• Latest
Tempat Paling Sepi - 1000482794_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Tempat Paling Sepi

April 7, 2025
651a665d-a972-4237-889b-3f896bd0ff78

Komitmen dan Konsistensi Sebagai Penakar Etika, Moral dan Akhlak Mulia Yang bersifat Ilahiyah

April 12, 2026
1ac9c27f-7427-4c6a-b3f3-76cd09bc22ae

Selangkangan Borjuis

April 12, 2026
dc7b6933-d445-40b2-9886-71a08edbedd9

Menghalau Petaka Intelektual: Refleksi Sains dan Iman ala Al-Ghazali.

April 12, 2026
IMG_0751

Macet Menulis? Jangan Paksa! Lakukan Ini Saja (Resep dari Larry L. King)

April 12, 2026
de17d6a0-a45b-4472-ab39-12da2eea3a53

Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

April 12, 2026
ilustrasi stereotip budaya komunikasi Aceh

Benarkah Orang Aceh Kasar? Tinjauan Psikologi dan Budaya

April 12, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Antara Efek Jera dan Keadilan

April 12, 2026
Illegal mining and corruption in Indonesia

Tambang Ilegal dan Absennya Negara

April 12, 2026
  • #22859 (tanpa judul)
  • Al-Qur’an
  • Disclaimer
  • Home
  • Kirim Naskah
  • Penulis
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • ToS
Senin, April 13, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Tempat Paling Sepi - 1000482794_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Tempat Paling Sepi

Redaksi by Redaksi
April 7, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Gunawan Trihantoro

“Tempat paling sepi di muka bumi di Indonesia adalah: kuburan, kamar mayat, dan perpustakaan.” Ungkapan ini datang dari seorang penulis dan aktivis literasi, Maman Suherman. Terdengar jenaka, tapi sesungguhnya mengandung kritik sosial yang menggigit dan mengusik kesadaran kolektif kita.

Kuburan dan kamar mayat adalah tempat sunyi yang tak terelakkan. Ia menyimpan keheningan kematian yang memang ditakdirkan tanpa suara.

Namun, ketika perpustakaan disandingkan sebagai tempat paling sepi, di sinilah ironi itu menjelma menjadi kegelisahan kultural yang nyata.

Data dari UNESCO menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001%, satu dari seribu orang yang benar-benar membaca secara aktif.

Di negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, angka ini mencerminkan keprihatinan yang mendalam terhadap budaya literasi.

Kesepian perpustakaan bukan hanya karena kosongnya pengunjung, tapi juga karena matinya rasa ingin tahu yang seharusnya tumbuh dalam jiwa masyarakat.

Meski demikian, ada secercah harapan. Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia meningkat dari 66,77 pada 2023 menjadi 72,44 pada 2024.

Daerah Istimewa Yogyakarta bahkan mencatat skor tertinggi sebesar 79,99, membuktikan bahwa upaya kolektif membuahkan hasil.

Namun, tren positif ini belum merata. Banyak daerah masih tertinggal dalam akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas dan mudah dijangkau.

Faktor lainnya adalah dominasi tradisi lisan dan gempuran media digital yang lebih menghibur ketimbang mencerahkan.

Dalam kondisi seperti itu, perpustakaan seringkali terpinggirkan, dianggap kuno, dan tak relevan lagi dengan zaman.

Padahal, perpustakaan adalah ruang hidup bagi ide. Ia bukan hanya gudang buku, tapi semestinya menjadi arena pencarian makna dan jendela dunia.

Sama seperti kamar mayat menyimpan jasad, perpustakaan yang sepi menyimpan bangkai-bangkai gagasan yang tak sempat hidup.

Kita harus bertanya, sejak kapan kita lebih memilih hiburan instan daripada pengetahuan yang tumbuh pelan namun membumi?

Sekolah dan keluarga menjadi kunci utama. Anak-anak perlu dibiasakan membaca bukan hanya sebagai tugas, melainkan kebutuhan dan kegembiraan.

Kini banyak inisiatif dilakukan, seperti perpustakaan mini berbasis komunitas dan program literasi di sekolah yang kreatif dan menyenangkan.

Namun, semua itu tidak akan berarti tanpa perubahan paradigma, bahwa membaca bukan sekadar kemampuan, tapi budaya.

Perpustakaan harus direvitalisasi, bukan hanya dari segi bangunan, tapi juga dari jiwa. Ia perlu diisi dengan aktivitas, dialog, dan kebersamaan.

Buku bukan benda mati. Ia bicara pada mereka yang mau mendengarkan. Maka, kesunyian perpustakaan adalah cermin sunyinya semangat membaca kita.

Penting untuk mengubah persepsi bahwa membaca itu membosankan. Justru di sanalah imajinasi, empati, dan wawasan manusia berakar.

Kita tidak butuh perpustakaan mewah bila tidak ada cinta terhadap membaca. Kita hanya butuh satu buku, dan satu anak yang mencintainya.

Sebab dari situlah bangsa besar bermula, bukan dari proyek mercusuar, tapi dari halaman-halaman yang dibaca dengan hati dan pikiran terbuka.

Ungkapan Maman Suherman adalah sindiran sekaligus peringatan. Bila perpustakaan tetap sepi, jangan heran jika peradaban kita perlahan ikut sekarat.

Dan jangan salah, tempat paling sepi bukan yang tak ada suara, tapi yang tak ada gagasan.


Rumah Kayu Cepu, 6 April 2025.

Tags: #Puisi
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Tempat Paling Sepi - 1000482235_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Wedang Jahe, Minuman Rempah yang Kembali Diminati Pasca Lebaran

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com