• Latest

Derai Air Mata di Pintu Gerbang Sritex

Maret 2, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Derai Air Mata di Pintu Gerbang Sritex

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Maret 2, 2025
Reading Time: 3 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Hari itu, 1 Maret 2025. Langit mendung menggantung di atas pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah. Tidak ada lagi suara mesin jahit. Tidak ada lagi langkah tergesa pekerja yang bergegas ke lini produksi. Hanya ada ribuan manusia yang berdiri, menangis, dan menatap kosong ke arah bangunan megah yang telah menjadi rumah mereka selama puluhan tahun.

Di depan gerbang, pemilik Sritex berdiri. Mikrofon di genggamannya bergetar. Ia menarik napas dalam, menahan emosi yang hampir pecah. Dengan suara berat, ia mulai menyanyikan lagu perpisahan. Suaranya lirih, bergetar. Namun tak butuh waktu lama, ribuan suara mengiringinya. Lagu itu berubah menjadi tangisan kolektif. Tangisan yang lahir dari kehilangan.

Hari itu, Sritex resmi tutup. Raksasa tekstil yang pernah menjadi kebanggaan Indonesia, yang pernah memasok seragam militer untuk NATO dan pakaian merek dunia seperti H&M, akhirnya tumbang.

Sritex bukan sekadar pabrik. Bagi lebih dari 10.000 pekerjanya, ini adalah hidup mereka. Tempat mereka menghabiskan puluhan tahun bekerja, membangun rumah tangga, membesarkan anak-anak. Sekarang? Semua itu hancur.

Baca Juga

IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026
Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026

Ketika pandemi COVID-19 melanda, Sritex mulai goyah. Permintaan global anjlok. Pesaing dari luar negeri masuk dengan harga lebih murah. Hutang menumpuk. Hingga akhirnya, pada Oktober 2024, Pengadilan Negeri Niaga Semarang menjatuhkan palu: pailit.

Sritex mencoba melawan. Mereka mengajukan kasasi, berharap ada jalan keluar. Namun kenyataan berbicara lain. Kreditur menuntut pembayaran. Produksi makin lesu. Di awal 2025, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menyerah.

Di tengah gelombang PHK massal, ada satu janji yang terus terngiang di benak para buruh. Janji dari Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer, yang akrab disapa Noel.

“Saya lebih baik kehilangan jabatan saya daripada harus melihat kawan-kawan buruh dipecat.”

Ucapan itu keluar dari mulutnya saat berkunjung ke pabrik Sritex pada 15 November 2024. Saat itu, ia berjanji pemerintah akan berjuang. Bahwa mereka tidak akan membiarkan ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian.

Namun kini? Pemerintah angkat tangan. Tak ada bailout, tak ada penyelamatan. Semua yang pernah dijanjikan hanya tinggal kata-kata yang tersapu angin.

Salah satu mantan pekerja, Sutarmi (52 tahun), menangis saat diwawancarai.

“Saya kerja di sini dari umur 20, Pak. Sekarang saya harus apa? Usia saya sudah tua, siapa yang mau terima saya?”

Ratusan pekerja lain bernasib sama. Mereka bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga kehilangan harapan.

Sebagai pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara, Sritex pernah berjaya. Memiliki lebih dari 50.000 karyawan, mengirim produknya ke lebih dari 100 negara, dengan omzet triliunan rupiah.

Namun hari ini, semua tinggal kenangan.

Di dalam pabrik, mesin-mesin jahit berdiri kaku. Kain-kain yang dulu ditenun dengan harapan kini hanya menjadi sisa-sisa kegagalan. Lorong-lorong yang dulu dipenuhi suara pekerja kini sunyi.

Sritex, yang namanya berarti Sri Rejeki Isman, kini kehilangan rejekinya sendiri. Di depan gerbang, di bawah langit yang mendung, ribuan pekerja menatap kosong. Mereka bertanya dalam hati, habis ini, ke mana kami harus melangkah?

ADVERTISEMENT

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com