadi indikator bahwa Dinas Pendidikan Provinsi tidak memiliki program yang berorientasi pada upaya peningkatan kualitas pendidikan, tetapi lebih kepada program-program yang bersifat project oriented dalam bentuk fisik.

Hal ini terjadi, karena Dinas Pendidikan Provinsi tidak memahami apa akar masalah pendidikan khususnya di tingkat atau jenjang SMA/SMK dan SLB. Harusnya dana sebesar itu bisa digunakan untuk mengatasi rendahnya kualitas. Andai pula dana sebesar itu digunakan untuk membangun kemampuan literasi peserta didik dan pendidik di Aceh, akan bisa membiayai program literasi. Namun, karena tidak melihat masalah literasi sebagai akar masalah, sehingga dana yang besar tersebut tidak terprioritas untuk menyentuh akar masalah pendidikan. Wajar kalau dikatakan tidak sensitif terhadap masalah pendidikan yang harus diatasi.

Bila kemampuan literasi peserta didik dan pendidik Aceh tinggi, apalagi melebihi nilai di PISA, maka masalah kualitas pendidikan di Aceh yang masih berlepotan atau berselimak masalah, dapat ditingkatkan menjadi lebih baik. Hal ini juga akan mengurangi derasnya arus sorotan terhadap Dinas Pendidikan, karena tidak memiliki sense of crisis.

Jadi, tidak salah bila banyak pengamat pendidikan di Aceh yang dengan lantang menyuarakan tentang proyek tong sampah dan lampu tenaga surya tersebut mencuat tiba-tiba. Tidak salah pula kalau mereka mengatakan bahwa itu adalah program sia-sia yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan provinsi Aceh yang tidak berdampak langsung kepada upaya peningkatan kualitas pendidikan. Program ini juga menunjukan tidak adanya kepercayaan Kadisdik Provinsi Aceh kepada Cabang Dinas, pengawas sekolah dan juga kepala sekolah berserat guru-guru di sekolah. Sehingga segala sesuatu harus dihandle oleh Dinas Pendidikan provinsi. 

Lahirnya program-program yang terlihat mendadak ini, menunjukkan pula bahwa Dinas Pendidikan provinsi Aceh tidak memiliki program yang merupakan turunan dari visi dan misi pemerintah Aceh. Bila ini adalah turunan dari visi dan misi, maka kegiatan seperti ini akan termuat menjadi program tahunan Dinas Pendidikan Aceh yang secara transparant bisa dimuat di websitenya Dinas Pendidikan provinsi Aceh.  Kalau pun program ini adalah program titipan dari Pokir, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh harus peka terhadap masalah pendidikan dan prioritas intervensi.

Apalagi bika dikaitkan  dengan visi dan misi, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh sebagai dinas yang berada di bawah pemerintah Aceh yang saat ini tali kendali ada pada pasangan Mualem dan Dek Fadh, maka Dinas Pendidikan Aceh memiliki kewajiban untuk memenuhi janji-janji politik pasangan Mualem dan Dek Fadh pada paparan mereka semaca kampanye. Dinas Pendidikan sebagai bagian dari Pemerintah Aceh,menjadi Dinas perpanjangan tangan pemerintah Aceh untuk mewujudkan visi dsn visi mereka di bidang pendidikan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ada banyak janji politik yang diikrarkan saat kampanye, terutama di bidang pendidikan, maka saat ini Dinas Pendidikan provinsi Aceh harus mengikuti dan berpedoman pada pemenuhan janji-janji tersebut di bidang pendidikan.

Pasangan Mualem dan Dek Fadh berjanji untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Aceh yang menjadi fondasi untuk pembangunan Aceh yang lebih maju, menciptakan SDM yang unggul dan berkomitmen, janji itu harus diwujudkan oleh Dinas Pendidikan Aceh, khususnya institusi pendidikan yang berada di bawah kendali Dinas Pendidikan Provinsi Aceh. 

Agar janji ini terpenuhi, maka Dinas Pendidikan Aceh dan jajarannya harus bisa melihat bahwa akar masalah peningkatan kualitas pendidikan Aceh adalah masalah literasi peserta  didik dan pendidik yang masih rendah dan jauh tertinggal. Oleh sebab itu, upaya membangun kemampuan literasi harus menjadi prioritas dalam proses pembangunan sumber daya manusia Aceh. Literasi ini juga berkaitan dengan janji politik Mualem dan Dek Fadh yang menjanjikan  program baca Al Quran sejak dini.

Nah, mengingat program pengadaan tong sampah dan pengadaan lampu tenaga surya yang tidak berdampak langsung kepada upaya peningkatan kualitas pendidikan, selayaknya dana itu digunakan untuk membangun gerakan literasi yang dapat menumbuhkan kembali minat membaca para siswa dan guru di sekolah, hingga mampu mendongkrak naiknya kemampuan literasi peserta didik dan pendidik. Cara ini akan dapat menyentuh akar masalah pendidikan di Aceh dan Indonesia umumnya.  Dana sebesar itu, akan bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran guru dan siswa untuk lebih menguasai pengetahuan lewat membangun budaya baca yang kini terus melorot.

Insya Allah, kalau Dinas Pendidikan Provinsi Aceh serius membangun Gerakan literasi, numerasi dan sains, yang menjadi kunci keberhasilan Finlnadia ini dilakukan dan disokong dengan dana yang cukup besar itu, kualitas pendidikan Aceh akan jauh lebih baik atau berkualitas dalam waktu yang tidak begitu lama. Oleh sebab itu, sebelum terlanjur membeli tong sampah dan lampu tenaga surya yang merepotkan dan kontradiktif itu, dengan pemikiran yang rasional, beralih lah untuk membangun kemampuan literasi peserta didik dan pendidik di jenjang pendidikan Menengah atas yang berada di bawah kekuasaan Dinas Provinsi Aceh.  Ini akan jauh lebih baik dan bermanfaat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

BENGKEL OPINI RAKyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00