• Latest
Tempat Paling Sepi - 1000482794_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Tempat Paling Sepi

April 7, 2025
Ilustrasi kerumunan orang menatap ponsel di bawah panggung politik dengan figur pemimpin yang dikendalikan seperti boneka oleh tangan besar di atasnya, menggambarkan manipulasi, popularitas, dan hilangnya akal sehat dalam demokrasi.

Menuju Bangsa Goblok (MBG)

April 23, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Tempat Paling Sepi - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Puisi Essay | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
2ba083ca-6b42-4301-9181-39025ceadd55

Hikayat Negeri Para Kuli dan Berhala Hijau

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Tempat Paling Sepi

Redaksi by Redaksi
April 7, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Tempat Paling Sepi - 1000482794_11zon | Puisi Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Gunawan Trihantoro

“Tempat paling sepi di muka bumi di Indonesia adalah: kuburan, kamar mayat, dan perpustakaan.” Ungkapan ini datang dari seorang penulis dan aktivis literasi, Maman Suherman. Terdengar jenaka, tapi sesungguhnya mengandung kritik sosial yang menggigit dan mengusik kesadaran kolektif kita.

Baca Juga
  • Mereka Menemukan Cinta dan Menikah Dalam Komunitas Puisi Esai
  • Badai di Bawah Pohon Pecan

Kuburan dan kamar mayat adalah tempat sunyi yang tak terelakkan. Ia menyimpan keheningan kematian yang memang ditakdirkan tanpa suara.

Namun, ketika perpustakaan disandingkan sebagai tempat paling sepi, di sinilah ironi itu menjelma menjadi kegelisahan kultural yang nyata.

Baca Juga
  • Dokter Spesialis Selangkangan
  • Luka yang Menjadi Cahaya

Data dari UNESCO menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001%, satu dari seribu orang yang benar-benar membaca secara aktif.

Di negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, angka ini mencerminkan keprihatinan yang mendalam terhadap budaya literasi.

Baca Juga
  • Kuliner Tradisional Situbondo, “Nasek Sodu” dan Negeri di Ambang Krisis
  • Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)

Kesepian perpustakaan bukan hanya karena kosongnya pengunjung, tapi juga karena matinya rasa ingin tahu yang seharusnya tumbuh dalam jiwa masyarakat.

Meski demikian, ada secercah harapan. Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia meningkat dari 66,77 pada 2023 menjadi 72,44 pada 2024.

Daerah Istimewa Yogyakarta bahkan mencatat skor tertinggi sebesar 79,99, membuktikan bahwa upaya kolektif membuahkan hasil.

Namun, tren positif ini belum merata. Banyak daerah masih tertinggal dalam akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas dan mudah dijangkau.

Faktor lainnya adalah dominasi tradisi lisan dan gempuran media digital yang lebih menghibur ketimbang mencerahkan.

Dalam kondisi seperti itu, perpustakaan seringkali terpinggirkan, dianggap kuno, dan tak relevan lagi dengan zaman.

Padahal, perpustakaan adalah ruang hidup bagi ide. Ia bukan hanya gudang buku, tapi semestinya menjadi arena pencarian makna dan jendela dunia.

Sama seperti kamar mayat menyimpan jasad, perpustakaan yang sepi menyimpan bangkai-bangkai gagasan yang tak sempat hidup.

Kita harus bertanya, sejak kapan kita lebih memilih hiburan instan daripada pengetahuan yang tumbuh pelan namun membumi?

Sekolah dan keluarga menjadi kunci utama. Anak-anak perlu dibiasakan membaca bukan hanya sebagai tugas, melainkan kebutuhan dan kegembiraan.

Kini banyak inisiatif dilakukan, seperti perpustakaan mini berbasis komunitas dan program literasi di sekolah yang kreatif dan menyenangkan.

Namun, semua itu tidak akan berarti tanpa perubahan paradigma, bahwa membaca bukan sekadar kemampuan, tapi budaya.

Perpustakaan harus direvitalisasi, bukan hanya dari segi bangunan, tapi juga dari jiwa. Ia perlu diisi dengan aktivitas, dialog, dan kebersamaan.

Buku bukan benda mati. Ia bicara pada mereka yang mau mendengarkan. Maka, kesunyian perpustakaan adalah cermin sunyinya semangat membaca kita.

Penting untuk mengubah persepsi bahwa membaca itu membosankan. Justru di sanalah imajinasi, empati, dan wawasan manusia berakar.

Kita tidak butuh perpustakaan mewah bila tidak ada cinta terhadap membaca. Kita hanya butuh satu buku, dan satu anak yang mencintainya.

Sebab dari situlah bangsa besar bermula, bukan dari proyek mercusuar, tapi dari halaman-halaman yang dibaca dengan hati dan pikiran terbuka.

Ungkapan Maman Suherman adalah sindiran sekaligus peringatan. Bila perpustakaan tetap sepi, jangan heran jika peradaban kita perlahan ikut sekarat.

Dan jangan salah, tempat paling sepi bukan yang tak ada suara, tapi yang tak ada gagasan.


Rumah Kayu Cepu, 6 April 2025.

Tags: #Puisi
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Tempat Paling Sepi - 1000482235_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Wedang Jahe, Minuman Rempah yang Kembali Diminati Pasca Lebaran

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com