POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Kelas Biasa ke Kelas Luar Biasa

RedaksiOleh Redaksi
April 26, 2025
Dari Kelas Biasa ke Kelas Luar Biasa
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Muhammad Syawal Djamil*

*Praktisi Pendidikan

Bayangkan sebuah ruang kelas tempat semua anak, apa pun latar belakangnya, merasa dihargai dan mampu berkembang. Sayangnya, gambaran ini masih jauh dari kenyataan di banyak tempat di Indonesia. Ketimpangan dalam akses dan kualitas pendidikan terus menjadi tantangan besar.

Anak-anak di kota besar menikmati ruang belajar yang nyaman, akses internet cepat, dan guru yang terlatih. Sementara itu, di pelosok negeri, ada siswa yang harus berjalan jauh ke sekolah tanpa listrik, tanpa perpustakaan, dan kadang hanya punya satu guru untuk beberapa kelas sekaligus.

Tapi masalahnya tak berhenti di fasilitas. Yang lebih genting adalah bagaimana siswa belajar. Banyak sekolah masih mengandalkan hafalan dan soal latihan, seolah kemampuan berpikir cukup diukur dari kecepatan menjawab pilihan ganda. Padahal, dunia hari ini menuntut lebih dari sekadar hafalan.

Deep Learning
Pembelajaran mendalam atau deep learning adalah pendekatan yang mendorong siswa untuk memahami, bukan sekadar mengingat. Mereka diajak berpikir kritis, menghubungkan pengetahuan, mengeksplorasi ide, dan memecahkan masalah nyata. Inilah keterampilan abad 21 yang dibutuhkan siapa pun, di mana pun mereka belajar.

Negara-negara dengan sistem pendidikan unggul sudah lama menerapkan pendekatan ini. Sementara Indonesia, berdasarkan data PISA 2022, masih tertinggal dalam membaca, matematika, dan sains—indikasi bahwa sistem pembelajaran kita belum membekali siswa dengan cara berpikir yang dibutuhkan di dunia nyata.

Satu kesalahpahaman besar adalah mengira kualitas pembelajaran bergantung pada teknologi. Tentu, internet dan perangkat digital bisa membantu, tapi yang paling menentukan adalah bagaimana guru mengajar dan bagaimana siswa belajar.

John Hattie dalam penelitiannya menunjukkan bahwa keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran jauh lebih berpengaruh dibanding kecanggihan alat. Artinya, kelas sederhana pun bisa melahirkan pemikir besar—asal pendekatannya tepat.

📚 Artikel Terkait

Melindungi Anak Menyelamatkan Generasi

Arti Seorang Teman

Sunan Pojok: Jejak Pangeran Surobahu dalam Sejarah Awal Blora

Potensi Tanah Wakaf yang Terbengkalai di Aceh Besar

Masalahnya, banyak guru belum mendapatkan pelatihan yang memadai untuk menerapkan deep learning. Pelatihan sering kali hanya administratif. Kurikulum juga terlalu padat, membuat guru lebih fokus mengejar target ketimbang membangun pemahaman siswa.

Agar pembelajaran bermakna bisa terjadi, guru perlu ruang untuk bereksperimen, didampingi dalam pengembangan praktik mengajar, dan diberi kepercayaan untuk membangun pembelajaran yang relevan dengan kehidupan muridnya.

Pendidikan berkualitas bukan hak eksklusif anak-anak kota. Ia harus hadir di setiap pelosok, dari pesisir hingga pegunungan, dari anak-anak dengan keistimewaan hingga mereka yang berkebutuhan khusus. Ini bukan soal idealisme semata, tapi komitmen pada keadilan.

Kita butuh kebijakan yang mendukung: perbaikan infrastruktur di daerah tertinggal, peningkatan kesejahteraan guru, serta pemanfaatan teknologi secara bijak melalui blended learning atau remote learning untuk wilayah yang sulit dijangkau.

Lebih jauh, pendidikan juga harus adaptif terhadap perubahan. Kurikulum perlu memberi ruang bagi proyek nyata, pendekatan STEAM, dan program magang. Siswa harus dikenalkan pada tantangan dunia nyata, bukan hanya diajari menjawab soal.

Mengubah Paradigma


Jika kita ingin pendidikan menjadi alat pembebasan, bukan alat pelanggeng ketimpangan, maka paradigma harus diubah. Dari hafalan ke pemahaman. Dari kejar nilai ke bangun nalar. Dari sekolah sebagai pabrik, menjadi ruang tumbuh yang memanusiakan.

Deep learning bukan sekadar metode. Ia adalah wujud harapan: bahwa setiap anak punya potensi, bahwa setiap guru bisa jadi agen perubahan, dan bahwa setiap ruang kelas, betapa pun sederhananya, bisa menjadi pusat transformasi.

Pendidikan yang adil dan berkualitas tak bisa ditunda. Ia bukan hanya soal statistik, tapi masa depan jutaan anak bangsa. Jika kita serius ingin perubahan, maka pembelajaran mendalam harus menjadi arus utama dalam praktik pendidikan kita.

Karena di balik setiap anak yang berpikir, bertanya, dan bermimpi, ada masa depan bangsa yang sedang dibentuk. Nyanban

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Ketika Saya Merasa Berdosa kepada Netizen

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00