• Latest

Tempat Paling Sepi

April 7, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tempat Paling Sepi

Redaksi by Redaksi
April 7, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro

“Tempat paling sepi di muka bumi di Indonesia adalah: kuburan, kamar mayat, dan perpustakaan.” Ungkapan ini datang dari seorang penulis dan aktivis literasi, Maman Suherman. Terdengar jenaka, tapi sesungguhnya mengandung kritik sosial yang menggigit dan mengusik kesadaran kolektif kita.

Kuburan dan kamar mayat adalah tempat sunyi yang tak terelakkan. Ia menyimpan keheningan kematian yang memang ditakdirkan tanpa suara.

Namun, ketika perpustakaan disandingkan sebagai tempat paling sepi, di sinilah ironi itu menjelma menjadi kegelisahan kultural yang nyata.

Data dari UNESCO menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001%, satu dari seribu orang yang benar-benar membaca secara aktif.

Di negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, angka ini mencerminkan keprihatinan yang mendalam terhadap budaya literasi.

Kesepian perpustakaan bukan hanya karena kosongnya pengunjung, tapi juga karena matinya rasa ingin tahu yang seharusnya tumbuh dalam jiwa masyarakat.

Meski demikian, ada secercah harapan. Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia meningkat dari 66,77 pada 2023 menjadi 72,44 pada 2024.

Daerah Istimewa Yogyakarta bahkan mencatat skor tertinggi sebesar 79,99, membuktikan bahwa upaya kolektif membuahkan hasil.

Namun, tren positif ini belum merata. Banyak daerah masih tertinggal dalam akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas dan mudah dijangkau.

Faktor lainnya adalah dominasi tradisi lisan dan gempuran media digital yang lebih menghibur ketimbang mencerahkan.

Dalam kondisi seperti itu, perpustakaan seringkali terpinggirkan, dianggap kuno, dan tak relevan lagi dengan zaman.

Padahal, perpustakaan adalah ruang hidup bagi ide. Ia bukan hanya gudang buku, tapi semestinya menjadi arena pencarian makna dan jendela dunia.

Sama seperti kamar mayat menyimpan jasad, perpustakaan yang sepi menyimpan bangkai-bangkai gagasan yang tak sempat hidup.

Kita harus bertanya, sejak kapan kita lebih memilih hiburan instan daripada pengetahuan yang tumbuh pelan namun membumi?

Sekolah dan keluarga menjadi kunci utama. Anak-anak perlu dibiasakan membaca bukan hanya sebagai tugas, melainkan kebutuhan dan kegembiraan.

Kini banyak inisiatif dilakukan, seperti perpustakaan mini berbasis komunitas dan program literasi di sekolah yang kreatif dan menyenangkan.

Namun, semua itu tidak akan berarti tanpa perubahan paradigma, bahwa membaca bukan sekadar kemampuan, tapi budaya.

Perpustakaan harus direvitalisasi, bukan hanya dari segi bangunan, tapi juga dari jiwa. Ia perlu diisi dengan aktivitas, dialog, dan kebersamaan.

Buku bukan benda mati. Ia bicara pada mereka yang mau mendengarkan. Maka, kesunyian perpustakaan adalah cermin sunyinya semangat membaca kita.

Penting untuk mengubah persepsi bahwa membaca itu membosankan. Justru di sanalah imajinasi, empati, dan wawasan manusia berakar.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026
ADVERTISEMENT

Kita tidak butuh perpustakaan mewah bila tidak ada cinta terhadap membaca. Kita hanya butuh satu buku, dan satu anak yang mencintainya.

Sebab dari situlah bangsa besar bermula, bukan dari proyek mercusuar, tapi dari halaman-halaman yang dibaca dengan hati dan pikiran terbuka.

Ungkapan Maman Suherman adalah sindiran sekaligus peringatan. Bila perpustakaan tetap sepi, jangan heran jika peradaban kita perlahan ikut sekarat.

Dan jangan salah, tempat paling sepi bukan yang tak ada suara, tapi yang tak ada gagasan.


Rumah Kayu Cepu, 6 April 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 329x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 289x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 245x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #Puisi
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Puisi

‎Kulihat Indonesia di Balik Jendela Sekolah

September 28, 2025
Puisi-Puisi Sigit Prasojo
# Tadarus Puisi

Jejak Luka di Jalan Binatang

September 8, 2025
Merangkai Kata, Menghidupkan Rasa: Cipta Puisi & Wawasan Kebangsaan Republik Rakyat Literasi RRL Kreatif Menggetarkan Hati & Jiwa
# Bedah Puisi

Merangkai Kata, Menghidupkan Rasa: Cipta Puisi & Wawasan Kebangsaan Republik Rakyat Literasi RRL Kreatif Menggetarkan Hati & Jiwa

Agustus 29, 2025
Puisi

Buktinya Adalah Sepiku

Juli 30, 2025
Next Post

Wedang Jahe, Minuman Rempah yang Kembali Diminati Pasca Lebaran

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com