Dengarkan Artikel
Azharsyah Ibrahim*
Belanja online kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Kemudahan mengakses e-commerce, beragam promo menarik, hingga potongan harga besar-besaran, membuat siapa pun tergoda untuk membeli barang, bahkan tanpa perencanaan. Namun, di balik kenyamanan ini, ada fenomena yang perlu kita waspadai.
Pembelian Impulsif.
Pembelian impulsif adalah tindakan membeli barang secara spontan, tanpa pertimbangan matang. Fenomena ini semakin marak di era digital, terutama di Indonesia, yang menjadi salah satu negara pengguna e-commerce terbesar di dunia. Sayangnya, perilaku ini sering kali berdampak buruk, seperti pemborosan, penyesalan setelah belanja, hingga masalah keuangan. Lalu, apa yang sebenarnya memicu perilaku ini, dan bagaimana kita bisa mengendalikannya?
Gaya Hidup Konsumtif dan Godaan Diskon
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama pembelian impulsif adalah gaya hidup konsumtif. Di era media sosial, kita terus-menerus dibombardir oleh iklan, tren, dan ulasan produk yang membuat kita merasa harus memiliki sesuatu agar “tetap relevan”. Belanja tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi cara untuk mencari kesenangan atau bahkan pengakuan sosial.
Selain itu, siapa yang tidak tergoda dengan diskon besar? Promo seperti “flash sale” atau “buy one get one” sering membuat kita merasa harus segera membeli, meskipun barang tersebut sebenarnya tidak kita butuhkan. Diskon menciptakan ilusi bahwa kita sedang “menghemat uang”, padahal kenyataannya, kita justru mengeluarkan uang untuk barang yang tidak esensial.
Pendapatan Tinggi, Belanja Tak Terkendali?
Pendapatan juga memainkan peran penting dalam perilaku belanja impulsif. Orang dengan pendapatan lebih tinggi cenderung merasa lebih bebas untuk membeli barang-barang yang diinginkan, tanpa terlalu memikirkan dampaknya. Namun, ini bukan berarti mereka yang berpenghasilan rendah terbebas dari godaan. Bahkan dengan anggaran terbatas, banyak orang tetap terjebak dalam pola belanja impulsif karena tergiur diskon atau tren.
📚 Artikel Terkait
Religiositas: Pengendali di Tengah Godaan
Penelitian Endah Munawarrah, mahasiswa Ekonomi Syariah, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, menemukan bahwa di tengah godaan belanja impulsif, religiositas dapat menjadi rem yang efektif. Dalam ajaran agama, termasuk Islam, kita diajarkan untuk hidup sederhana, menghindari pemborosan, dan memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan. Individu yang memiliki tingkat religiositas tinggi cenderung lebih mampu mengendalikan dorongan belanja impulsif, karena mereka mempertimbangkan nilai-nilai spiritual dan dampak jangka panjang dari setiap keputusan.
Namun, religiositas saja tidak selalu cukup. Dalam beberapa kasus, meskipun seseorang memiliki pemahaman agama yang baik, godaan belanja tetap bisa menguasai, jika tidak diimbangi dengan kesadaran dan disiplin diri. Hasil penelitian Endah setidaknya menemukan bahwa walaupun religiositas bisa mengerem pembelian impulsif pada orang yang punya pendapatan tinggi dan gaya hidup konsumtif, tetapi tidak dengan godaan diskon.
Mengapa Kita Harus Bijak dalam Berbelanja?
Belanja impulsif mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa sangat merugikan. Dari sisi keuangan, pembelian barang yang tidak direncanakan dapat menguras tabungan dan mengganggu anggaran untuk kebutuhan yang lebih penting. Dari sisi psikologis, kebiasaan ini sering kali menimbulkan rasa bersalah atau penyesalan setelah belanja.
Di era digital ini, kita perlu menjadi konsumen yang lebih cerdas dan bertanggung jawab. Salah satu caranya adalah dengan membuat daftar belanja sebelum membeli sesuatu dan mematuhi daftar tersebut. Selain itu, penting untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jika suatu barang hanya dibeli karena “ingin”, cobalah untuk menunda pembelian selama beberapa hari dan lihat apakah dorongan tersebut masih ada.
Kesimpulan
Belanja online memang menawarkan kenyamanan, tetapi juga membawa tantangan tersendiri, terutama dalam mengendalikan pembelian impulsif. Gaya hidup konsumtif, godaan diskon, dan pendapatan yang tidak terkontrol menjadi faktor utama yang memicu perilaku ini. Namun, religiositas dan kesadaran diri dapat menjadi alat yang efektif untuk mengendalikan dorongan belanja yang tidak perlu.
Sebagai konsumen, kita perlu lebih bijak dalam mengambil keputusan keuangan. Belanja bukanlah sekadar aktivitas untuk memuaskan keinginan sesaat, tetapi juga harus menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan secara rasional. Mari kendalikan kebiasaan belanja kita, agar keuangan tetap sehat dan hidup lebih bermakna.
—
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






