Dengarkan Artikel
(Refleksi Sosial, Budaya, dan Religi dari Aceh untuk Indonesia)
Oleh Dayan Abdurrahman
Di tengah dinamika pembangunan nasional dan keragaman tantangan sosial di Aceh, muncul satu pertanyaan penting yang layak direnungkan bersama: di mana posisi alumni Bahasa Inggris dalam percakapan besar tentang masa depan bangsa? Tidak hanya dalam konteks profesi, tetapi lebih luas—dalam wacana kebudayaan, agama, ekonomi, dan tanggung jawab sosial. Alumni Bahasa Inggris bukan sekadar lulusan yang fasih menyusun kalimat atau menerjemahkan teks asing, tapi juga warga intelektual yang memiliki potensi membentuk arah bangsa, terutama di wilayah strategis seperti Aceh.
Aceh, daerah yang sarat makna religius sekaligus menjadi simpul penting dalam sejarah nasional, telah melalui banyak hal. Salah satunya adalah bencana besar tsunami tahun 2004 yang tidak hanya mengguncang fisik wilayah ini, tetapi juga menggugah kesadaran sosial, spiritual, dan kultural kita semua. Dalam masa-masa pemulihan (tsunami recovery), banyak alumni Bahasa Inggris dari Aceh mengambil peran penting, walau sering tidak disebut dalam narasi arus utama.
Sebagian menjadi relawan yang menjembatani komunikasi antara lembaga internasional dan masyarakat lokal. Mereka menerjemahkan bukan hanya bahasa, tapi juga emosi, trauma, dan harapan. Ada yang terlibat dalam proyek pembangunan rumah, sekolah, dan fasilitas publik—bukan sebagai tukang atau pejabat, tapi sebagai penghubung nilai, sebagai “translator budaya” yang mampu menjelaskan adat Aceh kepada ekspatriat, sekaligus menyampaikan maksud lembaga donor kepada masyarakat lokal. Ini peran yang sangat unik, dan nyaris tidak tergantikan.
Pengalaman masa lalu itu menunjukkan bahwa alumni Bahasa Inggris bisa dan telah menjadi bagian dari proses transformasi sosial yang sangat krusial. Namun sayangnya, pembelajaran dari pengalaman itu belum sepenuhnya dikapitalisasi oleh lembaga pendidikan tinggi. Banyak kampus di Aceh masih terjebak dalam pola pikir sempit: menjadikan lulusan Bahasa Inggris hanya sebagai pengajar atau penyusun laporan. Padahal, realitas dunia kerja dan krisis kemanusiaan tidak mengenal batasan jurusan.
Dan hal yang tak disangka pun pernah terjadi—bencana, konflik, bahkan perubahan sosial mendadak yang memaksa kita keluar dari zona nyaman. Dari tsunami 2004, konflik bersenjata, hingga perubahan arah pembangunan dan digitalisasi yang drastis pasca pandemi. Semua ini memberi pelajaran penting: alumni Bahasa Inggris harus benar-benar qualified, tidak hanya dari segi bahasa, tapi juga dalam kepekaan sosial, wawasan budaya, dan spiritualitas yang membumi.
📚 Artikel Terkait
Aceh adalah rumah bagi narasi-narasi besar tentang perdamaian, keteguhan iman, dan ketahanan budaya. Namun siapa yang akan menyuarakan kisah ini kepada dunia? Alumni Bahasa Inggris lah yang paling siap, jika dipersiapkan dengan baik. Bukan hanya untuk menjadi pekerja, tapi pemikir. Bukan sekadar penyampai pesan, tapi pencipta narasi.
Sebagai budayawan dan pencari nafkah, banyak alumni Bahasa Inggris yang kini menjalani hidup di luar jalur akademik formal. Mereka menjadi penulis konten, pembuat film pendek, pegiat komunitas literasi, atau bahkan pebisnis lokal yang menggunakan pendekatan multibahasa dalam promosinya. Di balik semua itu, terdapat keresahan—mengapa potensi besar ini belum mendapat pengakuan yang setara?
Sudah saatnya kampus, pemerintah, dan masyarakat membuka mata. Alumni Bahasa Inggris Aceh harus dilibatkan dalam ruang-ruang kebijakan, budaya, dan dialog sosial. Mereka bisa menjadi penghubung antara wacana internasional dan kebijaksanaan lokal. Mereka bisa menerjemahkan nilai-nilai Islam Aceh dalam narasi damai kepada dunia, atau menjadi suara alternatif dalam menghadapi arus homogenisasi budaya.
Kita tidak tahu krisis apa lagi yang akan datang: perubahan iklim, konflik identitas, perang informasi, atau tantangan moral di era digital. Tapi satu hal pasti: kita harus mempersiapkan alumni Bahasa Inggris dengan kompetensi yang utuh. Bukan hanya soal nilai TOEFL atau kemampuan speaking, tapi juga integritas, empati, dan kesadaran budaya. Mereka harus siap menjadi agen transformasi sosial yang tidak hanya tahu teori, tapi mampu membaca tanda zaman dan bertindak dengan bijak.
Kini saatnya alumni Bahasa Inggris bicara. Bukan untuk membanggakan gelar, tapi untuk menyuarakan kebenaran, keadilan, dan harapan. Karena jika suara kita terus diam, narasi tentang Aceh dan bangsa ini akan terus ditulis oleh mereka yang tidak sepenuhnya memahami akar dan nilai kita. Maka mari kita bersuara—dengan kata, karya, dan aksi.
Karena suara itu pernah menyelamatkan, dan bisa kembali menyelamatkan—asal kita bersiap dengan sungguh-sungguh.
*Penulis adalah pemerhati masalah pendidikan dan sosial budaya
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






