Dengarkan Artikel
Kisah Inspiratif Tunggal Rizki Susiawanti, S.Pd.SD
Di pelosok Blora, Jawa Tengah, tepatnya di Dusun Ngodo, Desa Semanggi, seorang perempuan bernama Tunggal Rizki Susiawanti,S.Pd.SD, dengan tekad dan semangat luar biasa, berjuang mencerdaskan anak bangsa. Lahir pada 4 Juni 1988. Ia telah menempuh berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SDN Tutup2, SMP Negeri 1 Blora, SMA Negeri 1 Blora, hingga meraih gelar D2 di Universitas Negeri Semarang dan melanjutkan S1 di Universitas Terbuka jurusan PGSD. Saat ini, ia masih menempuh pendidikan S2 dengan harapan semakin memperdalam ilmu demi kemajuan generasi penerus.
Tunggal kini mengabdi di SDN 1 Semanggi dan SMPN 4 Jepon Satu Atap, sekolah yang berlokasi di tengah kawasan Perum Perhutani. Lokasinya yang dikelilingi hutan dan akses jalan berbatu serta licin saat hujan, tak menyurutkan langkahnya untuk memberikan pendidikan berkualitas bagi anak-anak di sana.
Bukan hal mudah mengajar di sekolah yang jauh dari perkotaan. SDN 1 Semanggi memiliki 6 rombongan belajar dengan fasilitas yang cukup memadai, termasuk ruang kelas, perpustakaan, UKS, dan kamar mandi. Namun, ketidakhadiran mushola menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, semangat religius tetap terjaga dengan siswa dan guru yang rutin berjalan kaki tujuh menit menuju masjid desa untuk menunaikan sholat berjamaah.
Sekolah ini memiliki 10 pendidik dan tenaga kependidikan, termasuk kepala sekolah yang juga menjabat sebagai kepala SMPN 4 Jepon Satu Atap. Dari mereka, hanya empat yang berstatus PNS, sementara lainnya adalah ASN, GTT, dan PTT yang tetap berkomitmen mendidik 89 siswa yang terdiri dari 48 laki-laki dan 41 perempuan pada tahun ajaran 2024/2025.
Tantangan lain datang dari kurangnya kesempatan bagi siswa untuk bersaing dengan anak-anak dari sekolah perkotaan. Dengan keterbatasan fasilitas dan sumber daya, menggali potensi dan bakat siswa menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pendidik di SDN 1 Semanggi.
Berangkat dari kesadaran akan potensi siswa yang perlu difasilitasi. Tunggal bersama para guru di SDN 1 Semanggi dan SMPN 4 Jepon Satu Atap menciptakan inovasi CERIA, singkatan dari “Cerdas Fasilitasi Bakat dan Pembelajaran Siswa”. Program ini bertujuan untuk menggali dan mengembangkan bakat siswa sesuai dengan kodrat alam dan zaman agar mereka mampu bersaing dengan sekolah lain.
Melalui diskusi dan refleksi bersama warga sekolah, inovas iCERIA lahir dengan memanfaatkan aset yang dimiliki sekolah secara maksimal. Kegiatan ini melibatkan berbagai metode pembelajaran kreatif dan interaktif untuk menumbuhkan minat serta kepercayaan diri siswa dalam mengasah kemampuan mereka di bidang akademik maupun non-akademik.
Hasil dari inovasi CERIA mulai terlihat. Siswa yang sebelumnya merasa minder dengan kondisi sekolah mereka, kini berani menunjukkan bakat dan prestasi. Tidak hanya siswa, guru juga semakin kreatif dalam metode pengajaran dan aktif berbagi praktik baik dengan rekan sejawat. Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara semakin diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.
Prestasi mulai berdatangan, membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk berprestasi:
📚 Artikel Terkait
1. Juara 3 O2SN Formula One tingkat kecamatan Jepon (2023)
2. Juara Harapan 1 FLS2N Pantomime tingkat kecamatanJepon (2023)
3. Juara 1 Membaca Puisi tingkat kabupaten (2023)
4. Juara III FTBI Mendongeng tingkat kabupaten (2023)
5. Juara 2 O2SN Lari Gawang tingkat kecamatan Jepon (2024)
6. Juara 3 O2SN Formula One tingkat kecamatan Jepon (2024)
7. Juara 3 FLS2N Pantomim tingkat kecamatan Jepon (2024)
8. Juara 1 FTBI Geguritan tingkat kabupaten (2024)
9. Juara Harapan 1 Seni Menulis Aksara Jawa tingkatkabupaten (SMP)
10. Juara Harapan 1 FTBI Geguritan tingkat provinsi
Tidak hanya siswa yang mengukir prestasi, para guru juga aktif dalam berbagai ajang, termasuk Kepala Sekolah yang meraih Juara 2 dalam lomba pembacaan Panca Prasetya KORPRI tingkat kabupaten pada November lalu.
Kini, SDN 1 Semanggi dan SMPN 4 Jepon Satu Atap semakin dikenal luas. Siswa lebih percaya diri dan antusias dalam mengembangkan bakat mereka. Tidak ada lagi rasa rendah diri karena kondisi geografis. Orang tua pun semakin antusias dalam mendukung anak-anak mereka berprestasi.
Kegiatan ekstrakurikuler seperti kepramukaan dan PKS juga semakin aktif. Bahkan, ada siswa dari SMPN 4 Jepon yang berhasil mewakili kecamatan dalam jambore daerah hingga tingkat provinsi. Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah semakin meningkat, ditandai dengan kontribusi mereka yang semakin besar dalam mendukung berbagai program pendidikan di sekolah.
Kisah Tunggal Rizki Susiawanti adalah bukti bahwa pendidikan bukan hanya tentang gedung megah atau fasilitas canggih, tetapi tentang dedikasi dan inovasi para pendidiknya. Dengan semangat pantang menyerah, ia berhasil menyalakan cahaya di tengah hutan, membimbing anak-anak menuju masa depan yang lebih cerah.
Seperti yang selalu ia tanamkan, “Pendekatan yang kreatif, penggunaan teknologi, dan menciptakan lingkungan yang positif sangat membantu siswa berkembang dan menemukan bintang mereka.” Begitu pula pesannya kepada para pendidik dan siswa, “Segala peristiwa dan keadaan yang terjadi, dengarkan, lihat, rasakan, dan sikapi secara positif. Hal itu akan membuat kita bahagia dan memberikan kebahagiaan pada sekitarmu.”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






