Oleh: Syarifudin Brutu
Lampu neon di langit-langit RUPBASAN berkedip sekarat, seperti napas hukum di negeri ini: hidup segan, mati pun dilarang oleh pasal-pasal karet. Aroma di dalam ruangan itu bukan lagi sekadar debu, tapi bau busuk dari keadilan yang sudah dikalengkan dan kedaluwarsa.
Di sisi utara, area yang mereka sebut “Sektor Ningrat”, berjajar mobil-mobil Rubicon dan Land Cruiser yang bannya masih disemir mengkilap. Di sana juga ada deretan jam tangan Rolex yang masih berdetik angkuh, seolah-olah waktu bagi pemiliknya—para pencuri uang rakyat—memang berjalan lebih lambat dan lebih nikmat.
Lalu, pintu besi raksasa berderit. Sesosok benda dilemparkan tanpa perasaan ke lantai semen yang kasar, tepat di “Sektor Remah-Remah”.
Dia adalah sebuah Sony A7S III. Bodinya lecet, penutup lensanya hilang entah ke mana. Dia mendarat di depan sebuah Gerobak Cilok yang rodanya sudah karatan dan sebuah Joran Pancing yang talinya bundet.
“Selamat datang di tempat pembuangan akhir akal sehat, Anak Muda,” sapa si Gerobak Cilok, suaranya serak seperti gesekan besi tua. “Kasus apa? Video bokep yang diperankan oknum berseragam? Atau video rahasia pejabat lagi pesta sabu?”
Si Kamera terbatuk, sensornya mencoba fokus di kegelapan. “Bukan. Pemilikku membuat video profil desa. Sinematik. Ada transisi halus, ada color grading yang cantik, ada jiwa di dalamnya.”
Tawa pecah di sektor itu. Bukan tawa bahagia, tapi tawa sarkas yang sanggup merobek telinga.
“Tiga puluh juta!” si Kamera berteriak membela diri. “Itu harga yang murah untuk sebuah karya intelektual! Tapi mereka datang membawa kalkulator rongsok dari zaman batu. Mereka bilang harga wajarnya cuma dua puluh empat juta seratus enam puluh satu perak.
Mereka menghitung kreativitas seperti menghitung butiran pasir di proyek pengurukan pantai!”
“Hahaha! Klasik!” sahut sebuah Pistol Glock yang tergeletak di rak bukti kejahatan kekerasan. “Aku di sini karena melubangi dada orang. Itu jelas dosanya.
Tapi kau? Kau di sini karena selisih harga enam juta? Enam juta itu bahkan tidak cukup untuk biaya makan siang sekali duduk para tikus di gedung perwakilan rakyat itu!”
“Di negeri ini,” timpal sebuah Tas Hermès dari Sektor Ningrat dengan nada tinggi yang meremehkan, “mencuri itu harus besar. Triliunan. Biar kalian bisa menyewa pengacara yang mulutnya lebih licin dari belut, lalu kalian bisa bebas dengan alasan ‘khilaf’.
Kalau cuma selisih enam juta karena ide, ya kalian itu cuma sampah administrasi. Masuknya pasal korupsi, tapi martabatnya lebih rendah dari maling jemuran.”
Tiba-tiba, dari kegelapan sudut lain, terdengar suara denting logam. Sebuah Spatula Stainlessyang tampak masih baru merayap mendekat.
“Tenanglah, Kamera,” ucap si Spatula lesu. “Besok atau lusa, aku akan punya teman baru di sini. Kabarnya, seorang Koki Nasional akan masuk karena dituduh merugikan negara.
Masalahnya sepele: dia pakai garam impor kualitas premium buat jamuan kenegaraan, padahal di standar anggaran hanya boleh pakai garam grosiran yang rasanya pahit. Dia dianggap melakukan ‘Mark-up Rasa’.”
“Gila!” si Kamera bergetar hebat. “Lalu siapa lagi? Nelayan? Penulis?”
“Lihat itu,” si Gerobak Cilok menunjuk ke sebuah sudut yang lebih gelap. Di sana ada sebuah Pena Parker yang tintanya sudah kering. “Itu milik seorang penulis.
Dia menulis kritik tentang kebijakan ‘impor oksigen’ tahun lalu. Dia tidak korupsi uang, tapi dia dianggap korupsi ‘ketenangan negara’. Pasal karetnya bilang: tintanya mengandung zat provokasi yang merusak keharmonisan imajinasi publik.”
“Ini bukan lagi soal hukum,” si Kamera mulai menangis, minyak lensa menetes dari pinggirannya. “Ini adalah pemerkosaan terhadap profesi.
Bagaimana mungkin seorang videografer dipenjara karena karyanya dinilai terlalu mahal oleh orang yang bahkan tidak tahu cara menyalakan kamera? Bagaimana mungkin negara ini tega memenjarakan orang yang bekerja jujur sesuai jurusannya?”
“Karena di negara ini, kejujuran adalah komoditas yang tidak laku di bursa efek birokrasi,” sahut si Joran Pancing. “Mereka ingin kita semua jadi robot.
Videografer harus bikin video seperti CCTV, kaku dan buram. Penulis harus menulis seperti mesin ketik kelurahan, membosankan dan menjilat. Nelayan harus memancing sesuai instruksi, meski ikannya sudah punah dimakan limbah perusahaan tambang milik sepupu pejabat.”
Tiba-tiba, suara langkah sepatu laras panjang terdengar dari luar. Pintu besi terbuka sedikit. Cahaya masuk, menyinari lensa si Kamera yang kini retak.
“Dengar,” bisik si Gerobak Cilok sebelum pintu ditutup kembali. “Vonis bebas bagi pemilikmu itu cuma formalitas untuk menenangkan massa. Tapi sistemnya?
Sistemnya masih haus darah. Hari ini kamera, besok mungkin cangkul petani yang dituduh melukai tanah negara. Di sini, siapapun yang punya ‘nyawa’ dalam pekerjaannya akan dianggap musuh oleh mereka yang hanya punya ‘angka’ di kepalanya.”
Pintu terbanting menutup. Brak!
Kegelapan kembali berkuasa. Di dalam RUPBASAN, barang-barang sitaan itu mulai berbisik lagi, menyusun arisan karat. Mereka menunggu kawan baru—mungkin seorang arsitek yang dituduh korupsi karena membangun gedung dengan estetika yang dianggap “melampaui kebutuhan rakyat”, atau mungkin seorang penyair yang pulsanya disita karena puisinya terlalu panjang dan memakan kuota server negara.
Di negeri Konoha-Plus ini, keadilan bukan lagi timbangan, tapi sebuah mesin giling yang hanya melumat mereka yang kecil, yang jujur, dan yang punya selera.
















