POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Perempuan

Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Februari 4, 2025
in Perempuan, Tokoh
0
Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar - 1000304869 | Perempuan | Potret Online

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara

Oleh Gunawan Trihantoro

Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Baca Juga
  • 01
    Artis
    Kanal Khiev, Finalis Kamboja’s Got Talent Mempertunjukkan Tarian Spektakulernya di IMLF II
    29 Apr 2024
  • 1001463400_11zon
    Artikel
    Aplikasi Teori Ibnu Khaldun pada Sejarah Aceh: Sebuah Analisis Sosio-Historis
    02 Mei 2026

Andi Depu Maraddia Balanipa, pahlawan wanita berjilbab asal Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, merupakan seorang pejuang yang memimpin pasukan melawan Belanda pada 1946. Perjuangan Andi Depu tidak sebentar. Ia termasuk pahlawan wanita yang ikut berperang melawan Belanda dan Jepang. [1]

***

Baca Juga
  • IMG_0654
    Artikel
    Fenomena Habibi
    06 Apr 2026
  • Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar - ff25a5f3 0248 4dc7 8dd0 80d1f9ac5e9d | Perempuan | Potret Online
    Artikel
    Pelukan Terakhir Ibu dan Anak Sebelum Keduanya Meninggal
    12 Mar 2025

Di ufuk Sulawesi Barat, Mandar memeluk laut,

Di sana lahir seorang perempuan dengan tekad membatu.

Baca Juga
  • Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar - b047f686 866e 43d5 8945 46323d377e75 | Perempuan | Potret Online
    #Fitnah
    Ditendang dari Panggung, Tapi Balik Lagi Bawa Palu Godam
    19 Apr 2025
  • IMG_0878
    Artikel
    Perempuan di Titik Klimaks
    21 Apr 2026

Andi Depu, namanya terukir dalam sejarah,

Bukan sekadar ibu bangsa,

Namun penjaga nyala api kemerdekaan.

Di tanah penuh ombak dan buih,

Ia tak sekadar berdiri.

Ia berlari, membawa panji merah putih,

Di tengah ancaman penjajah yang merendahkan negeri.

Baginya, tanah Mandar bukan sekadar kampung,

Namun ibu yang harus dijaga.

Tahun-tahun kolonial menancapkan luka,

Darah dan air mata menghias tiap sudut tanah air.

Namun Andi Depu tak gentar,

Ia seorang perempuan,

Namun keberaniannya melampaui gunung-gunung tinggi.

Membentangkan bendera pusaka,

Ia berteriak kepada dunia,

“Ini Mandar, tanah kami, bukan untuk dirampas!”

Ketika Belanda mencoba merenggut kebebasan,

Andi Depu berdiri di garis depan.

Seakan-akan tubuhnya adalah benteng,

Yang menolak setiap peluru penjajah.

Ia tak gentar, bahkan ketika kematian mendekat,

Karena bagi Andi Depu,

Mati demi tanah air adalah hidup yang sesungguhnya.

Di sebuah subuh yang basah oleh embun,

Mandar dirundung ketakutan.

Penjajah datang dengan bayonet dan senapan,

Namun Andi Depu maju,

Menyematkan harapan pada setiap langkahnya.

“Ini republik, rumah kita bersama,

Tak akan kubiarkan diinjak oleh kaki asing.”

Ketika sang merah putih berkibar,

Itu bukan sekadar kain,

Namun simbol perjuangan, cinta, dan keberanian.

Andi Depu menjahitnya dengan darah,

Menegakkannya dengan doa,

Dan melindunginya dengan nyawa.

Ia tak hanya melawan dengan senjata,

Namun dengan pendidikan dan kata-kata.

“Anak-anak Mandar harus belajar,” katanya,

“Karena pena lebih tajam dari pedang.”

Ia mengajarkan cinta pada bangsa,

Menghidupkan semangat perjuangan,

Di hati generasi yang hampir padam.

Namun perjuangan bukan tanpa harga.

Keluarganya menjadi sasaran,

Rumahnya dibakar, tanahnya dirampas.

Namun ia tersenyum, meski hatinya bergetar,

Karena ia tahu, kemerdekaan lebih berharga

Dari apa pun yang bisa dimiliki seorang manusia.

Belanda berusaha menundukkannya,

Dengan janji dan ancaman.

Namun Andi Depu tetap teguh,

“Jangan pernah menjual jiwa untuk kenyamanan.”

Katanya kepada anak-anaknya,

Dan kepada rakyat yang ia cintai.

Ketika republik ini berdiri,

Ia bukan hanya menyaksikan,

Namun menjadi bagian dari sejarahnya.

Di bawah bendera merah putih,

Ia berdoa untuk tanah airnya,

Agar selalu merdeka, selalu berjaya.

Kini, nama Andi Depu hidup dalam setiap ombak Mandar,

Dalam nyanyian angin di pantai,

Dan di hati setiap anak Indonesia.

Ia bukan hanya seorang pahlawan,

Namun cahaya yang tak pernah padam.

Ia mengajarkan bahwa perempuan adalah penjaga bangsa,

Bahwa keberanian tak mengenal jenis kelamin,

Dan bahwa cinta pada tanah air adalah warisan terbesar.

Andi Depu, sang lentera dari Mandar,

Menyala abadi dalam sejarah bangsa.

Ia adalah bukti bahwa perjuangan,

Bukan sekadar milik mereka yang berpedang,

Namun juga milik mereka yang berjiwa besar,

Yang mencintai negerinya dengan seluruh hati.

***

Rumah Kayu Cepu, 28 Januari 2025.

CATATAN:

[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Andi Depu yang lahir di Tinambung, Mandar, Sulawesi Barat, pada 1907. Ia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang berani mengibarkan bendera merah putih di masa penjajahan Belanda.

https://tirto.id/pahlawan-nasional-2018-kisah-andi-depu-bertempur-demi-republik-c9E9

Previous Post

PIK-2 Melibas Hutan Lindung Yang Dipaksakan Masuk Menjadi Bagian Dari Proyek Strategis Nasional

Next Post

Bahlil yang Bergeming

Next Post
Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar - 1000305005 | Perempuan | Potret Online

Bahlil yang Bergeming

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah