Oleh Teuku Masrizar
Tentu saya tidak punya kapasitas meggulik sejarah dan budaya Trumon secara mendalam, sebagai salah satu entitas perdaban sejarah penting di Aceh. Karena bukan sejarawan dan hanya mendapatkan informasi secara *folklor* dan secara turun-temurun tentang kejayaannya.
Tidak terlalu banyak ditemukan referensi dan artikel tentang sejarah Trumon. Bisa jadi karena letaknya yang jauh dari pusat kerajaan Aceh Darussalam dan juga belum banyak sejarawan yang menaruh perhatian serius untuk ⁸menggalinya. Tapi tentu saja akan menjadi penting bila dilihat Trumon sebagai salah satu dari 9 wilayah kerajaan Aceh Darussalam.
Artikel ini sekelumit dari konteks kekinian yang menjadi sentilan saya, pastinya tidak tentang sejarah besar dan kejayaannya yang selalu jadi kebanggaan saya.
Laqab “Teureumon” _trueng bineh mon_ (terung dekat sumur), wujud dari sebuah negeri makmur dengan tanah yang subur, air melimpah serta aneka hasil bumi, kapur, damar, rambong (karet), lada dan tanaman musiman lainnya. Sehingga dikonotasikan sebuah wilayah makmur yang digambarkan dengan sebuah sumur airnya bersih jernih dan terong yang tumbuh subur dan berbuah di sampingnya.
Berpusat pemerintahan dekat bibir pantai samudra Indonesia, kerajaan Trumon sudah pasti menjadi tempat persinggahan para musafir untuk berdagang, pengembangan Islam dan membangun hubungan diplomatik.
Ditopang dua armada kapal kerajaan Laxami dan Dyana semakin menegaskan Trumon memiliki jaringan luas dalam ekspor-impor dengan negeri-negeri dan wilayah lainnya. Selain kemajuan di bidang pertanian dan perdagangan Trumon juga memiliki kemajuan di bidang moneter dan keuangan, dibuktikan dengan adanya mata uang sendiri sebagai alat tukar.
Samudera indonesia sebagai salah satu jalur perdagangan penting bagi pedagang dari Eropa, Amerika, Arab dan China. Sehingga letak strategis Trumon ini menjadi penting dalam dinamika perdagangan regional dan international.
Karenanya dalam catatan sejarah disebutkan banyak pedagang singgah untuk menjajakan dagangannya.
Kerajaan Trumon maju pesat pada waktunya, bukan hanya sektor pertanian dan perdagangan, tetapi juga pemerintahan, budaya dan sosial kemasyarakatan. Kemajuan ini ditandai dengan proses migrasi beberapa suku ke Trumon, sebut saja Naca (Nagari Chaniago) sebuah kampung dalam wilayah negeri Trumon yang ditabalkan bermukimnya suku Minang. Naca dikenal dalam seni beladiri _Silek Harimau_
Saya menduga para pedagang dari Eropa dan America sering berdagang dan bermalam di Negeri Trumon. Selain berdagang tentu saja kapal akan ditambatkan dan mengisi stok air untuk perjalanan berikutnya. Di saat malam tiba mata para pedagang disuguhkan keindahan purnama yang menyinari butiran pasir keperakan di lantai permadani pantai yang memanjang, elok nan indah. Takjub melihat keindahan alamiah di bawah cahaya *Truemoon* (bulan sejati/penuh).
Kini Trumon secara administrasi telah membelah diri menjadi tiga Kecamatan dalam Kabupaten Aceh Selatan. Secara budaya, adat dan sosial kemasyarakatan tetap budaya dan adat istiadat Trumon walau sedikit terjadi akulturasi budaya sesuai perkembangan zaman.
Perkembangan ekonomi semakin maju walau kapur, lada, damar dan karet telah berganti jadi komoditi sawit. Kini rumah warga bukan dinding dan atap pelepah rumbia, telah berubah seng dan beton, anak-anak Trumon telah belajar di berbagai perguruan tinggi, relatif beberapa depan rumah warga terlihat kenderaan roda empat serta sejumlah kemajuan ekonomi lainnya.
Namun tentu kamajuan dan kemakmuran harus dirawat agar terus berlanjut. Merawatnya tentu saja tidak semudah membalikkan tangan, merawatnya harus memastikan sumberdaya dapat dikelola secara berkelanjutan. Cukup sudah contoh dan pengalaman kita akibat eksploitasi sumberdaya yang tidak memperhatikan berkerlanjutan yang berujung dengan bencana.@#
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini













