Dengarkan Artikel
Oleh: Alya Azzahra
POTRET – Di sebuah pesantren di pinggiran kota, Zahra memulai perjalanan yang ia kira akan penuh dengan cahaya. Di awal masa pesantren, semangatnya begitu besar. Ia ingin menjadi hafizah, seseorang yang mampu menghafal Al-Qur’an sepenuhnya. Cita-cita mulia itu selalu terucap dalam doa-doa ibunya setiap malam. Selain itu, Zahra juga bercita-cita menjadi seorang dokter.
Namun, lima bulan telah berlalu, dan Zahra mulai merasa lelah. Rutinitas di pesantren yang padat membuatnya tertekan. Mulai dari bangun tahajud, salat Subuh berjamaah, menghafal Al-Qur’an, belajar, hingga mengikuti berbagai kegiatan pesantren sampai malam hari. Zahra merasa hidupnya seperti roda yang terus berputar tanpa henti.
“Zahra, hafalanmu bagaimana?” tanya Aufa, teman sekamarnya, suatu pagi.
Zahra hanya tersenyum tipis. “Masih tertinggal. Aku kesulitan mengingat surat yang panjang.”
Aufa menepuk bahunya. “Tenang saja, kita semua punya ritme masing-masing. Semangat, pasti bisa.”
Meski Aufa mencoba menghibur, Zahra tetap merasa kecil hati. Di depan teman-temannya, ia selalu berusaha terlihat kuat. Namun, di balik itu, ada air mata yang sering tumpah di sajadah setiap malam.
Sore itu, Zahra mendapat kabar dari Ustazah Zakirah, ustazah yang sering menyimak setoran hafalannya. “Zahra, ada surat untukmu,” ujar Ustazah Zakirah sambil tersenyum.
Zahra mengambil surat itu. Dengan hati-hati, ia membuka amplop dan membaca tulisan tangan ibunya:
“Nak, Ibu tahu perjuanganmu tidak mudah. Ibu tahu kamu pasti lelah. Tapi ingatlah, setiap ayat yang kamu hafal, setiap usaha yang kamu lakukan, akan menjadi cahaya yang menerangi jalan hidupmu dan mewujudkan cita-citamu untuk menjadi seorang dokter yang hafizah. Jangan menyerah, Nak. Lelahmu akan menjadi kekuatan jika kamu ikhlas dalam menuntut ilmu.”
📚 Artikel Terkait
Mata Zahra berkaca-kaca. Ia memeluk surat itu erat-erat, lalu membisikkan doa, “Ya Allah, mudahkanlah langkahku hari ini.”
Setiap pagi, Zahra duduk di bawah pohon mangga di halaman pesantren, memegang mushaf kecilnya. Meski sulit, ia mengulang ayat demi ayat dengan penuh kesungguhan. Ketika hafalannya terasa tersendat, ia mengambil jeda sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan lagi.
Tidak hanya itu, Zahra mulai berdiskusi dengan Ustazah Zakirah. “Ustazah, bagaimana caranya agar hafalanku tidak mudah hilang?” tanya Zahra suatu hari.
“Zahra, hafalan itu bukan sekadar mengingat dengan kepala, tetapi juga dengan hati. Bacalah ayat-ayat itu seolah-olah kamu sedang berbicara dengan Allah. Jika kamu merasa lelah, berhenti sebentar dan berdoa. Ingatlah, Allah melihat usahamu,” jawab Ustazah Zakirah.
Kata-kata itu menjadi pegangan Zahra. Kini, setiap kali ia merasa lelah, ia berhenti sejenak, berdoa, lalu melanjutkan hafalannya kembali.
Namun, suatu hari, Zahra menghadapi ujian besar. Pesantren mengumumkan akan ada Mukhoyyam Al-Qur’an, sebuah acara ujian hafalan di depan semua santri. Setiap santri diwajibkan membaca hafalan mereka di depan para pengajar. Zahra merasa gugup. Ia merasa hafalannya masih jauh dari sempurna.
“Bagaimana jika aku lupa di tengah-tengah?” pikirnya dengan cemas.
Malam sebelum ujian, Zahra menangis di atas sajadah. “Ya Allah, aku merasa lelah. Aku takut gagal. Tapi aku ingin mencoba. Tolong kuatkan aku, ya Allah,” doanya penuh harap.
Esok harinya, ketika gilirannya tiba, Zahra maju ke depan. Tangan dan kakinya gemetar. Ia mulai membaca ayat demi ayat, surat demi surat, dengan suara pelan. Namun, di tengah-tengah hafalannya, ia terhenti. Pikirannya mendadak kosong. Ruangan menjadi sunyi.
Zahra menutup matanya, menarik napas panjang, lalu berdoa dalam hati, “Ya Allah, bantulah aku.” Perlahan-lahan, ia melanjutkan hafalannya. Ayat demi ayat dan surat demi surat mengalir hingga akhirnya ia menyelesaikan semuanya.
Tepuk tangan memenuhi ruangan. “Subhanallah, Zahra. Hafalanmu bagus sekali,” kata Ustazah Zakirah dengan senyum bangga.
Malam itu, Zahra merenung di kamar. Ia menulis di buku hariannya, “Hari ini aku belajar bahwa lelah bukanlah tanda kelemahan. Lelah adalah bagian dari perjuangan. Aku lelah, tapi aku kuat, karena aku tahu Allah selalu bersamaku. Setiap langkah kecilku menuju Al-Qur’an adalah langkah menuju rida Allah.”
Sejak hari itu, Zahra menjadi lebih yakin pada dirinya. Setiap kali ia merasa lelah, ia mengingat pesan ibunya, pesan Ustazah Zakirah, dan doa-doanya sendiri. Ia tahu bahwa jalan menuju mimpi tidaklah mudah, tetapi setiap kesulitan adalah bagian dari perjalanan yang akan mendewasakannya.
Kini, Zahra tidak lagi melihat lelah sebagai hambatan. Ia melihatnya sebagai teman yang menguatkannya, sebagai pengingat bahwa perjuangannya adalah ibadah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






