Dengarkan Artikel
“manusia dianugerahi akal yang dengan
T. Fajar Ilham
akal itu, ia sadar akan diri. Namun
demikian, ia sering tak sadarkan diri ketika
godaan datang mencumbunya”.
Cerita ini dimulai pada Kamis siang 6 feb 2025. Pada saat saya membaca buku The Art Of Loving, karya Erich Fromm. Buku ini membahas cinta bukan sebagai perasaan pasif.
Fromm mengingatkan bahwa cinta sejati adalah tindakan aktif untuk mengatasi keterasingan dan membangun kebersamaan.
Menurut saya, dalam pemikiran Fromm itu masih ada kekosongan di dalam diri manusia yang harus diisi, karena kalau hanya untuk mengusir keterasingan untuk mendapatkan kebahagian, maka manusia akan diformat untuk mencari, bukan menciptakan.
Keterasingan adalah keniscayaan yang ada dalam diri manusia, karena manusia juga makhluk individu yang tidak bisa dinafikan.
Tiba-tiba saya teringat kisah masa lalu saya, yang sering bergurau dengan teman-teman sekolah tentang “sie paneuk akai” kalau dalam bahasa Indonesia dia yang akalnya pendek.
Namun demikian, begitulah yang namanya manusia, dikarenakan dalam diri manusia itu ada semacam drive keinginan (hawa nafsu) dalam versi Islam, kalau dalam psikoanalisis Sigmund Freud ia memperkenalkan konsep Eros dan Thanatos.
Eros yang ia namai dari dewa cinta, dalam mitologi Yunani, Eros merupakan representasi dorongan untuk hidup, mencintai, dan menciptakan.
Sementara Thanatos, ia namai dewa kematian, yang melambangkan dorongan untuk menghancurkan, mengulang trauma, atau mencari kematian.
Menurut Freud, Eros dan Thanatos adalah dua sisi dari koin yang sama, simbol dari ambivalensi manusia sebagai makhluk yang mampu mencintai dan membenci, membangun dan menghancurkan.
Freud mengingatkan kita bahwa peradaban hanya bisa bertahan jika Eros menguasai Thanatos, tetapi sejarah membuktikan bahwa kemenangan itu tidak pernah mutlak.
Mungkin pelajaran yang bisa kita petik dalam teori ini adalah bagaimana kita harus mampu menundukan dorongan-dorongan gelap dalam diri manusia.
Sekarang kita ke perspektif pemikiran Islam, tentang Eros dan Thanatos. Dalam pemikiran Islam. Eros bukan sekadar hasrat seksual atau naluri biologis, melainkan cinta (mahabbah) yang terarah kepada Allah.
📚 Artikel Terkait
Al-Qur’an menyebutkan: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang.” (QS Ar-Rum: 21).
Cinta manusia terhadap pasangan, keluarga, atau kebaikan adalah refleksi dari cinta tertinggi kepada Allah (mahabbatullah).
Kalau dalam sudut pandang Sufisme, merujuk pada konsep ‘isyq’ (cinta mendalam) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Penyair sufi seperti Jalaluddin Rumi menggambarkan cinta sebagai kekuatan yang menggerakkan alam semesta: “Cinta adalah jembatan antara engkau dan Yang Mutlak, tanpanya, dunia ini hanya debu.”
Thanatos dalam sudut pandang Islam kematian (maut) bukan akhir, melainkan peralihan menuju kehidupan hakiki.
Al-Qur’an menegaskan: “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.*
(QS Ali Imran: 185).
Konsep Thanatos dalam Islam tidak dirayakan sebagai destruksi, tetapi dihadapi dengan kesadaran akan takdir.
Kematian mengingatkan manusia pada keterbatasan eksistensi duniawi, sekaligus memotivasi mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi akhirat.
Islam menekankan jihad al-akbar (perang melawan hawa nafsu) atau bisa kita sebut bentuk pengendalian Thanatos. Karena Islam juga mengakui kecenderungan destruktif manusia, yaitu nafsu ammarah (jiwa yang menyuruh pada ke burukkan).
Dalam sudut pandang Islam, pertarungan Eros dan Thanatos adalah ujian untuk mengukuhkan keimanan.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad:“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi).
Dengan demikian, Eros dan Thanatos dalam Islam bukanlah kekuatan yang bertentangan, melainkan dua aspek dari ujian ketauhidan.
Cinta (Eros) harus diarahkan kepada Allah, sementara kematian (Thanatos) diyakini sebagai jalan kembali kepada-Nya. Seperti firman Allah:“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.” (QS Al-Baqarah: 156).
Dan dengan begitu Islam telah memberi resolusi bahwa Eros adalah ibadah, Thanatos adalah kepulangan, unik memang. Tetapi memang keduanya itu anugerah dari sang pencipta untuk
dipersatukan dalam harmoni.
Kalau dalam petuah para sufi, “ketika manusia menyadari bahwa hidup dan mati hanyalah perjalanan menuju Sang Maha Cinta”.
Akhir dari tulisan ulang ini saya ingin menceritakan bahwa dinamika Eros dan Thanatos, jauh melampaui pandangan Freud.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






