Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Saya ingin minta maaf. Sungguh. Dari lubuk hati paling dalam yang penuh luka dan notifikasi. Saya merasa bersalah, bahkan berdosa. Bukan karena saya membunuh karakter, bukan karena saya menyebarkan hoaks, tapi karena… saya menulis. Iya, cuma menulis. Tapi ternyata, di era netizen dengan jempol secepat kilat dan hati selembut batu, menulis bisa dianggap tindakan kriminal level internasional. Bahkan kayaknya Interpol sebentar lagi akan cari saya karena “mengganggu stabilitas emosional publik”.
Semua bermula dari satu hal sederhana, saya nulis tentang konsekuensi hukum kalau ijazah Jokowi palsu. Ini murni hipotesis hukum, niatnya edukatif. Tapi ternyata saya lupa satu hal penting, logika tak berlaku kalau sudah menyentuh nama mantan presiden. Yang saya harapkan jadi diskusi intelektual, malah jadi gladiator show. Para netizen langsung bangkit dari kubur opini masing-masing, menyerang seperti zombie kelaparan yang baru bangun tidur. Sumpah, kolom komentar saya saat itu kayak kuali besar yang sedang direbus di neraka Tiktok.
Lalu, ada yang komentar, “Bang, fair dong. Bikin juga artikel kalau ijazahnya asli.” Saya pun, dengan niat netral se-netral air galon, menulis artikel kebalikannya, konsekuensi hukum kalau ijazahnya asli. Hasilnya? Lebih parah. Yang awalnya ngamuk karena saya seolah nuduh palsu, sekarang ngamuk karena saya seolah bela mati-matian. Lah, ini maunya gimana?
Netizen itu ternyata bukan butuh klarifikasi. Mereka cuma pengin balas dendam pakai emoji. Saya kira dengan kasih dua sisi, damai bisa terjadi. Saya salah besar. Harapan damai di kolom komentar itu kayak harapan nemu charger pas baterai tinggal 1% dan hujan turun deras. Mustahil, wak.
Tapi saya nggak menyerah. Saya bilang ke diri sendiri, “Tenang, ini ujian.” Maka saya angkat lagi satu nama, dr. Tifa, lengkapnya dr Tifauzia Tyassuma. Saya pikir, siapa tahu bisa jadi pintu dialog. Tapi ternyata, bukan pintu dialog yang kebuka, melainkan gerbang neraka kedua. Komentarnya bukan cuma nyerang tulisan saya, tapi udah personal, “Lu dibayar berapa sama dia, bangsat?” Astaga. Demi Tuhan, saya bahkan masih utang sama warkop reot deket rumah. Bayaran dari siapa?
📚 Artikel Terkait
Tapi saya keras kepala. Demi keadilan konten, saya tulis juga soal Gibran Rakabuming. Saya angkat datanya, analisis, saya kasih perspektif. Harusnya objektif. Tapi kenyataan berbicara lain. Kolom komentar saya langsung jadi tempat tawuran online. Antara fans Gibran, pembenci Gibran, fans dr. Tifa, pembenci dr. Tifa, pendukung Jokowi, pembenci Jokowi, orang yang cuma pengin ngetik “Pertamax!”, dan satu orang random yang cuma komen “makan tuh demokrasi”. Saya bingung, ini diskusi apa uji nyali?
Saya pun duduk diam jelang malam minggu, memandangi notifikasi Tiktok yang berkedip seperti sinyal harapan palsu. Saya merenung, apakah saya ini penulis… atau provokator digital tak disengaja? Apakah saya sedang mencerdaskan bangsa… atau malah membuka galian C untuk memecah belah umat dunia maya?
Saya sadar satu hal. Netizen bukan butuh pencerahan. Mereka butuh pelampiasan. Tulisan saya bukan dibaca, tapi dijadikan alat lempar. Saya berharap jadi jembatan. Ternyata saya jadi papan panah. Saya pikir saya sedang berkontribusi pada demokrasi. Tapi ternyata saya sedang membuka konser Slipknot di kolom komentar.
Di titik ini, saya pasrah. Saya hanya bisa berdoa agar satu hari nanti, entah kapan, kubu-kubu yang bertikai ini bisa duduk bareng, ngopi, dan tertawa bersama. Tapi kayaknya itu cuma bisa terjadi kalau ada alien turun dan bilang, “Bumi akan dihancurkan karena kalian terlalu sering debat di kolom komentar.”
Sampai hari itu tiba, saya hanya bisa menulis lagi. Dengan risiko dibenci lagi. Diserang lagi. Dituduh lagi. Tapi ya sudahlah. Menulis itu ibadah. Komentar netizen adalah nerakanya.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






