Artikel · Potret Online

Kisah Ustaz Mewujudkan “Masuk Jadi Napi, Keluar Jadi Da’i”

Penulis  Rosadi Jamani
Mei 16, 2026
4 menit baca 12
d684dbec-d4fb-49a7-aa6c-ae32e34a9295
Foto / IlustrasiKisah Ustaz Mewujudkan “Masuk Jadi Napi, Keluar Jadi Da’i”
Disunting Oleh

Oleh Rosadi Jamani

Wak, ini serius, karena malam Jumat sudah lewat. Ini kisah seorang ustaz yang luar biasa. Ustaz yang sukses meng-ihdinashshiratolmustaqiem-kan para napi. Mottonya, masuk jadi napi, keluar jadi da’i. Simak kisahnya sambil seruput Koptagul, wak!

Malam di penjara selalu panjang. Pintu besi ditutup. Bunyinya keras. Menghantam dada. Di sudut-sudut sel, ada manusia yang menatap langit-langit kusam sambil memikirkan hidupnya yang berantakan. Ada yang kehilangan keluarga. Ada yang ditinggalkan istri. Ada anak-anak yang malu mengaku ayahnya seorang napi. Ada ibu yang menangis diam-diam tiap pulang menjenguk.

Di tempat seperti itulah, seorang ustaz datang membawa cahaya.

Namanya KH Kartono. Akrab disapa Abah. Beliau datang bukan untuk menghakimi. Beliau datang untuk memeluk manusia-manusia yang sudah terlalu lama dihukum dunia.

Lebih dari 10 tahun beliau berdakwah di Rumah Tahanan Negara Kelas IIA Pontianak, Jalan Sungai Raya Dalam, Pontianak. Tempat yang sebagian orang takut melintas di depannya.

Namun alumni IAIN Pontianak ini masuk ke sana dengan membawa Al-Qur’an, doa, dan keyakinan, tidak ada manusia yang terlalu kotor untuk disentuh rahmat Allah.

Di negeri ini, kita mudah sekali mencaci orang yang jatuh. Sekali seseorang masuk penjara, cap “sampah masyarakat” langsung ditempelkan tanpa ampun. Padahal kita lupa, banyak orang di luar penjara yang dosanya mungkin lebih rapi saja, lebih wangi saja, lebih pandai memakai dasi dan bahasa hukum.

Ada koruptor yang mencuri uang rakyat sambil tersenyum di baliho besar bertuliskan “Peduli Rakyat”. Ada yang pidato soal moral sambil menyembunyikan kerakusan di balik jas mahal.

Sementara di balik jeruji itu… ada manusia yang diam-diam menangis meminta ampun kepada Tuhan.

Dai asal pedalaman Kalbar ini memilih menemani tangisan itu.

Beliau mendirikan Pondok Pesantren Taubatan Nasuha di dalam penjara. Bukan bangunan mewah. Tidak ada lampu kristal. Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada karpet empuk seperti ruang rapat elite politik yang sering menghasilkan janji sebanyak buih sabun.

Yang ada hanyalah manusia-manusia patah yang ingin belajar kembali menjadi manusia.

Sekitar 60 warga binaan rutin mengikuti kajian. Mereka belajar tauhid, aqidah, fiqih, akhlak, tasawuf, Al-Qur’an Hadis, sampai praktik menjadi imam dan khatib.

Tetapi yang paling menyentuh bukan materinya. Yang paling menyentuh adalah perubahan mereka.

Ada seorang napi yang sebelumnya tidak bisa membaca Al-Qur’an. Saat pertama belajar, terbata-bata membaca huruf hijaiyah seperti anak kecil. Tangannya gemetar. Suaranya pelan. Malu. Merasa terlambat mengenal Tuhan.

Namun hari demi hari ia belajar.

Sampai akhirnya suatu malam ia mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar. Air matanya jatuh di mushaf. Ia menangis seperti anak kehilangan ibunya. Nuan bayangkan itu.

Di dalam penjara… seseorang menemukan ketenangan yang tak pernah ia dapatkan saat bebas.

Ada pula yang sebelumnya emosinya meledak-ledak karena putusan hakim. Marah kepada dunia. Marah kepada hidup. Tetapi perlahan belajar menerima takdir dan belajar bertaubat.

Ada yang dulunya dikenal sebagai pelaku kriminal, kini justru menjadi imam salat bagi sesama warga binaan. Bahkan sudah belasan orang menjadi mualaf di sana. Subhanallah.

Kadang hidayah memang turun bukan di hotel mewah tempat seminar motivasi. Hidayah turun di ruangan sempit, di balik jeruji, di tempat manusia merasa dirinya sudah habis.

Di saat sebagian masyarakat sibuk menertawakan napi, KH Kartono justru melihat kemungkinan lahirnya manusia baru.

Beliau percaya satu hal sederhana, “Masuk penjara sebagai napi, keluar menjadi da’i.”

Kalimat itu terdengar seperti mimpi. Tetapi beliau memperjuangkannya dengan keringat, waktu, tenaga, dan hati yang mungkin berkali-kali ikut terluka melihat kehidupan para warga binaan.

Karena membina orang yang patah itu tidak mudah.

Kadang mereka putus asa. Kadang mereka merasa Allah tak akan mengampuni mereka lagi. Kadang mereka menangis diam-diam di pojok sel ketika mengingat anak dan orang tua mereka.

Di saat itulah, Abah hadir seperti pelita kecil di tengah gelap.

Saya membayangkan betapa banyak doa dari para ibu yang mungkin diam-diam menyebut nama beliau setelah anaknya berubah menjadi lebih baik.

Betapa banyak hati yang kembali hidup karena dakwah sederhana yang dilakukan tanpa pamrih.

Jujur, kisah seperti ini membuat dada sesak.

Karena ternyata di tengah negeri yang riuh oleh politik penuh sandiwara, oleh pejabat yang gemar pencitraan menjelang pemilu, masih ada orang yang benar-benar bekerja untuk menyelamatkan manusia. Bukan menyelamatkan elektabilitas. Tetapi menyelamatkan jiwa.

Mungkin, saat kita sibuk menilai seseorang dari masa lalunya, Allah justru sedang menulis masa depan terbaiknya dari balik jeruji besi.

Foto-foto aktivitas Abah saat membina napi di Lapas

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...